Hartadinata Abadi Kejar Omzet 70 Triliun Rupiah Saat Harga Emas Turun

ILUSTRASI, HRTA (Sumber Gambar : Net)
Minggu, 07 Juni 2026 | 12:32:42 WIB

JAKARTA - PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) semakin aktif dalam memperkuat kedudukannya di sektor hilir industri emas. Langkah ekspansi pun tengah dipersiapkan oleh perusahaan, yang salah satunya diwujudkan melalui penambahan toko retail produk emas.

Thendra Crisnanda selaku Direktur Investor Relation Hartadinata Abadi menjelaskan bahwa saat melangsungkan Initial Public Offering (IPO) pada tahun 2017 silam, perusahaan hanya mengoperasikan 12 gerai. 

Namun, seiring berjalannya waktu, HRTA secara kontinu memperbanyak jaringan toko retailnya. Sampai pada pengujung triwulan pertama tahun 2026, jumlah gerai yang dimiliki sudah mencapai 85 unit di pelbagai wilayah Indonesia.

Pada prinsipnya, perluasan jaringan toko retail ini menjadi instrumen krusial bagi strategi perusahaan guna memperkokoh jalur distribusi produk, khususnya emas batangan bermerek Emasku langsung kepada pelanggan akhir.

Hingga akhir tahun 2026 mendatang, HRTA mematok target ekspansi berupa 15 gerai anyar, sehingga keseluruhan toko yang dikelola oleh emiten ini bakal genap berjumlah 100 unit. 

Target ini dinilai cukup moderat lantaran pihak manajemen saat ini tidak lagi menerapkan strategi ekspansi gerai yang terlalu agresif.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Fokus kami adalah memastikan setiap gerai yang dibuka benar-benar memberikan kontribusi terhadap laba perusahaan," kata Thendra saat paparan publik, Rabu (3/6/2026).

Pihak manajemen belum membeberkan secara mendetail mengenai titik lokasi gerai baru yang diproyeksikan berdiri pada tahun 2026 ini. 

Direktur Utama Hartadinata Abadi, Sandra Sunanto, menyampaikan bahwa tingkat daya beli masyarakat menjadi poin pertimbangan krusial bagi perusahaan sebelum mendirikan toko baru. 

Lewat kebijakan ini, perusahaan hanya akan berekspansi ke wilayah yang daya belinya memadai agar keberadaan gerai tersebut optimal dalam menyokong angka penjualan emas.

Perusahaan juga memilih untuk mempelajari karakteristik pasar di wilayah yang dibidik terlebih dahulu. Langkah tersebut diambil agar produk emas yang disediakan nantinya dapat menjawab kebutuhan pasar setempat. 

Ekspansi toko baru ini juga diprioritaskan pada kota-kota besar dengan potensi perputaran transaksi emas yang tinggi. Selain itu, perusahaan memastikan agar gerai baru yang didirikan tidak saling berdekatan atau bersaing secara langsung dengan toko emas mitra yang selama ini menyokong jalur distribusi mereka.

Perlu diketahui, di samping gerai resmi milik sendiri, perusahaan juga aktif memasarkan produk melalui jaringan toko emas mitra yang totalnya diestimasikan menyentuh 100.000 unit di seluruh Indonesia.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Jadi, keberhasilan kinerja kami tidak hanya dilihat dari jumlah toko sendiri, melainkan juga kemampuan dalam menjangkau pasar melalui jaringan partner," imbuh dia dalam kesempatan yang sama.

Direktur Keuangan Hartadinata Abadi, Ong Deny, menyambung bahwa nilai investasi yang diperlukan untuk mendirikan satu toko baru berkisar di angka Rp 5 miliar. Jumlah tersebut tentu tidak baku karena menyesuaikan dengan letak geografis serta dimensi bangunan toko.

Target Kinerja

Penambahan jaringan toko baru ini diproyeksikan mampu mendongkrak target keuangan perusahaan secara signifikan di tahun 2026. 

Sandra memaparkan bahwa pihaknya membidik perolehan pendapatan sebesar Rp 70 triliun pada tahun ini. Di samping itu, laba bersih perusahaan diproyeksikan mampu menyentuh rentang Rp 1,4 triliun hingga Rp 1,5 triliun.

