Bursa Saham Asia Diprediksi Melemah pada Awal Perdagangan Senin
JAKARTA – Pasar saham di kawasan Asia diproyeksikan bakal dibuka memerah pada awal pekan, Senin (8/6/2026). Pergerakan ini mengekor merosotnya saham-saham sektor teknologi secara masif di Wall Street, yang sekaligus menghentikan tren penguatan pasar selama sembilan minggu berturut-turut.
Kondisi pasar juga kian tertekan oleh eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah. Insiden serangan Israel ke wilayah Beirut telah mendorong lonjakan harga minyak mentah global serta memperkuat posisi mata uang dolar Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan laporan Reuters, pergerakan exchange-traded fund serta kontrak berjangka AS pada Jumat (5/6) memberi petunjuk adanya koreksi yang cukup dalam pada pasar saham di Jepang dan Korea Selatan. Pada saat yang sama, futures indeks S&P 500 juga terpantau turun 0,2% pada awal perdagangan di Asia.
Sementara itu di bursa Wall Street, indeks Nasdaq jatuh hingga 4,2% pada hari Jumat kemarin. Kejatuhan ini utamanya disebabkan oleh aksi lepas saham-saham semikonduktor menyusul rilis data tenaga kerja AS yang melampaui estimasi.
Data tersebut memicu kekhawatiran bahwa bank sentral AS atau Federal Reserve bakal mempertahankan tingkat suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.
Tren ini pun langsung mengerem reli saham-saham teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) yang sebelumnya menjadi motor penggerak utama bursa saham di AS.
Kepala Strategi Makro Pasar BNY, Bob Savage, berpendapat bahwa asumsi mengenai kecerdasan buatan yang bakal terus menjadi motor utama penggerak pasar kini mulai diuji.
"Pertanyaan utamanya saat ini adalah apakah ini hanya jeda sehat setelah reli sembilan pekan atau justru menjadi sinyal pembentukan puncak pasar," ujar Savage sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Bob Savage melanjutkan, fokus para pelaku pasar saat ini turut terpecah pada rencana penawaran umum saham perdana (IPO) dengan nilai fantastis dari beberapa perusahaan, termasuk SpaceX dan Anthropic, yang berisiko menyerap likuiditas pasar dalam volume yang masif.
Proses penentuan harga IPO SpaceX sendiri diestimasikan berlangsung pada Kamis (11/6) dan sahamnya bakal mulai diperdagangkan pada Jumat (12/6).
Setelah itu, pasar pun bersiap menyambut penawaran umum perdana dari korporasi teknologi AI lainnya seperti Anthropic dan OpenAI. Sejumlah pengamat pasar merasa cemas bahwa besarnya perputaran dana yang diperlukan guna menyerap aksi IPO tersebut bakal memicu perpindahan modal dari instrumen investasi lainnya.
Di samping itu, perhatian para investor pada pekan ini juga akan tertuju pada rilis data inflasi AS yang dijadwalkan pada Rabu (10/6), di samping keputusan kebijakan suku bunga dari bank sentral Eropa serta Kanada.
Beralih ke pasar obligasi, imbal hasil untuk Treasury AS dengan tenor dua tahun meroket hingga di atas 11 basis poin pada Jumat kemarin. Sebaliknya, kontrak futures Treasury untuk tenor 10 tahun kembali menunjukkan pelemahan pada sesi perdagangan di Asia pagi ini.
Sementara dari industri kripto, mata uang Bitcoin membukukan penurunan mingguan paling dalam sejak peristiwa tumbangnya bursa kripto FTX di penghujung tahun 2022 yang lalu.
Sepanjang pekan kemarin, nilai Bitcoin mengalami koreksi berkisar 16% dan diperdagangkan di bawah level US$ 63.000 pada Senin pagi ini. Di sisi lain, memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah kembali menyita perhatian pelaku pasar.
Harga minyak mentah jenis Brent merangkak naik sekitar 2,6% menuju level US$ 95,45 per barel selepas Iran melancarkan serangan balasan berupa rudal ke sejumlah titik di Israel sebagai respons atas aksi penyerangan Israel ke Beirut sebelumnya.
Kendati demikian, aliansi negara produsen minyak OPEC+ pada Minggu (7/6) melahirkan kesepakatan untuk menaikkan target produksi minyak mereka selama empat bulan berturut-turut.
Pada pasar valuta asing, pergerakan dolar AS merambat naik dan mampu bertahan di atas level 160 yen Jepang. Dominasi dolar AS ini pun turut menekan pergerakan beberapa mata uang utama dunia lainnya, sementara mata uang euro terpantau berada pada kisaran US$ 1,1518.