BTN Akuisisi Kredit Pensiunan SMBC Indonesia Rp19,9 Triliun

ilstrasi gedung bank btn (Sumber Gambar : kabarbursa.com)
Selasa, 26 Mei 2026 | 10:22:48 WIB

JAKARTA - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) resmi menyepakati dua perjanjian pengalihan untuk mengambil alih kredit pensiunan, kredit pra-pensiunan, serta kredit karyawan aktif pegawai BUMN atau lembaga pemerintahan yang sebelumnya dimiliki oleh PT Bank SMBC Indonesia Tbk (SMBCI). 

Langkah strategis ini diambil oleh perseroan dalam rangka memperlebar sayap bisnis ritel di tingkat nasional, yang juga selaras dengan arah transformasi mereka untuk menjadi bank beyond mortgage.

Proses penandatanganan kesepakatan tersebut dilakukan pada tanggal 22 Mei 2026 lewat dua skema, yakni Conditional Portfolio Transfer Agreement (CPTA) dan Conditional Loan Asset Transfer Agreement (CLATA). 

Informasi mengenai transaksi ini telah disampaikan secara resmi kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui keterbukaan informasi pada hari Senin (25/5).

Corporate Secretary BTN, Ramon Armando, menyampaikan bahwa aksi korporasi ini merupakan bagian dari rencana strategis perseroan untuk mendorong pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan. Dalam pelaksanaannya, BTN tetap memprioritaskan prinsip kehati-hatian serta tata kelola perusahaan yang baik.

sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Transaksi ini merupakan bagian dari transformasi BTN menjadi bank beyond mortgage, di mana perseroan tidak hanya fokus pada pembiayaan perumahan, tetapi juga memperluas ekosistem layanan keuangan melalui penguatan segmen payroll loan, pensiunan, dan transactional banking," ujar Ramon dalam keterangan tertulisnya, Senin (25/5).

Secara rinci, melalui kesepakatan CPTA, BTN bakal mengambil alih portofolio pinjaman pensiunan dan pra-pensiunan yang manfaat pensiunnya dikelola oleh TASPEN, dengan perkiraan nilai mencapai Rp12,58 triliun.

Di sisi lain, lewat transaksi CLATA, BTN akan mengakuisisi aset pinjaman yang berkaitan dengan pensiunan ASABRI, dana pensiun lainnya, sekaligus pinjaman untuk karyawan aktif di lingkup BUMN maupun lembaga pemerintahan. Nilai aset pada skema ini diestimasikan berada di angka Rp7,34 triliun.

Ramon menjelaskan bahwa segmen pensiunan serta payroll loan mempunyai karakteristik pembayaran yang cenderung stabil, sehingga dinilai mampu menjadi motor pertumbuhan jangka panjang yang konsisten bagi perseroan.

Selain dapat memperkokoh portofolio kredit, transaksi pengalihan ini juga berpotensi besar meningkatkan perolehan dana murah, menambah volume transaksi nasabah, serta memaksimalkan ekosistem layanan yang dimiliki BTN di berbagai daerah di Indonesia.

BTN memproyeksikan bahwa langkah ini akan membawa pengaruh positif bagi perkembangan bisnis perseroan ke depan, khususnya melalui ekspansi total aset dan portofolio kredit.

sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Langkah ini juga sejalan dengan strategi BTN membangun ekosistem keuangan yang lebih luas dan inklusif, sekaligus memperkuat posisi perseroan sebagai bank di segmen konsumer dengan layanan yang semakin lengkap bagi masyarakat," kata Ramon.

Ramon menambahkan bahwa BTN senantiasa memastikan seluruh rangkaian proses transaksi ini berjalan selaras dengan regulasi yang ditetapkan oleh pihak otoritas dan tetap bersandar pada prinsip prudent banking.

Manajemen perseroan juga memberikan penegasan bahwa transaksi yang dilakukan ini bukan merupakan transaksi afiliasi. Di dalamnya juga dipastikan tidak terdapat benturan kepentingan apa pun, sebagaimana ketentuan yang telah diatur dalam POJK mengenai transaksi afiliasi dan benturan kepentingan.

Lebih lanjut, penyelesaian akhir dari transaksi ini baru akan dilaksanakan setelah seluruh syarat pendahuluan yang tercantum di dalam perjanjian berhasil dipenuhi oleh masing-masing pihak. 

BTN turut memberikan penjelasan bahwa kesepakatan CPTA dan CLATA merupakan dua transaksi yang terpisah atau berdiri sendiri, sehingga proses penyelesaiannya bisa saja terjadi pada waktu yang tidak bersamaan.

sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Melalui langkah strategis tersebut, BTN optimistis dapat terus memperkuat pertumbuhan bisnis sekaligus memperluas akses layanan keuangan bagi masyarakat Indonesia," tutup Ramon.

Reporter: Gemilang Ramadhan