Menteri Energi AS Kritik Keras Target Nol Emisi Karbon 2050: Sebut Sebagai Tujuan Mengkhawatirkan
- Selasa, 18 Februari 2025
Jakarta — Menteri Energi Amerika Serikat, Chris Wright, telah mengekspresikan pandangannya yang kontroversial mengenai target nol emisi karbon bersih pada tahun 2050.
Dalam konferensi yang digelar di London baru-baru ini, Wright menyatakan bahwa upaya mencapai tujuan tersebut merupakan langkah yang “seram” dan “mengkhawatirkan.” Komentarnya ini mengundang perhatian banyak pihak, terutama di tengah upaya global untuk memerangi perubahan iklim, Selasa, 18 Februari 2025.
Wright, berbicara melalui sambungan video dalam konferensi Alliance for Responsible Citizenship, dengan tegas mengkritik peta jalan pemerintah AS dan Inggris dalam pencapaian energi bersih. "Net Zero 2050 adalah tujuan yang jahat. Ini adalah tujuan yang mengerikan," ujar Wright, seperti yang dilaporkan Reuters pada Senin, 17 Februari 2025. “Pengejaran yang agresif terhadap hal ini - dan Anda berada di negara yang secara agresif mengejar tujuan ini - tidak memberikan manfaat apa pun, tetapi justru menimbulkan biaya yang sangat besar.”
Pernyataan ini muncul di tengah kebijakan pemerintahan Presiden Joe Biden yang menargetkan AS untuk mencapai nol emisi bersih pada 2050. Pemerintah AS kini telah memberlakukan berbagai subsidi untuk mempercepat adopsi energi bersih dan kendaraan listrik, dengan harapan bisa menekan dampak perubahan iklim secara signifikan.
Wright, bagaimanapun, menyoroti ketergantungan dunia pada hidrokarbon yang menurutnya masih belum tergantikan. “Dunia hanya berjalan dengan hidrokarbon dan untuk sebagian besar penggunaannya, tidak ada penggantinya,” katanya. Menurutnya, pemerintah seharusnya mengambil langkah mundur dari produksi minyak, gas, dan batu bara.
Kritik Wright juga tertuju kepada Inggris, yang menurutnya kebijakan menuju sistem energi tanpa karbon hanya merusak standar hidup masyarakat dan memindahkan emisi karbon ke negara lain. Inggris menargetkan untuk mengoperasikan sistem energi tanpa karbon pada 2030. "Ini bukan transisi energi. Ini adalah kegilaan. Ini adalah pemiskinan warga negara Anda sendiri dalam khayalan bahwa hal ini entah bagaimana akan membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik," ungkap Wright dengan tegas.
Wright tidak sendiri dalam memberi kritik terhadap kebijakan energi Inggris. Sebelumnya, saat berbicara sebelum pelantikannya sebagai presiden, Donald Trump juga mengkritik kebijakan energi Inggris, mendesak negara tersebut untuk kembali membuka cekungan minyak dan gas di Laut Utara dan mengurangi ketergantungan pada pembangkit listrik tenaga angin.
Namun, di sisi lain, pemerintahan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer telah menempatkan energi bersih sebagai pusat strategi energi mereka. Pemerintah Inggris berkomitmen untuk menerapkan lebih banyak proyek energi terbarukan seperti sumber daya angin lepas pantai sebagai upaya menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
Di Amerika, di bawah pemerintahan Trump sebelumnya, telah terjadi persetujuan ekspor gas alam cair untuk proyek LNG di Louisiana pada Jumat (14/2), yang menandai akhir dari penghentian persetujuan ekspor LNG oleh Presiden Biden awal tahun lalu. “Kami mengakhiri jeda dan menyetujui terminal ekspor LNG Commonwealth pada hari Jumat lalu, dan masih banyak lagi yang mengantre,” tambah Wright mengenai perkembangan terbaru tersebut.
Kebijakan energi memang menjadi perdebatan hangat di antara para pemimpin dunia, terutama terkait dengan strategi pencapaian nol emisi karbon dan dampaknya terhadap ekonomi serta kehidupan masyarakat. Pandangan Wright sepertinya menggarisbawahi tantangan yang dihadapi oleh kebijakan transisi energi global dan membuka diskusi lebih lanjut tentang bagaimana mencapai keseimbangan antara kebutuhan ekonomi, lingkungan, dan sosial.
Dengan peran penting energi dalam ekonomi global, kritik serta evaluasi terhadap kebijakan energi ini diharapkan dapat mendorong dialog produktif yang diperlukan guna mencapai solusi berkelanjutan bagi planet ini. Namun, tantangan seperti pembiayaan, inovasi teknologi, dan kemauan politik tetap menjadi penghalang yang signifikan dalam perjalanan menuju pencapaian nol emisi karbon.
Baca Juga
Tri Kismayanti
Insiderindonesia.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Panduan Lengkap Membuat Teh Susu Nikmat dan Tetap Menyehatkan Tubuh
- Selasa, 20 Januari 2026
Park Seo Joon Ceritakan Pengalaman Hidup dan Pandangannya Soal Pernikahan
- Selasa, 20 Januari 2026
Khasiat Daun Kelor untuk Tubuh Sehat Optimal dan Kehidupan Lebih Berkualitas
- Selasa, 20 Januari 2026
Gibran Dorong Inovasi Kreatif dan Pemberdayaan Masyarakat Tasikmalaya Lebih Maksimal
- Selasa, 20 Januari 2026
Berita Lainnya
Park Seo Joon Ceritakan Pengalaman Hidup dan Pandangannya Soal Pernikahan
- Selasa, 20 Januari 2026
Khasiat Daun Kelor untuk Tubuh Sehat Optimal dan Kehidupan Lebih Berkualitas
- Selasa, 20 Januari 2026
Menhan Sjamsoeddin Soroti Pentingnya Peran BSSN Dalam Pertahanan Digital Nasional
- Selasa, 20 Januari 2026
Gibran Dorong Inovasi Kreatif dan Pemberdayaan Masyarakat Tasikmalaya Lebih Maksimal
- Selasa, 20 Januari 2026
Terpopuler
1.
Biaya Balik Nama Motor Bekas 2026 Termasuk Pajak Lengkap
- 20 Januari 2026
2.
DBS Hadirkan Kalkulator Pensiun Dorong Perencanaan Keuangan Dini
- 20 Januari 2026
3.
Bursa CFX Prediksi Industri Kripto Tetap Tumbuh Positif 2026
- 20 Januari 2026
4.
OJK Terbitkan Aturan Gugatan Demi Perlindungan Konsumen Keuangan
- 20 Januari 2026
5.
BGN Klaim Kasus Keracunan MBG Menurun Namun Belum Nol
- 20 Januari 2026








