Kredit Himbara Tumbuh Tinggi Kuartal Satu Ditopang Korporasi
JAKARTA – Kelompok himpunan bank milik negara (Himbara) dinilai tetap berfungsi sebagai penopang utama dalam perkembangan kredit di industri perbankan. Kondisi tersebut terlihat melalui tingginya nilai realisasi kucuran pinjaman baru atau disbursement loan Himbara sepanjang kuartal pertama tahun 2026.
Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) per April 2026, penyaluran kredit perbankan mengalami pertumbuhan sebesar 9,98% secara tahunan (year on year/yoy), meningkat jika dibandingkan pencapaian bulan sebelumnya yang berada di angka 9,49%.
Di waktu yang sama, total fasilitas kredit yang belum ditarik oleh debitur atau undisbursed loan di industri perbankan masih berada di level yang cukup besar, yakni mencapai Rp 2.551,42 triliun atau setara dengan 22,57% dari total plafon kredit yang disediakan.
Gubernur BI, Perry Warjiyo mengungkapkan bahwa ketersediaan undisbursed loan yang melimpah di sektor perbankan ini berpotensi menjadi modal yang positif bagi akselerasi penyaluran kredit ke depan. "BI memprakirakan pertumbuhan kredit 2026 tetap terjaga pada kisaran 8-12%.
Prospek ini didukung oleh masih besarnya fasilitas pinjaman yang belum digunakan," kata Perry sebagaimana dilansir dari berita sumber dalam Rapat Dewan Gubernur BI, Jumat (22/5/2026).
Peningkatan pertumbuhan kredit perbankan ini salah satunya dipicu oleh realisasi pencairan pinjaman baru yang melonjak, khususnya pada kelompok bank Himbara.
Merujuk pada laporan pemaparan kinerja masing-masing perseroan, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menjadi bank dengan realisasi pencairan kredit (disbursed loan) terbesar sepanjang periode enam bulan pertama tahun berjalan ini.
Sampai dengan periode kuartal I-2026, total pinjaman baru yang dikucurkan Bank Mandiri sudah menembus angka Rp 210 triliun. Jumlah realisasi kucuran kredit ini mengalami kenaikan hingga 43,4% yoy.
Berdasarkan rincian sektor penyalurannya, pendorong utama pencairan kredit Bank Mandiri pada kuartal pertama 2026 berasal dari kelompok korporasi yang mencapai Rp 91,2 triliun, atau mengalami kenaikan sebesar 30,6% yoy.
Sementara itu, total kredit yang telah dilunasi (pay-off) di Bank Mandiri sepanjang kuartal pertama tahun ini menyentuh Rp 104 triliun. Dengan demikian, total outstanding kredit Bank Mandiri per kuartal I-2026 bertengger di angka Rp 1.529 triliun, atau tumbuh sebesar 17,6% yoy.
Di sisi lain, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) juga membukukan nilai pencairan kredit yang tidak kalah masif, yaitu sebesar Rp 157,6 triliun. Angka pengucuran kredit baru ini tercatat melonjak hingga 59,5% jika disandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.
Serupa dengan Bank Mandiri, komposisi kucuran kredit baru BNI paling banyak terserap oleh sektor korporasi. Hingga penutupan kuartal pertama tahun ini, realisasi pinjaman baru untuk segmen korporasi di BNI mencapai Rp 84,9 triliun atau setara dengan 53,9% dari total keseluruhan pinjaman baru yang dilepas.
Anggota Himbara lainnya, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN), turut menorehkan pertumbuhan volume pencairan kredit pada kuartal awal tahun ini, meskipun nilainya tidak sebesar dua bank Himbara terdahulu.
Sampai dengan kuartal I-2026, nilai kredit baru yang dicairkan BTN berada di angka Rp 27,53 triliun atau mencatatkan kenaikan sebesar 14,9% yoy.
Hal yang cukup unik, akselerasi pengucuran kredit baru di BTN kali ini tidak bersumber dari sektor kredit perumahan yang selama ini menjadi lini bisnis utamanya. Total pencairan kredit baru BTN untuk sektor perumahan (housing loan) pada kuartal pertama tahun ini tercatat sebesar Rp 10,23 triliun.
Nominal tersebut justru menunjukkan penurunan sebesar 31,2% dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya. Sebaliknya, pencairan kredit BTN untuk sektor non-perumahan (non-housing loan) justru melesat tajam sebesar 89,9% yoy menjadi Rp 17,3 triliun.
Pada kategori pinjaman ini, kelompok kredit korporasi tercatat mengalami pertumbuhan sebesar 117% yoy menjadi Rp 10,3 triliun.
Mencermati statistik pertumbuhan tersebut, Kepala Ekonom Bank Central Asia, David Sumual memberikan pandangan bahwa roda penggerak utama pertumbuhan kredit perbankan secara nasional saat ini memang masih bertumpu pada kelompok Himbara.
Menurut penilaian David, tingginya angka penyaluran pinjaman baru oleh bank-bank pelat merah tersebut didorong oleh langkah pemerintah yang mengarahkan pendanaan Himbara ke dalam berbagai proyek pembangunan strategis, seperti program Makan Bergizi Gratis serta Koperasi Merah Putih.
"Pertumbuhan kredit saat ini masih ditopang oleh bank Himbara. Ini lebih disebabkan oleh dukungan program prioritas pemerintah," kata David sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Pandangan senada juga dikemukakan oleh Ekonom Center of Reform on Economic (CORE), Yusuf Rendy Manilet. Ia sepakat bahwa Himbara tetap berperan sebagai motor penggerak utama bagi pertumbuhan laju kredit nasional.
Yusuf memaparkan bahwa tren kenaikan kucuran kredit baru Himbara di awal tahun ini turut dipengaruhi oleh kondisi likuiditas bank yang longgar, terutama setelah adanya suntikan dana yang cukup masif dari pemerintah melalui instrumen Saldo Anggaran Lebih (SAL).
Walau demikian, Yusuf memberikan catatan bahwa tingginya realisasi pinjaman baru pada kuartal pertama tahun ini belum dapat dijadikan cerminan mutlak atas kesehatan proyeksi pertumbuhan kredit perbankan ke depan.
"Disbursement bersifat lebih volatil dan bisa melonjak tinggi hanya karena ada beberapa penarikan fasilitas korporasi dalam nilai besar," kata Yusuf sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Fenomena tersebut tercermin dari porsi penyaluran kredit baru dari tiap-tiap bank Himbara yang masih didominasi oleh kelompok korporasi, termasuk pada BTN yang fungsi bisnis utamanya berada di sektor Kredit Pemilikan Rakyat (KPR).
"Ketika bank yang basis utamanya KPR mulai mencari pertumbuhan dari sektor di luar bisnis intinya, itu bisa menjadi sinyal bahwa permintaan di sektor perumahan sedang melemah," ucap Yusuf sebagaimana dilansir dari berita sumber.