Rundingan AS dan Iran Dekati Akhir, Harga Minyak Global Turun 6 Persen

ILUSTRASI, tambang tengah laut (Sumber Gambar : Net)
Kamis, 21 Mei 2026 | 13:21:03 WIB

NEW YORK – Nilai jual minyak global merosot kisaran 6% dalam sesi transaksi Rabu (20/5/2026) menyusul pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bahwa proses runding antara AS dan Iran telah mendekati fase final. Ucapan tersebut menumbuhkan ekspektasi pelaku pasar bahwa friksi di Timur Tengah dapat meredam serta hambatan distribusi minyak akan berkurang. 

Nilai minyak Brent terkunci melemah US$ 6,26 atau 5,63% menuju posisi US$ 105,02 per barel. Di waktu yang sama, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menyusut US$ 5,89 atau 5,66% ke angka US$ 98,26 per barel.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Trump mengatakan pembicaraan dengan Iran berada di tahap akhir, namun tetap memperingatkan kemungkinan serangan lanjutan apabila Iran tidak menyetujui kesepakatan."

Di sudut lain, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengutarakan Iran siap menyusun protokol keamanan pelayaran bersama negara-negara pesisir di kawasan. 

Opini tersebut mencuat di kala pasar cemas atas kendala penyaluran minyak melewati Selat Hormuz. Walau terdapat indikasi progres diplomasi, para pelaku pasar tetap defensif memantau hasil akhir dari negosiasi tersebut. 

Faktor kecemasan utama masih tertuju pada minimnya ketersediaan minyak global yang diprediksi bertahan walau kesepakatan AS-Iran berhasil disepakati. 

Mitra Again Capital, John Kilduff, berpandangan bahwa pasar bereaksi terlalu cepat dalam menyerap optimisme resolusi pertikaian tersebut. Berdasarkan opininya, pasar langsung memberi respons positif dan mulai memperhitungkan peluang tercapainya perdamaian.

Banyak analis pun mendeteksi adanya ancaman lonjakan harga minyak di masa mendatang. Analis Citi memproyeksikan nilai Brent masih berpeluang merangkak ke US$ 120 per barel lantaran pasar dianggap belum seutuhnya mengkalkulasi risiko hambatan pasokan jangka panjang. 

Sementara itu, Wood Mackenzie memberi peringatan bahwa nilai minyak bahkan dapat menyentuh US$ 200 per barel jika problem di Selat Hormuz terus berlanjut sampai penutupan tahun. 

Analis PVM turut berpendapat bahwa cadangan minyak global berisiko merosot ke titik krusial. Namun, merujuk pada pandangan mereka, pelaku pasar saat ini justru kelihatan terlampau adem dalam menyikapi ancaman perselisihan di Timur Tengah.

Di tengah situasi yang fluktuatif tersebut, lalu lintas maritim di Selat Hormuz mulai memperlihatkan pergerakan. Tiga kapal tanker berskala besar diinformasikan melewati selat itu pada Rabu sehabis terjebak lebih dari dua bulan di kawasan Teluk dengan mengangkut kisaran 6 juta barel minyak mentah menuju pasar Asia. 

Walau begitu, total kapal yang lewat masih berada jauh di bawah volume normal sebelum masa konflik, yang lazimnya menyentuh angka 130 kapal per hari.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "CEO ADNOC, Sultan Al Jaber, mengatakan diperlukan setidaknya empat bulan untuk memulihkan arus distribusi minyak hingga mencapai 80% dari level sebelum konflik."

Guna menutupi defisit pasokan, beberapa negara saat ini bertumpu pada cadangan minyak komersial serta strategis. Di Amerika Serikat, stok minyak mentah menyusut drastis pekan lalu imbas melonjaknya permintaan. 

Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan cadangan minyak mentah AS berkurang 7,9 juta barel menjadi 445 juta barel pada pekan yang berakhir 15 Mei. Defisit tersebut lebih masif ketimbang estimasi analis yang tadinya memprediksi penurunan di kisaran 2,9 juta barel.

Reporter: Gemilang Ramadhan