Saham Teknologi dan Semikonduktor Pacu Penguatan Wall Street

Ilustrasi: Indeks Nasdaq Composite menguat 1,91% didorong oleh saham teknologi pada perdagangan Kamis (18/6/2026). (Foto: NET)
Jumat, 19 Juni 2026 | 13:25:15 WIB

NEW YORK – Pasar saham Wall Street sukses memulihkan posisinya pada sesi perdagangan Kamis (18/6/2026), setelah sehari sebelumnya sempat tertekan oleh sinyal dari The Fed yang membuka peluang kenaikan suku bunga pada tahun ini. Peningkatan performa pasar ini didorong oleh aksi buru investor terhadap saham-saham di sektor teknologi dan semikonduktor.

Dalam penutupan pasar, indeks Nasdaq Composite melonjak tajam 1,91% menuju level 26.517,93, sementara indeks S&P 500 ikut terangkat 1,08% ke posisi 7.500,58. Di sisi lain, indeks Dow Jones Industrial Average juga mencatatkan penguatan tipis sebesar 72,15 poin atau 0,14% ke level 51.564,70.

Saham emiten produsen chip menjadi motor penggerak utama dalam reli pasar kali ini setelah Intel meroket hingga 10,6%. Lonjakan signifikan tersebut terjadi pasca-pengumuman dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terkait jalinan kemitraan strategis antara Intel dan Apple untuk pengembangan chip di dalam negeri AS.

Kabar positif ini pun memicu penguatan pada saham-saham semikonduktor lainnya, seperti Nvidia yang naik kisaran 3% dan Micron Technology yang melesat hampir 9%. Sejalan dengan itu, iShares Semiconductor ETF juga terpantau menguat di atas 6%.

Chief Executive Officer The Wealth Alliance, Robert Conzo, berpendapat bahwa pelaku pasar saat ini mulai memperlihatkan rasa optimisme terhadap potensi kolaborasi antarperusahaan dalam membangun infrastruktur kecerdasan buatan atau AI. 

“Ada optimisme yang lebih besar terhadap kerja sama antarperusahaan karena kebutuhan infrastruktur AI dan dampak AI di berbagai industri,” ujar Conzo, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menurut pandangannya, kemitraan yang terjalin antara Apple dan Intel berpotensi menjadi stimulus awal bagi berbagai kolaborasi strategis lain di masa mendatang. Pemulihan pasar ini terjadi setelah gelombang aksi jual pada hari sebelumnya, yang dipicu oleh hasil pertemuan kebijakan ekonomi The Fed di bawah kepemimpinan Kevin Warsh.

Berdasarkan proyeksi terbaru atau dot plot, sembilan dari 18 pejabat di internal The Fed memperkirakan bahwa suku bunga masih berpeluang naik pada tahun 2026. 

Warsh sendiri memilih untuk tidak memberikan proyeksi pribadinya, namun ia terus menyuarakan pentingnya menjaga stabilitas harga, sebuah langkah yang diartikan oleh pasar sebagai sinyal hawkish.

Kendati demikian, para penanam modal kini mulai mengalihkan fokus mereka pada beragam data ekonomi yang memperlihatkan kekokohan ekonomi AS. “Ada ketidakpastian, tetapi di balik ketidakpastian itu terdapat sejumlah faktor positif,” kata Conzo, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ia menggarisbawahi realisasi laba perusahaan yang kokoh, data ketenagakerjaan bulan Mei yang mencatatkan hasil di luar perkiraan, serta tingkat penjualan ritel yang tetap stabil sebagai penopang optimisme di pasar saat ini. 

Dalam basis mingguan, Wall Street mengakhiri pekan perdagangan pendek karena libur nasional ini dengan tren positif, di mana S&P 500 menguat sebanyak 0,9%, Dow Jones naik 0,7%, dan Nasdaq melesat hingga 2,4%.

Reporter: Gemilang Ramadhan