Wall Street Variatif, Nasdaq Turun 1,32 Persen Dipicu Saham AI
JAKARTA – Perdagangan di bursa saham Wall Street ditutup dengan pergerakan yang variatif pada hari Senin (22/6/2026) waktu setempat. Indeks Nasdaq dan S&P 500 terpantau mengalami pelemahan karena tertekan oleh kemerosotan saham-saham di sektor teknologi yang memiliki kapitalisasi pasar besar, salah satunya adalah Alphabet.
Di samping hal tersebut, para pelaku pasar saat ini tengah mengamati dengan cermat perkembangan terbaru mengenai proses negosiasi yang berlangsung antara pihak Amerika Serikat dan Iran.
Merujuk pada data yang dirilis oleh Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average berhasil mencatatkan penguatan sebesar 148,01 poin atau sekitar 0,29 persen menuju ke level 51.712,71.
Sebaliknya, indeks S&P 500 mengalami koreksi sedalam 27,79 poin atau 0,37 persen ke posisi 7.472,79, diikuti oleh Nasdaq Composite yang terpangkas hingga 351,33 poin atau 1,32 persen ke level 26.166,60.
Pada sisi yang berbeda, indeks Dow Jones sanggup mengakhiri perdagangan di zona hijau berkat sokongan dari pergerakan positif saham-saham sektor industri dan kesehatan.
Namun, saham SpaceX justru mengalami kemerosotan tajam hingga 16,4 persen. Penurunan tersebut tercatat sebagai pelemahan harian paling dalam sepanjang sejarah perusahaan, yang sekaligus memberikan beban berat bagi laju indeks Nasdaq Composite.
Kendati demikian, posisi perdagangan saham SpaceX dilaporkan masih berada di atas nilai penawaran umum perdana saham (IPO), yakni pada angka USD135 per lembar saham.
Perusahaan kedirgantaraan milik Elon Musk tersebut diketahui baru saja merilis penawaran utang perdana mereka pada hari Senin, serta mempublikasikan kepemilikan kas maupun setara kas yang mencapai kisaran USD100,8 miliar per tanggal 19 Juni.
Sentimen positif seputar perkembangan kecerdasan buatan (AI) memang menjadi motor penggerak utama reli panjang di Wall Street selama ini. Akan tetapi, para investor saat ini mulai meragukan nilai belanja infrastruktur yang sangat masif yang digelontorkan oleh emiten-emiten hyperscaler.
Akibatnya, saham Alphabet terkoreksi hingga 5 persen, sementara saham raksasa teknologi lain seperti Meta, Amazon, dan Microsoft ikut menyusut di kisaran antara 2,3 persen hingga 4,7 persen.
Sebagai target pengamatan pasar berikutnya, para pelaku modal tengah menantikan laporan keuangan kuartalan dari Micron Technology yang dijadwalkan meluncur pada hari Rabu esok. Sebagai catatan penting, nilai saham produsen chip memori ini telah meroket hampir mencapai 300 persen sepanjang tahun berjalan ini.
Dari sebelas sektor utama yang ada dalam S&P, tujuh di antaranya berhasil mendarat di zona hijau dengan performa terbaik dipimpin oleh sektor energi dan real estat. Sementara itu, sektor jasa komunikasi menjadi sektor dengan kinerja paling jeblok setelah terpuruk dengan penurunan mencapai 3,8 persen.
Kondisi harga minyak mentah dunia juga dilaporkan mengalami penurunan nilai jual. Hal ini terjadi pasca tercapainya kesepakatan antara Washington dan Teheran mengenai peta jalan kerja sama demi menuju komitmen final dalam tenggat waktu 60 hari.
Pihak penengah mengutarakan bahwa jajaran pejabat dari AS dan Iran telah mendapatkan “kemajuan besar” dalam rangkaian awal diskusi mereka yang digelar di Swiss, walaupun situasi panas masih menyelimuti kawasan Selat Hormuz dan Lebanon, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Perhatian pasar pada pekan ini dipastikan akan beralih pada rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) yang akan keluar pada hari Kamis mendatang.
Data ini merupakan indikator utama inflasi inti yang paling diperhatikan oleh bank sentral AS. Jika realisasi angka tersebut melampaui estimasi awal, maka prediksi mengenai penerapan kebijakan moneter ketat bisa semakin kuat, terlebih setelah Ketua The Fed, Kevin Warsh, memberikan penekanan terkait pentingnya meredam laju inflasi pada pekan lalu.
Berdasarkan data tebaru dari LSEG, proyeksi pasar saat ini mengarah pada adanya kenaikan tingkat suku bunga acuan sebesar 25 basis poin yang akan diambil oleh The Fed pada pertemuan bulan September mendatang.
Sementara di bursa New York Stock Exchange (NYSE), pergerakan emiten yang melemah tercatat lebih mendominasi dibandingkan yang menguat dengan perbandingan rasio sebesar 1,32 banding 1.
Terhitung ada 345 saham yang mampu menyentuh rekor tertinggi baru, berbanding terbalik dengan 200 saham yang harus terperosok ke rekor terendah baru.
Di lain tempat, pada papan perdagangan bursa Nasdaq, sebanyak 2.078 saham bergerak naik dan 2.773 saham bergerak turun, mencatatkan perbandingan rasio saham melemah terhadap saham menguat sebesar 1,33 banding 1.
Indeks S&P 500 sendiri mencatatkan 29 level tertinggi baru dan 33 level terendah baru dalam rentang periode 52 minggu terakhir.
Terakhir, indeks Nasdaq Composite mencatatkan perolehan 144 level tertinggi baru serta 186 level terendah baru. Aktivitas volume transaksi perdagangan di seluruh bursa saham AS secara total menembus 22,97 miliar lembar saham, angka yang melampaui catatan rata-rata perputaran harian selama 20 hari perdagangan terakhir yang berada di angka 22,12 miliar saham.