IBST Optimalkan 3200 Menara dan Serat Optik Guna Genjot Pendapatan
JAKARTA – Perusahaan menara telekomunikasi dari Grup Djarum, PT Inti Bangun Sejahtera Tbk. (IBST) tengah menitikberatkan strategi pertumbuhan mereka pada optimalisasi aset yang sudah ada, yang mencakup 3.200 menara telekomunikasi serta hampir 19.500 kilometer jaringan serat optik.
Direktur IBST Doni Wilaga Kusuma mengungkapkan bahwa saat ini perusahaan tidak sekadar bertumpu pada ekspansi aset-aset baru, melainkan juga memaksimalkan produktivitas dari infrastruktur yang telah berjalan.
"Fokus utama perseroan saat ini adalah meningkatkan utilisasi dan produktivitas aset yang telah dimiliki," ujarnya dalam paparan publik, Kamis (4/6/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Pada lini bisnis menara, IBST konsisten mendorong penambahan kolokasi melalui peningkatan jumlah penyewa di lokasi-lokasi yang telah tersedia. Langkah ini dipandang mampu menaikkan pendapatan tanpa memerlukan pengeluaran belanja modal yang besar.
Di lain pihak, untuk lini bisnis serat optik, perusahaan tengah berupaya memaksimalkan monetisasi jaringan lewat beragam layanan konektivitas seperti connectivity, backhaul, Metro-E, leased line, beserta solusi berbasis serat optik lainnya.
Berdasarkan penjelasan Doni, peluang untuk mengoptimalkan aset ini kian terbuka lebar pasca IBST masuk ke dalam ekosistem bisnis Protelindo Group dan iForte.
Langkah sinergis ini membuka jalan bagi pemanfaatan aset secara lebih terpadu, memperluas jaringan pelanggan, serta meningkatkan efisiensi dalam mengelola infrastruktur telekomunikasi.
Dari sisi profitabilitas, IBST menorehkan lompatan kinerja yang sangat berarti di sepanjang tahun 2025. Direktur IBST Suciratin memaparkan bahwa EBITDA margin perusahaan melonjak ke angka 90,7% pada 2025 dari yang sebelumnya sebesar 67,2% pada 2024.
Peningkatan profitabilitas ini disebutnya tidak lepas dari bergabungnya perusahaan ke Protelindo Group yang mendatangkan beragam keuntungan strategis.
"Bergabungnya perseroan ke dalam Protelindo Group memberikan banyak manfaat strategis, baik dari sisi operasional, keuangan, maupun pengembangan bisnis," katanya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Bukan hanya mendapatkan akses ke skala usaha yang jauh lebih besar, IBST pun memperoleh implementasi praktik terbaik (best practice) yang lebih luas serta peluang kerja sama sinergis yang bisa menaikkan efisiensi sekaligus daya saing korporasi.
Lompatan profitabilitas tersebut sekaligus memperkokoh struktur finansial perusahaan di kala kebutuhan investasi untuk infrastruktur digital terus merangkak naik.
IBST juga membidik potensi pertumbuhan dari lini bisnis berbasis serat optik yang sekarang ini menyumbang sekitar 26% bagi keseluruhan pendapatan perusahaan.
Direktur IBST Catherine Sembiring Pelawi menerangkan bahwa porsi kontribusi tersebut ditopang oleh layanan fiber to the tower (FTTT) senilai 24%, fiber to the home (FTTH) berkisar 1%, serta layanan connectivity sebesar 1%.
Ke depannya, pihak manajemen akan terus berupaya mendongkrak kapasitas aset menara maupun serat optik sekaligus menaikkan tingkat utilisasinya.
"Perseroan dan manajemen akan berupaya untuk meningkatkan aset tower dan fiber optik serta meningkatkan utilisasinya seperti tenancy ratio dan utilization ratio," ujarnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Langkah strategis tersebut diproyeksikan mampu memperbesar porsi kontribusi bisnis non-menara bagi pendapatan korporasi pada beberapa tahun yang akan datang, selaras dengan semakin tingginya keperluan konektivitas data serta infrastruktur digital di tanah air.