Rencana Ekspor RI Sentimen Pasar, Harga Kontrak CPO Beragam

Ilustrasi Sawit. (Sumber Gambar : Net)
Kamis, 21 Mei 2026 | 12:50:20 WIB

JAKARTA – Nilai kontrak minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) pada Bursa Malaysia Derivatives (BMD) terpantau bergerak fluktuatif pada Rabu (20/5/2026). Pergerakan ini dipicu oleh kekhawatiran para pelaku pasar terkait rencana Indonesia yang ingin membentuk badan khusus demi mengatur ekspor komoditas strategis nasional.

Berdasarkan data penutupan BMD pada Rabu (20/5/2026), perdagangan berjangka CPO untuk pengiriman Juni 2026 turun 25 Ringgit Malaysia menjadi 4.515 Ringgit Malaysia per ton. Sementara itu, kontrak berjangka CPO untuk periode Juli 2026 terpangkas 15 Ringgit Malaysia ke level 4.556 Ringgit Malaysia per ton.

Selanjutnya, transaksi berjangka CPO untuk Agustus 2026 mengalami penurunan sebesar 2 Ringgit Malaysia berada di posisi 4.583 Ringgit Malaysia per ton. Kebalikannya, kontrak berjangka CPO September 2026 justru meningkat 12 Ringgit Malaysia ke angka 4.601 Ringgit Malaysia per ton.

Untuk kontrak berjangka CPO Oktober 2026 melesat naik 23 Ringgit Malaysia menuju level 4.619 Ringgit Malaysia per ton. Adapun kontrak berjangka CPO untuk November 2026 ikut terdorong naik sebesar 29 Ringgit Malaysia ke angka 4.638 Ringgit Malaysia per ton.

Melansir informasi dari Tradingview, situasi pasar saat ini sedang memantau secara ketat rencana Presiden Prabowo Subianto yang akan membentuk suatu lembaga negara untuk mengendalikan ekspor sumber daya alam, termasuk di dalamnya CPO, batu bara, serta ferroalloy.

Mengenai hal tersebut, Paramalingam Supramaniam selaku Direktur broker Pelindung Bestari menilai bahwa regulasi baru dari Indonesia ini berpeluang memberikan dampak positif bagi penguatan pasar CPO, sebab dapat menahan peredaran penjualan yang terlalu agresif dari para eksportir.

Dari hasil analisanya, para pembeli global berpotensi mengalihkan fokus transaksi mereka ke Malaysia terlebih dahulu sambil menanti kepastian aturan ekspor terbaru yang akan diterapkan oleh pemerintah Indonesia.

“Perhatian pembeli mungkin akan beralih ke Malaysia sampai ada kejelasan mengenai mekanisme yang diterapkan Indonesia,” ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ekspor Malaysia Melemah
Di sisi lain, laju kenaikan harga CPO tertahan oleh lesunya performa data ekspor dari Malaysia. Berdasarkan estimasi dari lembaga surveyor kargo, ekspor produk minyak sawit Malaysia untuk periode 1-20 Mei diperkirakan merosot antara 13,9% sampai 20,5% jika dibandingkan dengan capaian pada bulan sebelumnya.

Kendati demikian, sinyal positif bertiup dari bursa minyak nabati dunia. Kontrak minyak kedelai yang paling aktif diperdagangkan di Dalian melonjak 1,31%, diikuti oleh kontrak minyak sawit yang menguat 1,44%. Selain itu, harga minyak kedelai pada Chicago Board of Trade juga merangkak naik sebesar 0,24%.

Meski begitu, pelemahan harga minyak bumi global menjadi faktor pembatas bagi penguatan CPO. Harga minyak mentah dunia menyusut setelah Presiden AS Donald Trump menegaskan kembali bahwa konflik di Iran akan segera diselesaikan. 

Penurunan harga minyak bumi ini membuat CPO menjadi kurang bernilai kompetitif jika dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan biodiesel.

Faktor lain yang ikut menahan laju adalah penguatan mata uang ringgit Malaysia sebesar 0,18% terhadap dolar AS, yang berakibat pada harga CPO menjadi terasa lebih mahal bagi para pembeli dari luar negeri.

Di tengah kondisi yang berkembang tersebut, perusahaan-perusahaan produsen minyak sawit di Malaysia dikabarkan mulai menunda program peremajaan tanaman (replanting). 

Langkah ini diambil menyusul pembengkakan biaya operational untuk pembelian pupuk serta bahan bakar. Keadaan tersebut menimbulkan kecemasan akan terjadinya gangguan terhadap pasokan minyak nabati global dalam jangka panjang.

Reporter: Gemilang Ramadhan