Rupiah Turun 0,09 Persen ke Rp17.859 per Dolar AS, Indeks Dolar Menguat

ILUSTRASI, rupiah dollar (Sumber Gambar : Net)
Rabu, 24 Juni 2026 | 14:47:41 WIB

JAKARTA – Kurs mata uang rupiah ditutup melemah sebanyak 0,09 persen atau merosot sebesar 16 poin ke angka Rp17.859 per dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa (23/6/2026). Pada momen yang sama, indeks dolar AS tercatat mengalami kenaikan sebesar 0,11 persen menuju level 101,13.

Analis Mata Uang Senior dari MUFG, Lloyd Chan menilai bahwa kebijakan Bank Indonesia (BI) yang menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) hingga mencapai 5,75 persen dalam RDG Juni 2026 akan membantu meredam kecepatan penurunan nilai rupiah untuk sementara waktu. 

Sebagaimana diketahui, sebelum bank sentral memutuskan untuk mengerek BI Rate pada bulan ini, posisi rupiah sempat merosot tajam hingga menembus level Rp18.000 per dolar AS.

"Namun, meningkatnya ketidakpastian global kemungkinan akan membatasi pemulihan rupiah yang berkelanjutan. Likuiditas dolar AS di dalam negeri tetap ketat, menunjukkan adanya permintaan dasar yang masih kuat terhadap dolar. Tekanan eksternal tetap ada, termasuk tingginya yield AS dan harga minyak yang tinggi," ujarnya dalam riset, sebagaimana dilansir dari berita sumber pada Selasa (23/6/2026).

Menilik data pada sektor riil, nilai surplus perdagangan mengalami penurunan yang sangat signifikan menjadi US$89 juta pada April 2026, jika dibandingkan dengan perolehan bulan sebelumnya yang mencapai US$3,3 miliar pada Maret 2026.

Sementara itu, posisi cadangan devisa juga menyusut ke angka US$144,9 miliar dari laporan sebelumnya sebesar US$156,5 miliar pada Desember 2025. Bersambung dengan kondisi tersebut, kenaikan inflasi pada sektor pangan yang menyentuh 6,2% yoy dianggap memperkuat risiko terjadinya rembetan inflasi yang lebih luas.

Melihat kondisi rupiah yang masih berada di bawah bayang-bayang tekanan, Lloyd memperkirakan akan ada kenaikan susulan pada BI Rate sebesar 25 bps pada kuartal III/2026, yang berpotensi terjadi paling cepat di bulan Juli 2026.

Ia menekankan bahwa arah kebijakan BI kini tampak jelas bergeser ke arah pengetatan, yang mencerminkan kekhawatiran terhadap stabilitas nilai tukar mata uang domestik serta peningkatan risiko inflasi.

Lloyd memproyeksikan dalam jangka pendek nilai rupiah akan berfluktuasi pada kisaran Rp17.500 hingga Rp17.800 per dolar AS. Penguatan jangka pendek ini dinilai bakal sangat bergantung pada meredanya konflik geopolitik dunia.

"Namun, dengan meningkatnya kembali ketegangan di Timur Tengah, risiko cenderung mengarah ke atas. Risikonya adalah konflik berlanjut hingga kuartal III, dengan rupiah bergerak sedikit lebih tinggi kembali menuju Rp18.200. Dalam kondisi ini, lonjakan kenaikan secara episodik masih mungkin terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global," tandasnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Reporter: Gemilang Ramadhan