JAKARTA - Menjelang penghujung 2025, perhatian pasar global tertuju pada dinamika mata uang Asia yang semakin mencolok.
Pergerakan ini tidak semata akibat pelemahan dollar AS, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor domestik masing-masing negara, mulai dari kebijakan suku bunga, arus modal, hingga perdagangan emas yang booming.
Di antara mata uang Asia, baht Thailand dan ringgit Malaysia muncul sebagai kandidat utama yang mencatat penguatan signifikan sepanjang 2025, meski posisi terkuat bisa berbeda tergantung periode pengukuran.
Baca Juga
Baht Thailand: Dorongan Perdagangan Emas dan Intervensi Pemerintah
Sepanjang 2025, baht Thailand menguat sekitar 10 persen terhadap dollar AS, mencapai level tertinggi lebih dari empat tahun.
Pejabat Kementerian Keuangan Thailand, Lavaron Sangsnit, menyampaikan pemerintah sedang meninjau pengenaan pajak bisnis untuk perdagangan emas melalui platform online dan membatasi volume transaksi, sebagai respons atas penguatan baht yang tajam.
Gubernur Bank of Thailand, Vitai Ratanakorn, menekankan penguatan baht tidak sejalan dengan fundamental, sehingga intervensi dilakukan untuk mengurangi volatilitas, tanpa menetapkan target nilai tukar tertentu.
Dampak Penguatan Baht terhadap Ekonomi dan Strategi Stabilitas
Penguatan baht memiliki sisi positif, yakni mencerminkan kepercayaan pasar dan aliran modal masuk.
Namun bagi Thailand, yang mengandalkan ekspor, mata uang yang terlalu kuat dapat menekan daya saing produk, menambah tantangan ekonomi di tengah beban utang rumah tangga dan ketidakpastian politik.
Respons pemerintah meliputi intervensi pasar dan pengawasan ketat pada perdagangan emas serta arus modal tertentu, termasuk wacana pembatasan volume transaksi emas online untuk menahan tekanan penguatan.
Ringgit Malaysia: Reformasi Fiskal dan Sentimen Positif
Berbeda dengan baht yang sensitif terhadap perdagangan emas, ringgit Malaysia banyak dipengaruhi oleh kombinasi reformasi fiskal, kebijakan moneter, dan sentimen regional yang membaik.
Reuters mencatat posisi long meningkat pada beberapa mata uang Asia, termasuk ringgit, yang menguat 8,8 persen year-to-date, kinerja terkuat sejak 2017, didukung fundamental, ekspor, dan investasi domestik.
Kebijakan moneter yang ketat, didukung oleh reformasi fiskal, membuat ringgit lebih atraktif di mata pasar, meski penilaian mata uang paling kuat tetap bergantung pada titik waktu pengukuran dan sumber data.
Faktor Global dan Pergerakan Mata Uang Asia Lainnya
Selain baht dan ringgit, pergerakan dollar AS tetap menjadi faktor utama.
Dollar AS melemah di tengah ketidakpastian arah pemangkasan suku bunga The Fed dan berbagai faktor kebijakan, sementara pasar Asia bergerak dalam suasana akhir tahun yang ramai aktivitas perdagangan.
Mata uang lain, seperti dollar Singapura, yuan, dan won, mengalami penguatan selektif, sedangkan rupiah cenderung fluktuatif, mengikuti pergerakan dollar AS dan fokus pasar pada data ekonomi global serta proyeksi kebijakan moneter.
Respons Kebijakan dan Implikasi Stabilitas
Penguatan baht menuntut pemerintah menyeimbangkan kepentingan menjaga stabilitas pasar dan melindungi sektor riil, terutama ekspor.
Di Thailand, respons terbagi dua: stabilisasi pasar melalui intervensi, dan pengurangan tekanan penguatan dari perdagangan emas, termasuk wacana pajak online dan pembatasan volume transaksi.
Di Malaysia, narasi ringgit lebih menekankan dukungan domestik melalui reformasi fiskal dan kebijakan moneter yang solid, membuat posisi ringgit lebih atraktif, meski tetap dipengaruhi faktor global seperti dolar AS dan suku bunga The Fed.
Kesimpulan: Persaingan Baht dan Ringgit di Asia Tahun 2025
Hingga akhir 2025, peta mata uang terkuat di Asia cenderung fokus pada baht Thailand dan ringgit Malaysia.
Posisi teratas keduanya bisa berbeda tergantung periode pengukuran dan sumber data yang dikutip media, dengan baht sensitif terhadap aktivitas emas dan ringgit lebih stabil karena dukungan domestik.
Cerita penguatan ini menunjukkan bagaimana stabilitas, daya saing, dan respons kebijakan saling terkait dalam menjaga kesehatan ekonomi masing-masing negara, mencerminkan kompleksitas pasar mata uang Asia di tahun 2025.
Celo
Insiderindonesia.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Panduan Lengkap Membuat Teh Susu Nikmat dan Tetap Menyehatkan Tubuh
- Selasa, 20 Januari 2026
Park Seo Joon Ceritakan Pengalaman Hidup dan Pandangannya Soal Pernikahan
- Selasa, 20 Januari 2026
Khasiat Daun Kelor untuk Tubuh Sehat Optimal dan Kehidupan Lebih Berkualitas
- Selasa, 20 Januari 2026
Gibran Dorong Inovasi Kreatif dan Pemberdayaan Masyarakat Tasikmalaya Lebih Maksimal
- Selasa, 20 Januari 2026
Berita Lainnya
Park Seo Joon Ceritakan Pengalaman Hidup dan Pandangannya Soal Pernikahan
- Selasa, 20 Januari 2026
Khasiat Daun Kelor untuk Tubuh Sehat Optimal dan Kehidupan Lebih Berkualitas
- Selasa, 20 Januari 2026
Menhan Sjamsoeddin Soroti Pentingnya Peran BSSN Dalam Pertahanan Digital Nasional
- Selasa, 20 Januari 2026
Gibran Dorong Inovasi Kreatif dan Pemberdayaan Masyarakat Tasikmalaya Lebih Maksimal
- Selasa, 20 Januari 2026
Terpopuler
1.
Biaya Balik Nama Motor Bekas 2026 Termasuk Pajak Lengkap
- 20 Januari 2026
2.
DBS Hadirkan Kalkulator Pensiun Dorong Perencanaan Keuangan Dini
- 20 Januari 2026
3.
Bursa CFX Prediksi Industri Kripto Tetap Tumbuh Positif 2026
- 20 Januari 2026
4.
OJK Terbitkan Aturan Gugatan Demi Perlindungan Konsumen Keuangan
- 20 Januari 2026
5.
BGN Klaim Kasus Keracunan MBG Menurun Namun Belum Nol
- 20 Januari 2026