Bila ditinjau dari aspek volume, HRTA menargetkan total produksi dan penjualan logam mulia sebanyak 25 ton sampai akhir tahun 2026.

Sebagai informasi, perusahaan membukukan capaian performa yang impresif pada kuartal pertama tahun 2026. Pendapatan perusahaan pada triwulan pertama tahun ini berada di angka Rp 20,16 triliun, atau mengalami pertumbuhan sebesar 196,96% year on year (yoy) dari capaian Rp 6,78 triliun pada triwulan pertama tahun 2025.

Laba bersih perusahaan pun melesat tajam sebesar 189,48% yoy menjadi Rp 433,49 miliar pada kuartal pertama tahun 2026, dari sebelumnya sebesar Rp 149,75 miliar pada periode yang sama tahun lalu. 

Lonjakan ini didorong oleh kenaikan volume penjualan logam mulia sebesar 75,18% secara tahunan menjadi 7,83 ton, beriringan dengan naiknya harga jual rata-rata (ASP) sebesar 71,01% secara tahunan menjadi Rp 2.567.213 per gram.

Berdasarkan segmen bisnisnya, perolehan omzet perusahaan masih didominasi oleh lini grosir yang menyumbang 90,60% terhadap total pendapatan, termasuk di dalamnya pasokan untuk institusi keuangan bullion bank serta beberapa bank syariah. Selanjutnya diikuti oleh lini ritel sebesar 9,13% dan lini bisnis gadai sebesar 0,26%.

Tidak hanya itu, perusahaan juga mengklaim posisinya sebagai pelaku usaha terbesar kedua dalam ekosistem bullion atau emas batangan di tanah air. Per kuartal pertama tahun 2026, market share domestik perusahaan bertengger di level 29,14%.

Sandra merasa optimistis target tersebut dapat direalisasikan walaupun harga emas global tengah berada dalam tren koreksi belakangan ini. Kendati demikian, ia menilai koreksi tersebut masih dalam batas wajar mengingat harga emas sebelumnya sudah melonjak sangat tinggi.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Kondisi sekarang justru lebih baik dibandingkan periode ketika harga emas bergerak liar seperti roller coaster," tutur dia.

Umumnya, saat pergerakan harga emas menjadi lebih stabil, animo masyarakat untuk membeli emas akan meningkat. 

Fluktuasi nilai tukar rupiah juga berpeluang memicu masyarakat untuk beralih menempatkan dananya pada emas sebagai instrumen safe haven (lindung nilai) yang aman. Faktor-faktor inilah yang melandasi optimisme perusahaan untuk terus mendulang kinerja optimal di tahun 2026.

Perusahaan tentu telah mengantisipasi potensi lonjakan permintaan emas dari publik. Salah satu langkahnya adalah dengan mengerek kapasitas produksi pabrik terintegrasi dari yang awalnya 48 ton per tahun menjadi 60 ton per tahun. 

Total kapasitas baru ini terbagi atas 30 ton per tahun untuk lini pembuatan perhiasan serta manufaktur bullion, dan 30 ton per tahun untuk sektor refinery atau pemurnian emas.

Di samping itu, perusahaan terus memperkuat citra HRTA Gold sebagai wadah transaksi jual beli produk emas batangan bermerek Emasku dan perhiasan bermerek Ardore. 

Tak berhenti di situ, perusahaan juga menaruh perhatian besar pada aspek kualitas serta standardisasi emas batangan yang dijual ke konsumen retail. Oleh sebab itu, perusahaan saat ini tengah menempuh proses sertifikasi London Bullion Market Association (LBMA) untuk lini produk Emasku.

Ong Deny menambahkan bahwa perusahaan menargetkan raihan sertifikasi dari LBMA tersebut sudah bisa diperoleh sebelum pengujung tahun 2026.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Sertifikasi dari LBMA berpotensi meningkatkan margin dari produk kami sekitar 1%--2%," pungkas dia.

Reporter: Gemilang Ramadhan