IHSG Berpotensi Turun ke Level 5.941, Simak Pilihan Saham Pilihan

ILUSTRASI, IHSG Melemah (Sumber Gambar : Net)
Selasa, 09 Juni 2026 | 12:05:37 WIB

JAKARTA - Sejumlah analis memperkirakan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada hari Selasa, 9 Juni 2026, berisiko meneruskan tren koreksi dan merekomendasikan deretan saham pilihan untuk sesi perdagangan hari ini.

Berdasarkan data resmi dari IDX Mobile pada Senin (8/6/2026), IHSG tergelincir sedalam 254,36 poin atau melemah 4,11% ke level 5.941,07 pada saat penutupan pasar.

Pada perdagangan hari kemarin, indeks saham bergerak cukup dinamis dengan titik terendah di level 5.842 dan titik tertinggi di level 6.213,18. 

Dari sisi likuiditas, nilai transaksi keseluruhan pada hari tersebut menembus Rp25,19 triliun, didorong oleh volume perdagangan saham yang mencapai 36,2 miliar lembar.

Sementara itu, frekuensi transaksi perdagangan tercatat sebanyak 2,72 juta kali. Sepanjang sesi tersebut, tercatat hanya 75 saham yang sanggup bertahan di zona hijau, sedangkan 726 saham terpangkas ke zona merah, dan 158 saham lainnya bergerak stagnan.

Sejumlah emiten yang menjadi penekan utama indeks LQ45 di antaranya saham PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) yang anjlok 14,91% ke posisi Rp3.310, disusul saham PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) yang merosot 12,12% ke level Rp2.320.

Selanjutnya, saham PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) melemah 11,98% ke harga Rp294. Saham PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. (ANTM) juga menyusut 11,82% ke level Rp2.610, serta saham PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk. (ADMR) jatuh 10% ke harga Rp1.305.

Analis dari MNC Sekuritas memproyeksikan posisi IHSG saat ini tengah berada di bagian dari wave (v) dari wave [v] dari wave 5. "Cermati 5.184-5.282 sebagai area koreksi berikutnya," sebagaimana dilansir dari berita sumber riset MNC Sekuritas, Selasa (9/6/2026).

Para analis memperkirakan area support IHSG akan berada di kisaran 5.261 dan 5.191, sementara area resistance diproyeksikan pada level 5.462 dan 5.594. 

MNC Sekuritas merekomendasikan para investor untuk menerapkan strategi buy on weakness pada saham PT Astra International Tbk. (ASII), PT Buana Listya Tama Tbk. (BULL), PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA), dan PT PAM Mineral Tbk. (NICL).

Sebelumnya, Equity Analyst Indo Premier Sekuritas Hari Rachmansyah menilai bahwa secara teknikal, tren koreksi di pasar saham masih tergolong kuat hingga saat ini, dengan pola penurunan yang belum menunjukkan indikasi pembalikan arah (reversal) yang signifikan.

Ia berpendapat, dalam kondisi pasar seperti sekarang, strategi paling tepat yang harus diterapkan oleh para investor adalah memprioritaskan keamanan modal dengan mengurangi porsi pada saham-saham lapis kedua dan ketiga yang memiliki tingkat likuiditas rendah.

Selain itu, Hari mengingatkan para investor untuk tidak terburu-buru melakukan pembelian saham di bawah (averaging down) secara agresif sebelum adanya kepastian stabilitas nilai tukar rupiah serta indikasi titik jenuh bawah yang valid dari harga saham.

”Bagi investor jangka menengah, manfaatkan momentum ini untuk selektif mencermati saham-saham big caps di sektor perbankan dan consumer staples yang valuasinya sudah sangat atraktif secara historis, tetapi tetap masuk secara bertahap dengan alokasi porsi kecil sembari menunggu kepastian arah kebijakan moneter BI,” sebagaimana dilansir dari berita sumber keterangan resminya, Senin (8/6/2026).

Reporter: Gemilang Ramadhan