Strategi Efisiensi MAIN Hadapi Pelemahan Rupiah dan Harga Bahan Baku

PT Malindo Feedmill (Sumber Gambar : ajaib.co.id)
Selasa, 26 Mei 2026 | 10:22:48 WIB

JAKARTA – PT Malindo Feedmill Tbk. (MAIN) tetap percaya diri dalam mempertahankan tren pertumbuhan kinerja mereka di sepanjang tahun 2026. Sikap optimistis ini diambil meskipun industri perunggasan nasional tengah dibayangi oleh berbagai tantangan berat, mulai dari lonjakan harga bahan baku di pasar global, depresiasi nilai tukar rupiah, hingga situasi geopolitik dunia yang penuh ketidakpastian.

Direktur MAIN, Rudy Hartono menjelaskan bahwa meroketnya harga jagung dan bungkil kedelai (soybean meal/SBM) yang dipicu oleh dinamika global telah mendongkrak biaya produksi perusahaan, khususnya pada sektor pakan ternak. 

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, “Kenaikan harga bahan baku memang terjadi dan otomatis meningkatkan cost industri poultry. Namun kami terus melakukan efisiensi dan inovasi formulasi untuk meminimalkan dampak fluktuasi harga jagung maupun soybean meal global,” jelasnya pada Senin (25/5/2026).

Di samping tekanan dari harga komoditas, melemahnya nilai mata uang rupiah terhadap dolar AS diakui ikut andil dalam menaikkan harga bahan baku impor seperti bungkil kedelai. 

Pihak manajemen tidak menampik bahwa efek dari kenaikan harga SBM serta biaya logistik sudah mulai berimbas pada lini operasional perusahaan. 

Walau begitu, Malindo memastikan bakal terus mengoptimalkan beragam tindakan mitigasi demi mengamankan tingkat profitabilitas perseroan. 

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, “Kami akan terus mengikuti kondisi pasar sambil menerapkan inovasi untuk meminimalkan dampak pelemahan rupiah dan volatilitas harga komoditas global,” urainya.

Demi memproteksi margin keuntungan perusahaan, Malindo memperkokoh strategi pengelolaan biaya serta efisiensi operasional. Salah satu terobosan konkret yang dieksekusi adalah transisi energi dengan mengaplikasikan panel surya (solar cell) pada beberapa fasilitas operasional mereka. 

Menurut Rudy, pengeluaran untuk sektor energi saat ini menempati salah satu porsi biaya operasional paling besar, sehingga efisiensi di bidang ini menjadi prioritas utama korporasi.

Bukan cuma efisiensi energi, Malindo pun mengandalkan percepatan program otomatisasi serta digitalisasi sistem operasional demi memangkas biaya sekaligus mengatrol produktivitas usaha. 

Korporasi juga memaksimalkan tingkat utilisasi bahan baku dan terus menjajaki peluang di pasar-pasar baru agar pertumbuhan bisnis tetap terjaga di tengah situasi ekonomi global yang tidak menentu.

Terkait aspek performa bisnis, Malindo menilai prospek industri perunggasan pada tahun 2026 ini masih tergolong positif. Kondisi harga DOC (day-old chick) dan broiler yang stabil selama kuartal I/2026 dipandang menjadi pilar utama yang menyokong pertumbuhan profit perusahaan. 

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, “Kami melihat kuartal I tahun ini jauh lebih baik dibandingkan tahun lalu. Karena itu kami cukup optimistis kondisi industri poultry pada 2026 akan tetap stabil dan positif,” kata Rudi.

Bahkan, emiten berkode saham MAIN ini memprediksi capaian kinerja pada kuartal II/2026 bakal lebih memuaskan ketimbang periode yang sama di tahun lalu, yang mana saat itu tekanan yang dirasakan masih terbilang besar. 

Kendati manajemen belum bersedia membeberkan angka target topline (pendapatan) maupun bottom line (laba bersih) secara mendetail, mereka melihat bahwa kebijakan serta dukungan dari pemerintah terhadap sektor perunggasan membuat iklim industri saat ini jauh lebih kondusif daripada tahun-tahun terdahulu. 

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, “Kalau bicara target memang cukup sulit karena industri ini bergerak sangat cepat. Tetapi secara umum kami dan pelaku industri lainnya masih sangat optimistis terhadap kondisi saat ini,” pungkasnya.

Reporter: Gemilang Ramadhan