Harga Emas Merosot Tajam Imbas Kebijakan Moneter The Fed

ILUSTRASI, emas (Sumber Gambar : Net)
Jumat, 19 Juni 2026 | 12:15:41 WIB

NEW YORK – Nilai komoditas emas merosot tajam pada sesi perdagangan Kamis (18/6/2026), walaupun sempat menunjukkan penguatan di sepanjang jam perdagangan.

Kondisi tersebut terjadi akibat imbas kebijakan moneter The Fed yang cenderung ketat (hawkish) beserta lonjakan mata uang dolar AS hingga menyentuh posisi tertingginya dalam kurun setahun terakhir. Sebagaimana dilansir dari berita sumber, koreksi yang menimpa emas turut dipicu oleh berkurangnya kekhawatiran terhadap inflasi pasca-tercapainya pakta gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, yang pada prosesnya ikut memangkas nilai minyak sekaligus meredam ekspektasi inflasi dunia.

Nilai emas spot ditutup merosot 1,14% menuju level US$ 4.209,15 per ons troi. Di sesi sebelumnya, harga komoditas ini sempat terjerembap ke posisi paling rendah semenjak November 2025. Di sisi lain, nilai emas berjangka AS berakhir anjlok 3,51% ke posisi US$ 4.227,75 per ons troi.

“Hal paling signifikan adalah perubahan nada The Fed yang lebih hawkish. Itu mendorong dolar ke level tertinggi tahun ini, sehingga emas berada di bawah tekanan,” ujar Vice President sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals Peter Grant.

The Fed dalam rapat teranyar tetap mempertahankan tingkat suku bunga mereka, akan tetapi sembilan dari 19 otoritas moneter masih melihat adanya potensi pengetatan suku bunga di penghujung tahun. 

Para pelaku pasar saat ini memproyeksikan potensi kenaikan suku bunga pada Desember menyentuh angka 85%, melonjak dari posisi 61% sebelum rilis maklumat kebijakan, merujuk pada CME FedWatch Tool.

Laju indeks dolar AS merangkak naik pasca-pengumuman dari The Fed dan sempat menggapai posisi tertinggi dalam satu tahun, yang mengakibatkan emas yang dinilai dengan mata uang dolar menjadi terasa lebih tinggi bagi para pembeli di tingkat global.

Emas, sebagai instrumen investasi tanpa imbal hasil (non-yielding asset), lazimnya bakal terbebani dalam situasi suku bunga yang melambung tinggi. Tekanan sendiri sejatinya telah berembus sejak awal mula pertikaian di Timur Tengah, selaras dengan melesatnya harga energi yang memicu kekhawatiran atas inflasi.

Dari lanskap geopolitik, pihak AS dan Iran telah mempublikasikan draf kesepakatan temporer yang ditandatangani oleh kedua belah pihak demi menyudahi konflik. 

Walau demikian, Presiden AS Donald Trump tetap melayangkan ancaman untuk menggulirkan gempuran lanjutan andai Iran kedapatan melanggar isi pakta tersebut.

Pada sektor energi, nilai minyak jenis Brent melosot ke level paling rendah semenjak 2 Maret. Sementara itu, nilai minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) terjerembap ke posisi terendah semenjak 4 Maret.

Di saat yang sama, komoditas logam mulia lainnya pun ikut terseret ke zona merah. Nilai perak spot anjlok hingga 3,22% menjadi US$ 65,72 per ons, platinum terkoreksi 2,39% ke posisi US$ 1.689,73 per ons, serta palladium ikut merosot 2,94% menuju angka US$ 1.282,6 per ons.

Reporter: Gemilang Ramadhan