Dampak Rebalancing MSCI dan FTSE Terhadap 10 Saham Market Cap Besar
JAKARTA – Langkah penyesuaian ulang (rebalancing) yang dieksekusi oleh penyusun indeks global seperti MSCI dan FTSE berdampak signifikan terhadap pergerakan dana investor asing.
Tersingkirnya deretan saham tanah air dari daftar konstituen kedua indeks tersebut memicu hengkangnya modal asing, yang selanjutnya berisiko menekan harga ekuitas dan berdampak pada menyusutnya nilai kapitalisasi pasar saham-saham terdampak.
Adapun, dua saham yang didepak dari MSCI merupakan bagian dari 10 besar saham dengan kapitalisasi pasar terbesar di bursa Indonesia.
Mereka adalah AMMN dan BREN. Pada Selasa (12/5/2026), MSCI mengumumkan mengeluarkan total 18 saham Indonesia dari indeks mereka. Rebalancing indeks tersebut akan berlaku pada penutupan perdagangan 29 Mei 2026 dan efektif pada 1 Juni 2026.
Dari 18 nama tersebut di antaranya adalah AMMN, BREN, TPIA, hingga DSSA. Paling baru, pada 22 Mei 2026 giliran FTSE Russel mengumumkan mendepak 4 saham Indonesia dalam tinjauan kuartalan periode Juni 2026. Empat saham tersebut adalah DSSA, DAAZ, HILL dan MLIA.
Hingga kurun waktu 26 Mei 2026, tercatat akumulasi aksi jual bersih (net sell) investor asing mencapai Rp45,45 triliun sepanjang tahun berjalan (year to date/YtD). Pada periode yang sama, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot 29,11% menuju level 6.130,19.
Nilai kapitalisasi pasar pun ikut mengempis ke angka Rp10.617 triliun, sementara kapitalisasi pasar khusus untuk saham free float menyusut ke posisi Rp2.734 triliun.
Berdasarkan data bursa per penutupan 26 Mei 2026, BBCA mengukuhkan posisi sebagai saham dengan kapitalisasi pasar paling jumbo, menembus Rp729 triliun atau menyumbangkan 6,87% dari total market cap bursa.
Di tempat kedua, terdapat BBRI dengan nominal market cap sebesar Rp461 triliun dan menyumbang kontribusi 4,34% dari keseluruhan kapitalisasi pasar.
Selanjutnya, berturut-turut di bawah BBCA dan BBRI ditempati oleh DCII dengan nilai market cap Rp460 triliun (4,33%), BMRI dengan nilai market cap Rp382 triliun (3,59%), serta BREN dengan nilai market cap Rp353 triliun (3,33%).
Berikutnya, BYAN dengan nilai market cap Rp331 triliun (3,12%), MORA dengan nilai market cap Rp320 triliun (3,01%), TLKM dengan nilai market cap Rp306 triliun (2,88%), AMMN dengan nilai market cap Rp226 triliun (2,12%), dan pada posisi kesepuluh dihuni oleh ASII dengan nilai market cap Rp207 triliun yang menyumbang 1,95% terhadap keseluruhan kapitalisasi pasar bursa.
Sebelumnya, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata memproyeksikan pencoretan 18 saham Indonesia dari indeks MSCI Mei 2026 bakal memperkuat bobot relatif dari saham-saham perbankan kakap serta emiten berkapitalisasi besar (blue chips) lainnya.
Situasi ini pun membuka peluang terjadinya rotasi likuiditas asing ke saham dengan free float dan tata kelola yang lebih sehat.
“Keluarnya sejumlah emiten justru menjadi katalis bagi investor global untuk mereposisi portofolio mereka ke saham-saham fundamental kuat. Fenomena ini berpotensi mengarahkan rotasi likuiditas asing ke saham dengan free float dan governance lebih sehat seperti BBCA, BMRI, BBNI, dan TLKM,” jelas Liza sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Di sisi lain, hasil riset Ajaib Sekuritas memaparkan bahwa tereksklusinya beberapa saham dari indeks FTSE Russell berakibat pada penurunan bobot Indonesia, sehingga berpotensi memicu gelombang aksi jual dari reksa dana pasif global.
Berdasarkan data, porsi kapitalisasi pasar bersih free float dari 39 saham Indonesia dalam kelompok large serta mid cap di indeks emerging markets FTSE Russell tadinya berada di angka 0,88% dari total indeks.
Namun, pasca keluarnya DSSA dari perhitungan indeks, bobot Indonesia terpangkas menjadi 0,86% dari total indeks emerging markets FTSE Russell.
Ajaib memproyeksikan potensi aliran dana keluar (outflow) dari Vanguard FTSE Emerging Market ETF dapat menyentuh US$27,72 juta atau berkisar Rp487,8 miliyar. Bahkan, keseluruhan estimasi outflow dari passive fund diramal mampu menembus US$297 juta atau setara Rp5,2 triliun.
“Tekanan jual diperkirakan berlangsung hingga tanggal efektif rebalancing pada 22 Juni 2026,” kata Ajaib sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. indikatorbisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.