Harga Minyak Dunia Melesat Dua Persen Akibat Tensi AS dan Iran

ILUSTRASI, Kilang Minyak (Sumber Gambar : Net)
Kamis, 11 Juni 2026 | 13:15:38 WIB

NEW YORK – Nilai jual minyak global berakhir melesat pada sesi perdagangan Rabu (10/6/2026) waktu setempat, menyusul gertakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang bakal menggempur Iran secara ‘sangat keras’ andai kesepakatan damai gagal diraih.

Melansir laporan Reuters, harga minyak mentah jenis Brent ditutup menguat US$ 1,65 (1,8%) menuju level US$ 93,10 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menanjak sebesar US$ 1,83 (2%) ke posisi US$ 90,03 per barel.

Kedua jenis kontrak berjangka tersebut sempat melambung kisaran US$ 3 pada perdagangan intraday setelah Trump kembali menegaskan bahwa Iran akan kembali dijadikan target operasi militer AS menyusul aksi saling tembak yang pecah semalam, yang merupakan salah satu friksi paling akut sejak kesepakatan gencatan senjata pada April lalu.

“Iran terlalu lama bernegosiasi. Mereka akan membayar harganya,” kata Trump sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Kendati demikian, tren penguatan harga minyak sedikit melandai mendekati penutupan pasar setelah Trump membeberkan bahwa angkatan bersenjata AS secara rahasia melakukan pengawalan terhadap kapal-kapal tanker yang mengangkut di atas 100 juta barel minyak melewati Selat Hormuz.

Menurut klaim Trump, andai operasi senyap tersebut tidak dilakukan, harga minyak dunia berpotensi melambung jauh lebih tinggi lagi.

Analis Senior Price Futures Group Phil Flynn memberikan pandangan bahwa pasar minyak saat ini kembali memprioritaskan kalkulasi risiko geopolitik setelah tensi antara AS dan Iran meninggi.

“Harga minyak bergerak dari fase kecemasan ke ketenangan, lalu kembali cemas akibat bentrokan terbaru antara AS dan Iran,” ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Eskalasi situasi memuncak pasca militer AS meluncurkan serangan balasan ke titik-titik pertahanan Iran sebagai respons atas jatuhnya helikopter tempur Apache kepunyaan AS.

Di hari yang sama, komando militer AS turut mengumumkan serangan presisi terhadap satu unit kapal di Teluk Oman yang dituding membawa pasokan minyak Iran.

Rentetan peristiwa tersebut kembali menghadirkan premi risiko geopolitik di sektor pasar energi global.

“Meski upaya diplomatik masih berlangsung, pertukaran serangan militer terbaru telah menghidupkan kembali premi risiko geopolitik di pasar minyak,” kata Analis Pasar Senior Phillip Nova, Priyanka Sachdeva sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di samping faktor ketegangan geopolitik, grafik harga minyak juga memperoleh stimulus positif dari rilis data stok energi milik AS.

Badan Informasi Energi AS (EIA) mempublikasikan stok minyak mentah di Negeri Paman Sam merosot hingga 7,2 juta barel pada pekan yang berakhir 5 Juni.

Realisasi penurunan tersebut jauh melampaui estimasi para analis yang memprediksi penyusutan hanya di kisaran 4 juta barel.

Penyusutan yang cukup masif ini terjadi di kala kompleks kilang minyak menggenjot kapasitas produksi guna mensubstitusi hambatan suplai imbas konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah.

Laporan resmi EIA juga memperlihatkan bahwa cadangan minyak bumi dalam Strategic Petroleum Reserve (SPR) berada pada titik terendah sejak Agustus 2023.

Menanggapi lonjakan harga komoditas energi ini, Departemen Energi AS merilis skema penyaluran pinjaman minyak hingga 40 million barel dari cadangan SPR kepada korporasi-korporasi energi demi mengendalikan laju harga bahan bakar.

Para pelaku pasar pun terus memantau dinamika di Selat Hormuz, rute pelayaran vital yang umumnya mengakomodasi sekitar 20% pasokan global minyak mentah dan gas alam cair (LNG).

Walau beberapa kapal dilaporkan masih bisa melintas, intensitas lalu lintas maritim di wilayah tersebut masih berada jauh di bawah level normal sebelum pecahnya konflik.

Iran dikabarkan masih membatasi mayoritas mobilitas pelayaran di Selat Hormuz, sementara Washington turut memperketat tekanan ekonomi pada pelabuhan-pelabuhan milik Iran.

Di koridor lain, Organisasi Pengawas Nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Rabu meresmikan resolusi yang diinisiasi AS, yang mendesak Teheran untuk memaparkan sisa cadangan uranium yang diperkaya serta membuka akses untuk verifikasi lebih lanjut.

Analis PVM Tamas Varga berpendapat bahwa berkurangnya cadangan minyak global saat ini masih menjadi pilar utama penyokong tingkat harga.

Meski begitu, tren penurunan volume impor minyak dari China turut menahan laju penguatan agar tidak meroket lebih jauh.

Melambungnya harga energi ini juga mulai berimbas pada tingkat inflasi AS, yang pada bulan Mei melaju ke fase tercepatnya dalam kurun waktu tiga tahun terakhir.

Realitas ini memperlebar spekulasi pasar bahwa The Fed memiliki peluang untuk kembali menaikkan suku bunga acuan di akhir tahun nanti.

Reporter: Gemilang Ramadhan