Bitcoin Anjlok 4 Persen, Investor Pilih Sektor AI dan Pasar Saham IPO

Ilustrasi Bitcoin (Gambar: NET)
Kamis, 04 Juni 2026 | 13:49:10 WIB

JAKARTA – Harga Bitcoin (BTC) mengalami penurunan lebih dari 4 persen pada Kamis (4/6/2026) pagi di tengah lesunya minat investor terhadap aset kripto. Analis berpendapat bahwa pelemahan ini bukan disebabkan oleh aktivitas penjualan yang dilakukan oleh Michael Saylor, melainkan oleh adanya peralihan arus modal ke sektor kecerdasan buatan (AI) serta penawaran saham perdana (IPO) yang kini menjadi primadona di pasar.

Berdasarkan data CoinMarketCap pada pukul 07.00 WIB, kapitalisasi pasar kripto secara global merosot 2,21 persen menjadi US$ 2,25 triliun. Sementara itu, harga Bitcoin (BTC) hari ini jatuh 4,11 persen ke level US$ 64.018 per koin atau setara dengan Rp 1,15 miliar (kurs Rp 18.005 per dolar AS).

Indeks CoinDesk 20, yang merepresentasikan performa dari 20 aset kripto terbesar, juga tertekan 3,02 persen. Ethereum turun 2,47 persen menjadi US$ 1.811, Binance (BNB) terkoreksi 4,67 persen ke US$ 620, XRP merosot 0,74 persen menjadi US$ 1,2, Solana (SOL) anjlok 3,42 persen ke posisi US$ 71,6, dan Dogecoin (DOGE) turun 1,37 persen ke US$ 0,09.

Dikutip dari CoinDesk, Direktur Riset dan Strategi Mata Uang Digital Charles Schwab, Jim Ferraioli, mengungkapkan bahwa faktor utama penyebab turunnya harga Bitcoin (BTC) bukanlah aksi jual oleh Michael Saylor, melainkan karena investor lebih tertarik pada aset lain yang dipandang memiliki prospek lebih baik.

Harga Bitcoin sudah terkoreksi lebih dari 16 persen selama satu bulan terakhir. Di sisi lain, indeks S&P 500 justru menguat sekitar 5 persen dan mencatatkan rekor tertinggi baru. 

Selama bertahun-tahun, Bitcoin dan pasar saham AS cenderung bergerak beriringan, namun korelasi tersebut mulai memudar dalam beberapa bulan belakangan.

Ferraioli berpandangan bahwa Bitcoin kini kehilangan statusnya sebagai instrumen momentum. Menurutnya, para investor yang sebelumnya memburu peluang spekulatif saat ini lebih melirik tema investasi lainnya, terutama pada sektor kecerdasan buatan (AI) dan penawaran umum perdana saham (IPO).

"Bitcoin sebenarnya masih mendapat banyak sentimen positif. Namun saat ini perhatian investor telah beralih ke sektor lain yang menawarkan potensi pertumbuhan lebih besar," ujarnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Meski sepanjang tahun lalu industri kripto mendapatkan berbagai dukungan, seperti persetujuan ETF Bitcoin spot, masuknya modal institusi dalam jumlah besar, serta kemajuan regulasi di Washington, aliran dana justru lebih banyak masuk ke sektor AI yang sedang berkembang pesat. 

Perusahaan-perusahaan di bidang pusat data, infrastruktur AI, dan komputasi canggih menjadi tujuan investasi baru di pasar.

Selain itu, investor juga tengah menanti sejumlah IPO berskala besar yang diperkirakan akan menyedot likuiditas pasar, seperti OpenAI, Anthropic, hingga SpaceX yang dikabarkan sedang menyiapkan IPO dengan valuasi potensial hingga US$ 1,8 triliun. Sementara perusahaan lainnya diproyeksikan mampu menghimpun dana di atas US$ 200 billion melalui pencatatan saham perdana.

Menurut Ferraioli, fenomena ini menyebabkan Bitcoin kini tidak hanya berkompetisi dengan sesama aset kripto, melainkan juga dengan berbagai tema investasi populer di pasar global. "Investor momentum selalu mencari peluang yang paling menarik. Saat ini momentum sedang berada di luar pasar kripto," katanya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ferraioli juga menepis anggapan bahwa pelemahan Bitcoin disebabkan oleh aksi penjualan 32 Bitcoin milik perusahaan Strategy kepunyaan Michael Saylor. 

Ia menilai transaksi tersebut terlalu kecil untuk memengaruhi pasar secara signifikan dan hanya menjadi narasi yang muncul di tengah tren penurunan yang memang sedang terjadi. Ia juga melihat adanya aksi ambil untung oleh sebagian investor ETF Bitcoin setelah berhasil memulihkan kerugian akibat volatilitas tajam setahun terakhir.

Pada 26 Mei lalu, tercatat adanya transaksi penjualan besar ETF Bitcoin spot BlackRock IBIT senilai US$ 1,26 miliar di luar bursa. Penelitian NYDIG menyebutkan transaksi tersebut kemungkinan besar dilakukan oleh investor besar yang ingin segera mengurangi eksposur mereka terhadap Bitcoin.

Meskipun adopsi oleh institusi terus bertambah, Ferraioli menilai pasar kripto masih didominasi oleh investor ritel yang lebih gemar mengejar tren daripada mempertimbangkan valuasi jangka panjang.

Ke depannya, regulasi yang lebih transparan seperti potensi pengesahan Clarity Act di AS diyakini mampu mendukung perkembangan industri ini. Namun, untuk jangka pendek, faktor tersebut dinilai belum cukup kuat untuk memulihkan minat investor.

Selain itu, faktor musiman juga memberikan beban pada pasar. Secara historis, periode musim panas adalah salah satu fase terlemah bagi Bitcoin dikarenakan aktivitas perdagangan yang cenderung menurun. "Masalah terbesar Bitcoin saat ini bukan regulasi, bukan Michael Saylor, dan bukan kondisi ekonomi. Investor hanya menemukan peluang lain yang lebih menarik," kata Ferraioli, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Reporter: Gemilang Ramadhan