Enam Saham Masuk Cum Dividen Hari Ini, Simak Proyeksi Yield-nya
JAKARTA – Beberapa emiten yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) telah sampai pada masa cum dividen di pasar reguler maupun negosiasi pada Selasa, 23 Juni 2026. Para pemodal yang mengeksekusi pembelian saham sampai sesi perdagangan hari ini berakhir masih memiliki hak untuk memperoleh dividen tunai berdasarkan jadwal dari tiap-tiap emiten.
Cum dividen sendiri ialah batas waktu paling akhir untuk investor dalam membeli saham supaya nama mereka terdaftar sebagai pihak yang berhak menerima dividen. Ketika tanggal ex dividen tiba, para pembeli saham baru sudah tidak memiliki hak lagi atas pembagian dividen dalam periode yang berjalan tersebut.
Ada enam saham yang telah sampai pada masa cum dividen hari ini, yaitu BDKR, GLVA, MTMH, NSSS, TBMS, dan TINS. Di bawah ini adalah detail daftar saham yang memasuki masa cum dividen pada 23 Juni 2026:
TINS: Dividen Rp 88.189 per saham, harga penutupan Rp 3.750, dividend yield 2,35 persen.
GLVA: Dividen Rp 10,00 per saham, harga penutupan Rp 322, dividend yield 3,11 persen.
NSSS: Dividen Rp 5,00 per saham, harga penutupan Rp 585, dividend yield 0,85 persen.
BDKR: Dividen Rp 2,65 per saham, harga penutupan Rp 136, dividend yield 1,95 persen.
MTMH: Dividen Rp 2,42 per saham, harga penutupan Rp 950, dividend yield 0,25 persen.
TBMS: Dividen US$ 0,0016 (setara Rp 28,52) per saham, harga penutupan Rp 1.270, dividend yield 2,25 persen.
Melihat pada harga penutupan perdagangan pada Senin (22/6), GLVA membukukan dividend yield yang paling tinggi di kelompok saham cum dividen hari ini dengan persentase di kisaran 3,11 persen. Peringkat berikutnya ditempati oleh TINS yang mencapai 2,35 persen, TBMS dengan angka 2,25 persen, BDKR di posisi 1,95 persen, NSSS sebesar 0,85 persen, dan MTMH di angka 0,25 persen.
Proses perhitungan dividend yield memakai rumusan: Dividend Yield = Dividen per Saham ÷ Harga Saham × 100 persen sebagaimana dilansir dari berita sumber. Angka ini merupakan perkiraan yang diambil berlandaskan harga penutupan pada 22 Juni 2026 dan nilainya bisa bergeser mengikuti pergerakan harga saham di pasar.
Kendati dividen kerap menjadi magnet bagi pasar, para pelaku investasi tetap wajib mengkaji fundamental dari emiten serta valuasi sahamnya. Sebab, usai masa ex dividen terlewati, pergerakan harga saham sering kali mengalami koreksi atau penyesuaian akibat menyusutnya nilai dividen yang didistribusikan.
Oleh sebab itu, penentuan langkah investasi alangkah baiknya tidak semata-mata mengacu pada nilai yield dividen yang besar. Investor tetap dianjurkan untuk ikut menakar prospek usaha, performa finansial, sekaligus potensi perkembangan emiten tersebut untuk jangka panjang.