Wall Street Putus Tren Penguatan Akibat Peningkatan Konflik AS-Iran

Ilustrasi Ketegangan Amerika Serikat-Iran yang masih berlanjut membayangi indeks saham Wall Street (Gambar: NET)
Kamis, 04 Juni 2026 | 13:49:10 WIB

JAKARTA – Pasar saham Amerika Serikat (AS), Wall Street, mencatatkan pelemahan pada penutupan perdagangan hari Rabu (3/6/2026). Penurunan ini sekaligus menghentikan tren penguatan indeks S&P 500 yang sudah berlangsung selama sembilan hari berturut-turut, dipicu oleh eskalasi ketegangan antara AS dan Iran. Di samping itu, koreksi pada saham-saham teknologi serta insiden serangan baru di kawasan Teluk ikut mengikis optimisme pasar terhadap prospek kesepakatan damai yang segera terwujud antara kedua negara tersebut.

Indeks acuan S&P 500 mengalami penyusutan sebesar 0,7 persen ke level 7.555,82 poin. Sementara itu, indeks NASDAQ Composite yang didominasi oleh sektor teknologi melorot 0,9 persen menjadi 26.853,98 poin, dan indeks Dow Jones Industrial Average yang berisikan saham-saham unggulan (blue-chip) berkurang 1,2 persen ke posisi 50.688,43 poin.

“Penurunan harga hari ini lebih terlihat seperti rotasi daripada perubahan tren yang lebih luas. Saham teknologi berkapitalisasi besar telah mengalami kenaikan yang kuat, dan kami melihat beberapa aksi ambil untung jangka pendek di area yang paling terkait dengan tema AI, termasuk teknologi, layanan komunikasi, dan barang konsumsi non-esensial,” kata kepala investasi dan kepala strategi pasar di Truist, Keith Lerner, kepada Investing.com, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ia menambahkan bahwa di waktu yang bersamaan, pergerakan pasar sebenarnya cukup meluas di bawah permukaan. Sebanyak tujuh sektor terpantau mengalami penguatan hari ini, dengan sektor energi berada di posisi terdepan. 

Sektor yang mendapatkan bobot lebih tinggi dari Keith Lerner ini diuntungkan oleh lonjakan harga minyak akibat ketidakpastian yang masih menyelimuti potensi kesepakatan damai dengan Iran.

“Harga minyak yang lebih tinggi juga memberikan tekanan ke atas pada suku bunga. Kami juga melihat pergerakan ke area yang lebih defensif seperti barang-barang pokok,” katanya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Keith Lerner juga menilai bahwa tren pasar naik (bullish) masih sangat layak untuk dipercaya berkat ditopang oleh kinerja pendapatan perusahaan yang solid serta data ekonomi yang tetap tangguh. 

Kendati demikian, menyusul reli yang signifikan pada sektor-sektor pertumbuhan, ekspektasi pasar kini menjadi lebih tinggi. Kondisi inilah yang berpotensi memicu volatilitas pergerakan Wall Street dalam jangka pendek.

Mengenai situasi geopolitik, AS dan Iran diketahui saling melancarkan aksi balasan. Hubungan Washington dan Teheran semakin memanas di tengah ketidakjelasan format serta cakupan dari negosiasi damai kedua belah pihak. 

Pihak militer AS pada hari Selasa menyatakan telah menembak dan melumpuhkan sebuah kapal tanker minyak kosong yang kedapatan berlayar menuju pelabuhan milik Iran.

Komando Pusat AS mengumumkan bahwa mereka berhasil menghalau sejumlah serangan rudal dan pesawat tanpa awak (drone) dari Iran yang diarahkan ke wilayah Kuwait serta Bahrain. 

Sebagai respons atas tindakan tersebut, AS melancarkan serangan pertahanan diri di Pulau Qeshm. Di lain pihak, media resmi pemerintah Iran melaporkan bahwa angkatan bersenjata mereka telah membidik markas Armada Kelima AS yang berada di Bahrain beserta pangkalan AS di sekitarnya sebagai aksi balasan atas insiden di Pulau Qeshm.

Konflik militer terbaru ini langsung mengaburkan harapan publik bahwa AS dan Iran akan segera menyepakati penghentian perselisihan yang telah berjalan lebih dari tiga bulan tersebut. 

Padahal di saat yang sama, Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa proses dialog antara Washington dan Teheran sebenarnya masih terus diupayakan.

Fokus utama dalam perundingan tersebut mencakup persoalan ambisi nuklir yang dimiliki Iran serta pembukaan kembali jalur pelayaran vital di Selat Hormuz. 

Kondisi ini kian rumit setelah eskalasi pertempuran yang belakangan terjadi antara Israel dan kelompok Hizbullah di Lebanon ikut menjadi batu sandungan baru.

Padahal, berdasarkan laporan media pada hari Rabu yang mengutip Kantor Berita Fars Iran, pihak Iran disebut-sebut telah mengajukan sebuah rancangan peta jalan terstruktur dalam empat tahapan demi meraih kesepakatan damai dengan pihak AS.

