Dolar AS Capai Puncak Setahun, Harga Emas Global Anjlok

ILUSTRASI, Emas Batangan (Sumber Gambar : Net)
Rabu, 24 Juni 2026 | 12:17:08 WIB

NEW YORK – Nilai emas global merosot pada sesi perdagangan Selasa (23/6/2026), menyusul keperkasaan dolar Amerika Serikat (AS) yang menyentuh titik tertinggi dalam kurun waktu lebih dari satu tahun.

Keadaan ini mereduksi daya tarik logam mulia seiring meningkatnya ekspektasi pasar terkait kenaikan suku bunga acuan The Fed. Harga emas di pasar spot ditutup turun sebesar 1,94% ke level US$ 4.110,11 per ons troi. Pada saat yang sama, kontrak berjangka emas AS untuk masa pengiriman Agustus ditutup melemah 1,75% ke posisi US$ 4.129 per ons troi.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, penguatan nilai dolar AS menjadi rintangan utama bagi laju komoditas emas. Mata uang Negeri Paman Sam tersebut melonjak ke level tertingginya dalam setahun lebih, sehingga menyebabkan harga emas menjadi lebih mahal bagi para pelaku pasar yang bertransaksi menggunakan mata uang di luar dolar.

Senior Market Strategist StoneX Bob Haberkorn mengungkapkan bahwa perhatian pelaku pasar saat ini lebih terfokus pada arah kebijakan moneter di AS dibandingkan situasi geopolitik yang berlangsung di Timur Tengah. Sebagaimana dilansir dari berita sumber, “Untuk saat ini, emas dan perak tidak terlalu memperhatikan situasi di Timur Tengah. Investor lebih fokus pada pesan yang disampaikan The Fed pekan lalu,” ujarnya.

Para pelaku pasar kian meyakini bahwa The Fed akan menaikkan kembali tingkat suku bunga menyusul sinyal hawkish dari Ketua The Fed Kevin Warsh yang menegaskan komitmen kuatnya untuk menekan laju inflasi. 

Faktor penghambat ini mendorong investor untuk memperbesar spekulasi terhadap kenaikan suku bunga pada beberapa bulan mendatang. 

Berdasarkan data CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga untuk bulan Desember saat ini berada di angka sekitar 86%, meningkat tajam dari posisi 61% sebelum pelaksanaan rapat The Fed pada pekan lalu.

Meski sering dimanfaatkan sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi, kinerja emas cenderung tertekan dalam situasi suku bunga yang tinggi karena komoditas ini tidak memberikan keuntungan berbasis bunga atau imbal hasil.

Di sisi lain, situasi geopolitik global sebenarnya sempat memberikan sedikit sentimen positif bagi pasar. Pihak AS memberikan kelonggaran sanksi terhadap Iran selama 60 hari berturut-turut pasca-dialog awal dalam kerangka upaya damai yang baru berjalan. Walau demikian, ketegangan bersenjata di Lebanon terpantau masih berlanjut.

Wakil Presiden AS JD Vance mengutarakan bahwa pembicaraan bersama para pejabat Iran di Swiss telah meletakkan landasan yang kokoh demi tercapainya kesepakatan damai yang langgeng. 

Laju distribusi kapal tanker melewati Selat Hormuz juga dikabarkan mulai merangkak naik setelah sebelumnya sempat terhambat akibat eskalasi wilayah. 

Sementara itu, nilai minyak mentah jenis Brent merosot lebih dari 1%, menunjukkan berkurangnya rasa khawatir para pelaku pasar terhadap potensi hambatan pasokan energi di tingkat global.

Saat ini pasar tengah mengantisipasi publikasi data Personal Consumption Expenditures (PCE) AS pada Kamis (25/6/2026), yang menjadi tolok ukur inflasi utama bagi The Fed. Angka tersebut diperkirakan bakal menjadi panduan penting bagi proyeksi arah kebijakan suku bunga mendatang. 

Penurunan tidak hanya melanda emas, melainkan juga berimbas pada komoditas logam mulia lainnya. 

Nilai perak spot jatuh sangat dalam sebesar 5,4% menuju harga US$ 61,59 per ons, platinum melorot 1,68% ke posisi US$ 1.654,9 per ons, sedangkan paladium ikut terpangkas 2,76% ke level US$ 1.234,5 per ons.

Reporter: Gemilang Ramadhan