Breaking

Sebut Saham PRDL Mengalami Oversubscribed 709 Kali Saat Melantai di BEI

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Jumat, 10 Juli 2026
Sebut Saham PRDL Mengalami Oversubscribed 709 Kali Saat Melantai di BEI
ILUSTRASI, Saham PRDL mencatat oversubscribed hingga 709 kali saat IPO di Bursa Efek Indonesia. (Sumber Gambar : Net)

JAKARTA – Arahan langsung dari sosok pendiri Prodia Group, Andi Wijaya (90), mendorong jajaran manajemen PT Prodia Diagnostic Line Tbk. (PRDL) atau Proline untuk memacu seluruh rangkaian persiapan melantai di bursa saham hanya dalam jangka waktu 6 bulan saja.

Direktur Utama Prodia Diagnostic Line, Cristina Sandjaja, membeberkan bahwa proses penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham PRDL bergulir secara tiba-tiba usai dirinya memperoleh perintah khusus pada awal tahun ini. Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Pak Andi baru memberikan arahan ke saya pada 16 Januari 2026. Ia meminta perusahaan untuk IPO tahun ini. Saya sempat menawar agar ditunda tahun depan, tetapi ia menegaskan harus tahun ini selagi ia masih ada," ungkap Cristina ketika diwawancarai di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI).

Usai memperoleh mandat itu, Cristina segera mengambil langkah cepat dengan mengonsolidasikan tim internalnya. 

Berjarak dua minggu saja sejak instruksi tersebut diberikan, perusahaan langsung menetapkan underwriter (penjamin emisi efek) serta menyelenggarakan agenda rapat perdana bersama segenap profesi penunjang pasar modal pada 25 Januari 2026.

Percepatan performa kerja tersebut membuat rancangan prospektus gelombang pertama selesai dalam kurun dua bulan. 

Pihak manajemen tidak menampik bahwa seluruh tim mesti merelakan waktu istirahat mereka dan berjuang keras tanpa jeda demi memenuhi tenggat legalitas serta urusan finansial. 

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, “Perjalanan Proline dalam mempersiapkan IPO ini selama 6 bulan sangat luar biasa. Kami bekerja tanpa henti, siang dan malam, bahkan sering kali hingga subuh. Hari Sabtu dan Minggu tidak pernah terlewat untuk koordinasi,” kata Cristina mengenang momen tersebut.

Langkah meluncurkan PRDL ke pasar perdana terasa semakin penuh tantangan lantaran situasi pasar modal pada sepanjang semester pertama tahun 2026 sedang berada dalam kondisi fluktuasi yang tinggi. 

Di samping faktor makroekonomi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama pihak bursa pun mengimplementasikan mekanisme penyaringan yang jauh lebih ketat untuk para calon emiten yang baru.

Perusahaan juga harus berhadapan dengan dinamika pemenuhan regulasi, salah satunya yaitu penyesuaian regulasi ambang batas minimal saham publik (free float) yang sempat mengemuka seiring bergulirnya evaluasi indeks global MSCI. 

Walakin, segala hambatan tersebut pada akhirnya sanggup dilewati dengan optimal hingga perusahaan memperoleh pernyataan efektif.

Pengorbanan dan kerja keras itu pun membuahkan hasil manis. Kendati situasi pasar sedang naik turun, saham PRDL justru menorehkan pencapaian gemilang lewat kelebihan pemesanan (oversubscribed) hingga 709 kali pada bagian penjatahan terpusat. 

Jajaran manajemen menghimpun data bahwa besarnya minat pemesanan dari kelompok investor ritel dalam negeri ini menjadi salah satu yang paling tinggi dalam rekam jejak sejarah IPO di tanah air.

Cristina mengutarakan bahwa kesuksesan ini menjadi bukti konkret kalau pasar saham di Indonesia tetap memiliki gairah tinggi serta membutuhkan instrumen investasi yang baru, terkhusus bagi korporasi yang memperlihatkan fundamental kuat beserta transparansi tata kelola (good corporate governance/GCG) secara konsisten dalam kurun tiga tahun ke belakang. 

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Oleh karena itu, seleksi ketat dari regulator sebenarnya membuat investor di Indonesia bisa lebih lega karena perusahaan yang berhasil lolos IPO dipastikan sudah tersaring dengan sangat baik," ujarnya menutup pembicaraan.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua