Pendapatan PGEO Tembus Rp7,32 Triliun, Kamojang Jadi Kontributor Utama

Senin, 09 Maret 2026 | 16:34:23 WIB
Pendapatan PGEO Tembus Rp7,32 Triliun, Kamojang Jadi Kontributor Utama

JAKARTA - Kinerja keuangan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO) sepanjang 2025 menunjukkan dinamika menarik di tengah penguatan sektor energi terbarukan di Indonesia. 

Perusahaan panas bumi milik negara ini berhasil mencatatkan peningkatan pendapatan tahunan meskipun laba bersih mengalami koreksi dibandingkan tahun sebelumnya. Kontribusi terbesar terhadap pendapatan tersebut masih datang dari Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang yang menjadi salah satu aset utama perusahaan.

Secara keseluruhan, capaian tersebut menggambarkan bahwa aktivitas operasional PGEO tetap berjalan stabil dengan dukungan produksi energi panas bumi yang terus meningkat. 

Di tengah tantangan biaya operasional yang lebih tinggi, perusahaan tetap mampu menjaga kinerja fundamentalnya serta mempertahankan posisi kas yang cukup kuat untuk menopang pengembangan bisnis ke depan.

Pertumbuhan Pendapatan Ditopang Produksi Panas Bumi

Pendapatan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO) pada 2025 tercatat tumbuh 6,29% secara tahunan menjadi US$432,72 juta atau setara Rp7,32 triliun yang mayoritas berasal dari PLTP Kamojang. 

Berdasarkan laporan kinerja perseroan, PGEO membukukan laba bersih senilai US$137,69 juta atau sekitar Rp2,33 triliun pada 2025 dengan asumsi kurs Jisdor berada di level Rp16.919 per dolar Amerika Serikat (AS).

Adapun perolehan tersebut mengalami penyusutan sebesar 14,2% dibandingkan dengan capaian 2024 yang mencapai angka US$160,49 juta. Koreksi pada profitabilitas PGEO terjadi di tengah pertumbuhan pendapatan bersih yang naik 6,29% YoY menjadi US$432,72 juta.

Mayoritas pendapatan usaha ini disumbangkan PLTP area Kamojang sebesar US$155,67 juta. Kontribusi tersebut menjadikan fasilitas panas bumi tersebut sebagai salah satu sumber pendapatan utama perusahaan sepanjang tahun laporan.

Direktur Keuangan PGEO Yurizki Rio menyampaikan bahwa kenaikan pendapatan menunjukkan kinerja perseroan tetap berada pada jalur yang sehat, sekaligus mencerminkan fundamental keuangan yang solid.

“Kondisi tersebut turut didukung oleh kinerja operasional yang mencatatkan produksi tertinggi sepanjang sejarah atau all-time high dengan kenaikan produksi sebesar 5,6% pada 2025,” ujar Yurizki melalui siaran pers.

Tekanan Biaya Produksi Pengaruhi Laba Perseroan

Meskipun pendapatan meningkat, tekanan dari sisi biaya operasional menjadi faktor yang mempengaruhi kinerja laba perseroan sepanjang 2025. Beban pokok pendapatan PGEO tercatat mengalami peningkatan cukup signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

Kinerja top line tersebut tergerus oleh kenaikan beban pokok pendapatan yang melonjak 19,76% YoY menjadi US$199,66 juta pada 2025. Peningkatan beban tersebut mencerminkan naiknya biaya operasional yang harus ditanggung perusahaan dalam menjalankan kegiatan produksi energi panas bumi.

Kondisi tersebut akhirnya menyebabkan laba kotor perseroan terkoreksi tipis 3,05% secara tahunan menjadi US$233,06 juta pada akhir Desember 2025. Meski demikian, perusahaan tetap mencatatkan margin yang relatif stabil di tengah dinamika biaya produksi yang meningkat.

Situasi ini juga menggambarkan tantangan yang dihadapi perusahaan energi dalam menjaga efisiensi operasional, terutama di tengah kebutuhan investasi dan pengembangan fasilitas pembangkit panas bumi yang terus berkembang.

Kondisi Neraca Tetap Solid Sepanjang Tahun

Selain mencatatkan pertumbuhan pendapatan, PGEO juga menunjukkan kondisi neraca yang relatif sehat hingga akhir 2025. Perusahaan berhasil meningkatkan posisi kas serta menjaga stabilitas struktur keuangannya.

Dari sisi neraca, PGEO mencatatkan pertumbuhan posisi kas dan setara kas sebesar 9,66% menjadi US$718,49 juta dari sebelumnya US$655,19 juta. Peningkatan kas tersebut memberikan ruang yang lebih luas bagi perusahaan untuk mendukung kebutuhan operasional maupun pengembangan proyek energi baru terbarukan.

Total aset perseroan juga naik tipis 1,24% YoY menjadi US$3,03 miliar, yang didukung oleh penguatan ekuitas sebesar 1,83% secara tahunan ke posisi US$2,04 miliar. Pertumbuhan tersebut mencerminkan stabilitas struktur permodalan perusahaan.

Di sisi lain, liabilitas perseroan terpantau stabil dengan kenaikan sebesar 0,02% YoY menjadi US$988,88 juta per akhir 2025. Stabilnya posisi liabilitas menunjukkan bahwa perusahaan mampu menjaga keseimbangan antara kewajiban dan aset yang dimiliki.

Pergerakan Saham PGEO di Bursa Efek Indonesia

Di pasar modal, saham PGEO juga menjadi perhatian investor seiring perkembangan kinerja perusahaan di sektor energi panas bumi. Pergerakan harga sahamnya sepanjang tahun berjalan menunjukkan adanya tekanan yang dipengaruhi dinamika pasar.

Dari lantai Bursa Efek Indonesia (BEI), saham PGEO bertengger di level Rp990 pada perdagangan Senin (9/3) hingga pukul 10.36 WIB. Harga tersebut mencerminkan penurunan sebesar 12,44% sepanjang tahun berjalan.

Penurunan harga saham tersebut terjadi di tengah berbagai faktor yang memengaruhi sentimen pasar, termasuk perkembangan sektor energi serta kondisi ekonomi global yang turut mempengaruhi pergerakan saham perusahaan energi.

Meski demikian, kinerja operasional PGEO yang tetap stabil dan pertumbuhan pendapatan yang terjaga menjadi salah satu faktor yang tetap diperhatikan oleh pelaku pasar dalam menilai prospek perusahaan di masa mendatang.

Terkini