Pada tahapan pertama, rencana tersebut mengharuskan penghentian total seluruh operasi militer di tiap lini. Langkah ini kemudian diikuti dengan pembukaan blokade, penghapusan sanksi perdagangan minyak, serta pengoperasian kembali Selat Hormuz. 

Untuk tahapan ketiga, pembicaraan akan diperluas mencakup isu sanksi dan nuklir, hingga akhirnya ditutup dengan pembentukan komite khusus yang bertugas mengawasi jalannya implementasi dari rencana empat fase tersebut.

Situasi geopolitik ini mendorong kenaikan harga minyak pada perdagangan Rabu. Harga minyak mentah berjangka Brent, yang menjadi tolok ukur global, terpantau naik 2,2 persen ke level USD 98,07 per barel. 

Kenaikan harga ini memperkuat kekhawatiran pasar atas potensi lonjakan inflasi akibat sektor energi, yang dinilai bisa mendorong bank sentral seperti Federal Reserve (The Fed) untuk menaikkan suku bunga acuan mereka. Sementara itu, komoditas emas mengalami penurunan harga, berbanding terbalik dengan mata uang dolar AS yang bergerak menguat.

Beralih ke sektor saham, industri teknologi di dalam indeks S&P 500 terkoreksi pada Rabu sekaligus menyudahi tren penguatan yang terjadi selama empat hari berturut-turut. 

Perusahaan Palo Alto Networks menjadi salah satu emiten yang mengalami kerugian, di mana harga sahamnya merosot 5,6 persen. Penurunan ini tetap terjadi meskipun raksasa di bidang keamanan siber tersebut melaporkan kinerja keuangan triwulan yang sebenarnya melampaui estimasi pasar.

Meski begitu, saham-saham di sektor cip justru bergerak positif. Indeks Semikonduktor Philadelphia, yang merupakan barometer utama untuk industri ini, membukukan hasil positif untuk sesi kesembilan dari total 11 sesi terakhir berkat serangkaian sentimen pendukung.

Dalam industri kecerdasan buatan (AI) selama beberapa hari terakhir, terdapat beberapa sentimen penting. Di antaranya adalah penggalangan dana berskala besar senilai USD 80 miliar oleh Alphabet, yang nilainya kemudian bertambah hingga mendekati USD 85 miliar pada hari Selasa. 

Selain itu, Anthropic berhasil mendahului kompetitor utamanya, OpenAI, dalam langkah awal menuju perusahaan publik.

Akselerasi yang cepat dalam ekosistem perdagangan AI secara umum telah membantu bursa saham AS bangkit dari tekanan dampak perang Iran dan kembali menyentuh level tertinggi sepanjang sejarah. 

Pada hari Selasa, tiga indeks utama di Wall Street bahkan mencatatkan rekor penutupan tertinggi untuk sesi kelima secara beruntun, sebuah pencapaian yang belum pernah terjadi lagi sejak tahun 2017.

Di sisi lain, pergerakan para pelaku pasar pada hari Rabu juga dipengaruhi oleh rilis kalender ekonomi AS, khususnya laporan bulanan dari ADP mengenai kondisi ketenagakerjaan di sektor swasta. 

Penyerapan tenaga kerja di sektor swasta tercatat mencapai 122 ribu pada bulan Mei, yang menjadi rekor pertumbuhan terbesar sejak Januari 2025. Pertumbuhan lapangan kerja ini tersebar di delapan dari total sepuluh subsektor yang ada.

Data tersebut mengindikasikan bahwa pasar tenaga kerja di AS masih menunjukkan performa yang kuat setelah sempat mengalami fase perlambatan menuju akhir tahun lalu.

Laporan data nonfarm payrolls edisi Mei yang akan dirilis pada hari Jumat diproyeksikan menjadi indikator utama berikutnya untuk melihat peta pertumbuhan lapangan kerja. 

Tren ketenagakerjaan yang positif ini diyakini memberikan ruang bagi The Fed untuk tetap fokus pada pengendalian inflasi di tengah lonjakan harga minyak akibat konflik Iran.

Pada hari Rabu, The Fed turut memublikasikan laporan Beige Book teranyar mereka, yang menunjukkan adanya peningkatan aktivitas ekonomi dalam skala kecil hingga moderat di 10 dari total 12 distrik regional bank sentral.

Sementara itu, data dari Institute for Supply Management (ISM) mengenai sektor jasa di AS secara umum terlihat kokoh, namun di sisi lain tetap mengindikasikan adanya tekanan inflasi. 

Indeks PMI jasa utama versi ISM merangkak naik ke posisi 54,5 pada bulan Mei, mencatatkan hasil yang lebih baik dari prediksi dan menunjukkan peningkatan dibandingkan bulan April.

Laporan tersebut juga menggarisbawahi bahwa selama tiga bulan berturut-turut, tidak ada satu pun komoditas yang mengalami penurunan harga. Kondisi ini membuat indeks harga secara keseluruhan menyentuh angka tertinggi mereka sejak Agustus 2022.

Reporter: Gemilang Ramadhan