Rupiah Anjlok ke Rp17.847 per Dolar AS Akibat Tekanan Global

ILUSTRASI, rupiah dollar (Sumber Gambar : Net)
Kamis, 28 Mei 2026 | 11:32:48 WIB

JAKARTA – Nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kian terpuruk hingga menyentuh angka Rp17.847,00 per dolar AS pada sesi perdagangan mendekati akhir bulan Mei 2026. Pergerakan di pasar spot global tersebut memperlihatkan fluktuasi yang sangat tajam disertai kemerosotan performa yang masif bila dibandingkan dengan periode yang lalu.

Mata uang garuda ini tercatat melemah sebesar 0,69 persen hanya dalam kurun waktu satu hari perdagangan dari sesi sebelumnya. Dampaknya, rupiah terjebak dalam tren negatif yang berkepanjangan akibat imbas ketidakpastian kebijakan moneter dunia serta situasi di dalam negeri.

Bila diakumulasikan, depresiasi nilai tukar rupiah sudah merosot sebesar 3,65 persen dalam kurun satu bulan ke belakang. Situasi ini kian mengkhawatirkan lantaran dalam jangka waktu 12 bulan terakhir, penurunan nilai mata uang terhadap dolar AS telah menyentuh angka 9,59 persen.

Melihat rekam jejak historis dari tahun 1994 sampai 2026, fluktuasi nilai tukar USD/IDR bergerak dalam rentang yang amat lebar. Angka Rp17.847,00 tersebut kini hampir menyamai rekor tertinggi sepanjang sejarah secara harian yang berada pada posisi Rp17.897,90, atau dengan nilai rata-rata bulanan sebesar Rp17.877 pada Mei 2026.

Kondisi terkini berbanding terbalik dari rekor historis terendah rupiah yang dulu pernah berada di posisi Rp2.096,00 per dolar AS. Terhitung sejak awal tahun hingga saat ini (ytd), mata uang RI terpantau melemah sekitar 6,4 persen.

Kemerosotan yang terbilang dalam ini menempatkan rupiah sebagai salah satu mata uang dengan performa paling buruk di wilayah Asia. Posisi rupiah setara dengan rupee India serta peso Filipina yang sama-sama mendapatkan tekanan masif dari mata uang negara paman sam.

Faktor Inflasi dan Suku Bunga Global

Tangguhnya dolar AS salah satunya dipicu oleh publikasi data makroekonomi domestik negara mereka. Angka inflasi di Amerika Serikat melonjak menjadi 3,80 persen pada April 2026, menunjukkan kenaikan dari periode yang lalu sebesar 3,30 persen.

Melonjaknya inflasi di AS tersebut memaksa Bank Sentral AS untuk mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi di posisi 3,75 persen pada April 2026. Di samping itu, angka pengangguran di Amerika Serikat terpantau tidak bergerak di level 4,30 persen pada bulan yang sama.

Di lain pihak, Bank Indonesia sejatinya telah menerapkan tindakan mitigasi dengan menaikkan suku bunga acuan. Suku Bunga Indonesia saat ini bertengger di angka 5,25 persen pada Mei 2026, meningkat dari posisi bulan sebelumnya yang berada di level 4,75 persen.

Langkah pengetatan moneter tersebut diimplementasikan meskipun tingkat inflasi di Indonesia sebenarnya masih dalam koridor yang aman. Inflasi dalam negeri berada pada level 2,42 persen pada April 2026, mengalami penurunan yang cukup drastis dari angka sebelumnya yang mencapai 3,48 persen.

Kondisi Transaksi Berjalan dan Perlindungan Nasabah

Beban terhadap mata uang garuda kian diperparah oleh kinerja neraca pembayaran domestik. Defisit transaksi berjalan Indonesia pada triwulan pertama (Q1) tahun ini dikabarkan menyentuh nilai terbesar dalam kurun waktu lebih dari enam tahun belakangan.

Dalam menanggapi keadaan ekonomi yang fluktuatif ini, publik diimbau agar tetap tenang dan selalu memanfaatkan instrumen perbankan resmi yang sah dalam mengelola keuangan mereka. Kondisi perbankan dalam negeri dipastikan tetap tangguh dalam merespons volatilitas nilai tukar global.

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) pun turut memastikan bahwa simpanan publik di dalam negeri tetap aman di tengah volatilitas pasar finansial. LPS menegaskan nilai maksimum simpanan nasabah yang dijamin oleh lembaga adalah sebesar Rp2 miliar per nasabah per bank.

Harga komoditas serta nilai tukar mata uang dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti dinamika pasar global. Selalu cermati data perkembangan nilai tukar resmi secara berkala dari otoritas moneter pemerintah dan Bank Indonesia sebelum bertransaksi valuta asing.

Berikut merupakan rangkuman indikator makroekonomi terkini yang memengaruhi dinamika pasar keuangan antara Indonesia dan Amerika Serikat merujuk pada data triwulan terakhir:

Tabel Perbandingan Indikator Ekonomi Indonesia vs Amerika Serikat (Mei 2026):
Tingkat Inflasi Indonesia: 2,42%
Tingkat Inflasi Amerika Serikat: 3,80%
Suku Bunga Acuan Indonesia: 5,25%
Suku Bunga Acuan Amerika Serikat: 3,75%
Tingkat Pengangguran Indonesia: 4,68%
Tingkat Pengangguran Amerika Serikat: 4,30%

Data sektor ketenagakerjaan domestik sebenarnya memperlihatkan peningkatan kinerja, di mana angka pengangguran Indonesia berada pada level 4,68 persen pada Maret 2026. Angka ini menunjukkan penurunan jika dikomparasikan dengan posisi pada periode yang lalu di level 4,85 persen.

Bank Indonesia bersama pihak pemerintah terus memantau pergerakan di pasar spot global serta mempersiapkan langkah intervensi ganda, baik di pasar valuta asing maupun pada pasar surat berharga negara. Kebijakan tersebut diterapkan demi memelihara stabilitas nilai tukar sehingga tidak mengganggu jalannya roda pertumbuhan ekonomi domestik.

Reporter: Gemilang Ramadhan