Breaking

Margin Kalbe Farma Terancam Rupiah Lemah, Saham KLBF Masih Menarik

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Jumat, 10 Juli 2026
Margin Kalbe Farma Terancam Rupiah Lemah, Saham KLBF Masih Menarik
ILUSTRASI, Saham PT Kalbe Farma Tbk tetap menarik meski margin tertekan akibat rupiah melemah. (Sumber Gambar : Net)

JAKARTA – Prospek saham PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) hingga akhir tahun 2026 dinilai tetap menarik untuk dikoleksi, walaupun penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi bakal menekan margin keuntungan perusahaan farmasi tersebut. Sejumlah analis tetap mempertahankan rekomendasi buy lantaran fundamental perseroan dianggap masih kokoh serta mempunyai beragam katalis pertumbuhan.

Tekanan utama bersumber dari besarnya ketergantungan Kalbe pada bahan baku impor, khususnya active pharmaceutical ingredients (API). 

Penurunan nilai mata uang rupiah diperkirakan menaikkan biaya impor, yang berpotensi memangkas margin laba. Kendati demikian, efeknya dipercaya belum akan berdampak besar dalam waktu dekat karena perseroan masih mempunyai stok bahan baku yang cukup melimpah.

Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su menyampaikan bahwa pelemahan rupiah berpeluang menaikkan biaya impor bahan baku obat. Akan tetapi, Kalbe mempunyai penahan berupa persediaan barang yang bisa meredam tekanan tersebut. "Namun, terdapat inventory buffer yang dapat mengoffset tekanan tersebut dalam jangka pendek," ujar Harry, Kamis (9/7/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Senada dengan hal itu, Equity Research Analyst OCBC Sekuritas Jessica Leonardy mengungkapkan bahwa sekitar 50% eksposur valuta asing Kalbe memakai dolar AS. 

Berdasarkan perhitungan sensitivitas dari manajemen, tiap pelemahan Rp100 terhadap dolar AS berpeluang memotong gross profit margin (GPM) berkisar 0,1%. Walau begitu, tekanan pada biaya produksi diprediksi baru akan terasa lebih berat pada semester II-2026. 

Kalbe masih menyimpan stok bahan baku sekitar 120 hari atau setara empat bulan, sehingga sanggup menahan efek kenaikan harga impor untuk beberapa waktu ke depan.

Jessica juga menambahkan bahwa API serta bahan kemasan berkontribusi sekitar 70%–75% dari biaya produksi atau berkisar 35% dari total harga pokok penjualan (COGS).

Demi menekan risiko tersebut, Kalbe meningkatkan persediaan bahan baku sekaligus mendiversifikasi sumber pasokan barang mereka.

Dalam laporan risetnya, OCBC Sekuritas memperkirakan margin keuntungan kotor Kalbe menyusut menjadi sekitar 38% pada 2026 lantaran kenaikan harga API, utamanya pada produk parasetamol dan obat pencernaan, serta pelemahan rupiah yang melambungkan biaya impor. 

Selain faktor bahan baku, lonjakan harga minyak juga diprediksi mengerek biaya distribusi. Namun, pihak manajemen berpendapat kenaikan biaya logistik tersebut masih bisa dikendalikan.

Guna mempertahankan tingkat profitabilitas, Kalbe menerapkan sejumlah strategi, mulai dari menaikkan harga produk Consumer Health dan Nutrisi secara selektif, melakukan diversifikasi mata uang pembayaran untuk kegiatan impor, hingga mendongkrak efisiensi operasional lewat pengendalian beban penjualan, umum, dan administrasi (SG&A).

Di sisi lain, celah untuk menaikkan harga jual masih terbatas pada sektor obat-obatan, baik untuk kategori generik bermerek maupun generik tanpa merek. 

Hal tersebut dipengaruhi oleh proses negosiasi harga dengan pihak rumah sakit yang masih tergolong ketat, walau pemerintah sudah melonggarkan aturan terkait penetapan harga.

Situasi serupa dialami oleh segmen Consumer Health. Sementara pada lini bisnis Nutrisi, Kalbe terus merapikan portofolio produknya dengan memprioritaskan produk-produk yang mencatatkan pertumbuhan lebih tinggi serta sejalan dengan tren gaya hidup sehat konsumen, seperti Fitbar, Hydro Coco, dan juga susu premium Morinaga. 

Produk-produk ini memberikan ruang yang lebih luas untuk menaikkan harga, sehingga secara konsolidasi bisa memicu kenaikan rata-rata harga jual (average selling price/ASP) berkisar 5% secara tahunan.

Masa depan bisnis Kalbe juga ditopang oleh beberapa katalis positif. Inflasi yang senantiasa terjaga serta peluang turunnya suku bunga dianggap dapat mendongkrak daya beli masyarakat, sehingga mampu menyokong permintaan produk kesehatan serta nutrisi. 

Di samping itu, bertumbuhnya kesadaran publik mengenai preventive healthcare, peluncuran produk baru, dan penguatan merek di kalangan Generasi Z diproyeksikan menjadi motor penggerak pertumbuhan penjualan perusahaan.

Dari sisi kinerja keuangan, OCBC Sekuritas memperkirakan pendapatan Kalbe akan menembus Rp 37,92 triliun pada 2026, atau meningkat 7,3% secara tahunan dari realisasi tahun 2025 yang sebesar Rp 35,32 triliun. 

Laba bersih diproyeksikan tumbuh lebih landai menjadi Rp 3,75 triliun atau naik berkisar 2,2% jika dibandingkan dengan perolehan Rp 3,67 triliun pada tahun sebelumnya.

Di tengah situasi penuh tekanan tersebut, mayoritas analis terpantau masih optimistis melihat prospek saham KLBF. Samuel Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi buy dengan target harga di angka Rp 1.000 per saham.

OCBC Sekuritas pun senada memberikan rekomendasi buy, meskipun mereka memotong target harga ke level Rp 1.000 per saham. Sementara itu, Ciptadana Sekuritas memberikan rekomendasi hold dengan target harga di posisi Rp 820 per saham.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua