Saham Semikonduktor Meroket Indeks Wall Street Ditutup Menguat
NEW YORK – Indeks utama di bursa saham Wall Street berhasil mengakhiri perdagangan hari Kamis (18/6/2026) di zona hijau. Penguatan ini ditopang oleh melesatnya saham-saham di sektor semikonduktor serta kembalinya rasa percaya diri para investor. Situasi positif ini merebak setelah Amerika Serikat dan Iran menyepakati perjanjian damai interim, yang berhasil meredam kecemasan pasar terhadap lonjakan inflasi akibat ketidakpastian harga energi.
Dalam pergerakan pasar tersebut, indeks Nasdaq menjadi yang paling unggul dengan kenaikan sebesar 1,91% hingga bertengger di level 26.517,93.
Di sisi lain, indeks S&P 500 ikut terdongkrak 1,08% ke posisi 7.500,58, sedangkan Dow Jones Industrial Average mengalami pertumbuhan tipis 0,14% menjadi 51.564,70.
Laju penguatan pasar modal ini dipimpin oleh sektor semikonduktor, yang terlihat dari meroketnya Indeks Philadelphia Semiconductor sebesar 6,4%, jauh melampaui performa pasar secara umum.
Lonjakan ini didorong oleh saham Intel yang melesat 10,6% pada penutupan perdagangan, usai Presiden AS Donald Trump membeberkan bahwa Apple telah sepakat menjalin kemitraan dengan Intel dalam merancang sekaligus memproduksi cip di dalam negeri Amerika Serikat.
Pelaku pasar pun menyambut baik kemajuan hubungan diplomatik antara AS dan Iran, yang berdampak pada merosotnya harga minyak ke titik terendah sejak awal Maret lalu.
Kedua belah pihak telah menyepakati perjanjian temporer yang memperpanjang masa gencatan senjata bulan April selama 60 hari ke depan, guna membuka jalur perundingan menuju perdamaian abadi.
Redanya ketegangan geopolitik ini otomatis memangkas kekhawatiran para penanam modal terhadap ancaman inflasi, yang sebelumnya sempat memanas akibat melonjaknya harga minyak sejak konflik pecah di akhir Februari.
Selain itu, jalur perdagangan laut di Selat Hormuz juga dilaporkan mulai beroperasi normal kembali setelah sempat mengalami gangguan akibat perselisihan tersebut.
“Secara keseluruhan, paket data yang ada masih mendukung pasar meskipun The Fed kini terlihat sedikit lebih hawkish,” kata Chief Investment Officer SignatureFD, Tony Welch, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Pembalikan arah pasar ke zona hijau ini terjadi hanya berselang satu hari setelah Wall Street sempat tertekan oleh pernyataan Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, yang mempertegas komitmen kuat bank sentral dalam mengendalikan laju inflasi.
Pernyataan dari pimpinan bank sentral tersebut memicu spekulasi di kalangan pelaku pasar bahwa peluang peningkatan suku bunga acuan masih tetap terbuka pada tahun ini.
Merujuk pada data FedWatch CME Group, para pelaku pasar kini memperkirakan ada probabilitas sekitar 50% untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan September nanti, sementara kemungkinan kenaikan sebesar 50 basis poin berada di angka kisaran 20%.
Di sisi lain, Chief Equity and Macro Strategist Cantor, Eric Johnston, memberikan pandangan bahwa dinamika terbaru ini memperlihatkan bahwa bank sentral memiliki kredibilitas yang semakin kokoh dalam meredam inflasi.
Dari total 11 sektor utama yang ada di dalam S&P 500, tercatat lima sektor berhasil finish di zona hijau, di mana sektor teknologi memimpin pergerakan dengan kenaikan 2,7% yang kemudian diikuti oleh sektor consumer discretionary sebesar 1,8%.
Saham-saham yang bergerak di industri pariwisata dan perjalanan juga ikut terkerek naik seiring dengan proyeksi penurunan harga bahan bakar, yang pada gilirannya memberikan angin segar bagi saham maskapai penerbangan serta perusahaan operator kapal pesiar. Dampaknya, indeks Dow Jones Transport tercatat mengalami penguatan sebesar 0,5%.
Kondisi positif ini juga menjalar ke indeks saham berkapitalisasi kecil, Russell 2000, yang ikut menanjak sebesar 2% sekaligus mencatatkan rekor tertinggi baru untuk posisi penutupannya.
Sentimen pendukung lainnya datang dari rilis data ekonomi Departemen Tenaga Kerja AS yang menunjukkan adanya penurunan pada jumlah klaim tunjangan pengangguran mingguan, sebuah indikator yang menandakan bahwa angka pemutusan hubungan kerja masih berada di level yang rendah.
Kendati demikian, performa positif ini tidak merata di seluruh sektor, mengingat indeks sektor perangkat lunak dan layanan S&P 500 justru terkoreksi 0,7% hingga menyentuh level terendahnya dalam periode dua bulan terakhir.
Kemerosotan di sektor ini dipicu oleh anjloknya saham Accenture sebesar 18% setelah manajemen memutuskan untuk memangkas batas atas dari target proyeksi pendapatan tahunan mereka.
Sentimen negatif tersebut turut menyeret emiten sejenis lainnya, seperti saham Cognizant Technology Solutions, Gartner, dan IBM yang ikut merosot di kisaran antara 4,5% hingga 10,5%.
Sementara itu dari industri ritel, saham Kroger juga melemah sebesar 8,4% setelah melaporkan perolehan laba kuartal pertama yang tidak mencapai ekspektasi pasar serta memilih untuk tidak mengubah proyeksi tahunannya.
Di samping itu, saham SpaceX kepunyaan Elon Musk terpantau turun 3,6% selama dua hari berturut-turut, setelah sempat mengalami tren penguatan yang sangat masif pada momen awal debutnya di pekan lalu.
Di tengah dinamika tersebut, volume perdagangan di bursa saham AS melonjak tajam hingga menyentuh angka 33,59 miliar saham, angka yang berada jauh di atas rata-rata transaksi 20 hari perdagangan terakhir yang sebesar 21,83 billion saham.
Tingginya aktivitas perdagangan ini salah satunya dipicu oleh momentum kedaluwarsa simultan dari kontrak derivatif saham, opsi indeks, serta kontrak berjangka secara bersamaan, atau yang populer dengan istilah fenomena "triple witching". Siklus berkala ini memang kerap memicu lonjakan signifikan pada volume transaksi sekaligus meningkatkan volatilitas di pasar saham.