Untuk Pangkas Utang, PP Presisi Divestasi LMA Rp 1,6 Triliun
JAKARTA – PT PP Presisi Tbk (PPRE) telah memperoleh persetujuan dari para pemegang saham guna mendivestasikan seluruh porsi kepemilikan sahamnya di PT Lancarjaya Mandiri Abadi (LMA). Restu ini resmi dikantongi melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Independen Tahun 2026 yang dilaksanakan pada Kamis (25/6/2026). Langkah korporasi ini dinilai sebagai bagian dari strategi PPRE demi memperkokoh struktur finansial di tengah situasi industri yang dinamis.
Perolehan dana dari hasil penjualan saham ini bakal dialokasikan untuk menyelesaikan kewajiban kepada pihak kreditur, menekan ongkos bunga, mendongkrak likuiditas, serta menambah modal kerja demi menopang kegiatan operasional dan ekspansi bisnis ke depannya.
Melalui transaksi ini, PPRE melepas total kepemilikan sahamnya di LMA kepada PT Lancarjaya Investama Abadi, di mana nilai transaksinya menembus angka Rp 1,6 triliun.
Rizki Dianugrah selaku Direktur Utama PT PP Presisi Tbk memaparkan bahwa aksi ini selaras dengan program Penataan dan Pengelolaan Anak Perusahaan BUMN.
Program tersebut difokuskan untuk mendongkrak efektivitas tata kelola portofolio serta menghadirkan nilai jangka panjang bagi para pemegang saham.
Ragam kebijakan strategis yang diambil korporasi merupakan bagian dari langkah transformasi yang berkelanjutan demi menciptakan postur bisnis yang lebih kokoh serta responsif atas fluktuasi pasar.
"Perseroan terus berfokus pada penguatan fundamental, optimalisasi portofolio bisnis, serta peningkatan efisiensi operasional guna menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan dan memberikan nilai tambah bagi seluruh pemangku kepentingan," ungkapnya dalam rilis resmi pada Kamis (25/6/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Menilik pada aspek performa keuangan, PPRE berhasil mengumpulkan pendapatan sebesar Rp 3,94 triliun pada tahun buku 2025. Angka tersebut mengalami kenaikan sebesar 3,95% jika disandingkan dengan perolehan tahun sebelumnya yang bernilai Rp 3,79 triliun.
"Pencapaian ini mencerminkan keberhasilan perusahaan dalam menjalankan strategi diversifikasi bisnis sekaligus menjaga produktivitas operasional," tambah Rizki sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Akan tetapi, sepanjang periode itu PPRE mengalami kerugian bersih mencapai Rp 1,46 triliun. Kondisi ini berbalik dari capaian tahun sebelumnya yang sukses membukukan laba bersih senilai Rp 90,33 miliar.
Dari sudut pandang finansial yang lain, rasio likuiditas (current ratio) korporasi berada di posisi 1,15 kali, angka yang dinilai aman karena berada di atas batas covenant pihak perbankan sebesar 1,1 kali.
Di waktu yang sama, rasio utang berbunga terhadap ekuitas (interest bearing debt to equity ratio) bertengger di level 0,86 kali, atau masih berada di bawah ambang batas covenant dari pihak kreditur.
Pihak manajemen menilai bahwa hasil ini memperlihatkan bahwa langkah diversifikasi usaha dan manajemen keuangan yang ketat berhasil mempertahankan stabilitas serta kekuatan fundamental perseroan di tengah pergerakan industri.
Di samping memberikan restu atas beberapa agenda perusahaan, RUPSLB tersebut juga menyepakati perombakan pada susunan Direksi dan Dewan Komisaris demi mendongkrak tata kelola perseroan. Di bawah ini merupakan susunan terbaru Dewan Komisaris beserta Direksi PPRE pasca digelarnya RUPSLB Tahun 2026:
Dewan Komisaris:
Komisaris Utama merangkap Komisaris Independen: Narwanto
Komisaris: Maulana Malik Ibrahim
Komisaris: Albert Simangunsong
Direksi:
Direktur Utama: Rizki Dianugrah
Direktur Keuangan & Human Capital Management: Ramlan Nurdiansah
Direktur Operasi: Yovi Hendra