Proyeksi Harga Nikel 2026 Tembus US$25.000 per Ton Setelah Pemangkasan Produksi
- Rabu, 21 Januari 2026
JAKARTA - Harga nikel global diperkirakan akan mengalami lonjakan signifikan pada tahun 2026, dengan proyeksi harga mineral ini mencapai level US$25.000 per ton.
Kenaikan harga ini didorong oleh langkah Indonesia yang berencana memangkas produksi bijih nikel untuk tahun tersebut.
Meskipun keputusan resmi terkait pemangkasan ini belum diumumkan, sejumlah analis percaya bahwa langkah ini dapat mempengaruhi pasar nikel global secara signifikan.
Baca JugaTarif Listrik PLN Januari 2026 Tetap Stabil, Simak Informasinya
Indonesia, yang saat ini menguasai lebih dari 50% pasokan nikel dunia, berencana mengurangi produksi bijih nikel pada 2026 menjadi sekitar 250 hingga 260 juta ton.
Angka ini lebih rendah dibandingkan dengan target produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2025 yang diperkirakan mencapai 379 juta ton.
Langkah ini dipandang sebagai upaya strategis pemerintah Indonesia untuk menyeimbangkan pasokan dan permintaan global serta mendorong harga nikel yang tertekan.
Proyeksi Harga Nikel Tembus Angka Tertinggi
Analis dari Traderindo, Wahyu Tri Laksono, mengungkapkan bahwa rencana pemangkasan produksi nikel ini sudah menjadi perhatian besar pasar. Menurutnya, pemangkasan pasokan dari Indonesia akan memaksa harga nikel naik, karena Indonesia merupakan pemain utama dalam industri nikel global.
Pada saat ini, harga nikel sudah berada di kisaran US$18.000 per ton, naik signifikan dibandingkan dengan akhir 2025 yang tercatat hanya sekitar US$14.000 hingga US$15.000 per ton.
Wahyu memproyeksi harga nikel dapat terus meningkat dalam waktu dekat. Dalam jangka pendek, dia memperkirakan harga bisa mencapai US$20.000 per ton.
Faktor utama yang akan menentukan pergerakan harga nikel adalah kejelasan RKAB untuk tahun 2026, yang hingga kini masih belum diumumkan. Jika dalam waktu dua minggu ke depan RKAB belum terbit, harga nikel diperkirakan akan melonjak melampaui angka US$18.000 per ton.
Pemangkasan Produksi dan Dampaknya Pada Industri
Pemangkasan produksi yang direncanakan oleh Indonesia akan mempengaruhi keseimbangan pasar nikel global, terutama mengingat peran Indonesia yang sangat dominan dalam industri ini.
Wahyu Tri Laksono menegaskan bahwa pengurangan pasokan dari Indonesia sebagai negara pemegang lebih dari 50% pangsa pasar nikel dunia akan membuat harga mineral ini naik.
"Pengurangan pasokan ini akan memaksa harga naik untuk menjaga keberlangsungan industri," ujar Wahyu.
Namun, meskipun pemangkasan produksi dapat mendongkrak harga nikel, ada beberapa dampak yang perlu diperhatikan. Salah satunya adalah peningkatan ketergantungan smelter domestik Indonesia pada impor bijih nikel dari negara lain, terutama Filipina.
Hal ini dapat berisiko meningkatkan biaya produksi smelter di dalam negeri. Implikasi lainnya adalah kemungkinan dampak terhadap pasar baterai, khususnya bagi industri kendaraan listrik (EV).
Implikasi Jangka Panjang Pemangkasan Produksi Nikel
Jika harga nikel melonjak terlalu tinggi akibat pemangkasan produksi ini, produsen kendaraan listrik dapat semakin beralih menggunakan baterai berbahan dasar Lithium Iron Phosphate (LFP) yang tidak mengandung nikel.
Hal ini bisa mengancam permintaan terhadap nikel dalam jangka panjang. Wahyu Tri Laksono mengingatkan bahwa meskipun kenaikan harga nikel dapat memberikan keuntungan bagi produsen, pasar baterai EV yang semakin beralih ke LFP bisa mengurangi permintaan nikel ke depannya.
Selain itu, ada risiko bahwa tingginya harga nikel dapat memperlambat adopsi kendaraan listrik, karena komponen baterai yang menggunakan nikel menjadi lebih mahal.
Dengan semakin banyaknya produsen yang beralih ke bahan baku baterai yang lebih murah seperti LFP, Indonesia sebagai penghasil utama nikel akan menghadapi tantangan besar dalam menjaga permintaan terhadap nikel.
Potensi Kestabilan Harga dan Kebijakan Pemerintah
Meskipun ada risiko jangka panjang terkait pemangkasan produksi dan dampaknya pada industri baterai EV, Wahyu Tri Laksono memperkirakan bahwa harga nikel akan tetap stabil pada level tinggi sepanjang 2026.
"Jika RKAB untuk tahun 2026 akhirnya terbit dengan kuota produksi yang dipangkas, harga nikel akan stabil di level tinggi," katanya.
Secara keseluruhan, proyeksi harga nikel yang mencapai US$25.000 per ton pada 2026 menggambarkan dampak besar dari kebijakan pemangkasan produksi yang dilakukan Indonesia.
Meskipun langkah ini dapat meningkatkan harga nikel dalam jangka pendek, dampak jangka panjangnya terhadap pasar EV dan biaya produksi di dalam negeri perlu diperhatikan dengan serius.
Kebijakan pemerintah Indonesia yang mengatur produksi nikel akan terus menjadi faktor kunci yang mempengaruhi harga mineral ini di pasar global. Oleh karena itu, para pelaku industri harus memantau perkembangan kebijakan ini dengan seksama untuk menyesuaikan strategi mereka ke depan.
Celo
Insiderindonesia.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Kenali Fakta Epilepsi yang Tidak Menular dan Cara Pertolongan Yang Tepat
- Rabu, 21 Januari 2026
Rasakan Kenikmatan Bakso Malang Hangat dengan Harga Bersahabat di Kantong
- Rabu, 21 Januari 2026
Berita Lainnya
Kenali Fakta Epilepsi yang Tidak Menular dan Cara Pertolongan Yang Tepat
- Rabu, 21 Januari 2026
Rasakan Kenikmatan Bakso Malang Hangat dengan Harga Bersahabat di Kantong
- Rabu, 21 Januari 2026
Terpopuler
1.
2.
ASUS Hentikan Bisnis Smartphone dan Fokus pada AI serta PC
- 21 Januari 2026
3.
4.
Jus Jeruk Membantu Menjaga Kesehatan Jantung, Begini Caranya
- 21 Januari 2026
5.
Amankah Merendam Teh dalam Susu Semalaman? Ini Penjelasannya
- 21 Januari 2026








