Aset Energi Jadi Pilihan Investasi SWF dan Bank Sentral Dunia

ILUSTRASI, Sovereign Wealth Fund dan bank sentral dunia meningkatkan investasi di sektor energi pada 2026. (Sumber Gambar : Net)
Senin, 29 Juni 2026 | 11:22:52 WIB

JAKARTA – Dana kekayaan negara atau Sovereign Wealth Fund (SWF) beserta bank sentral yang memegang kendali atas aset dengan total nilai USD29 triliun kini mulai mengalihkan fokus mereka ke sektor energi. Langkah strategis ini memicu kekhawatiran yang kian membesar terhadap posisi dolar Amerika Serikat (AS) dalam fungsinya sebagai instrumen lindung nilai.

Berdasarkan hasil survei Invesco yang dirilis pada Senin (29/6/2026), proses evaluasi ulang terhadap portofolio investasi yang dilakukan oleh SWF dan bank sentral ini didorong oleh adanya perubahan lanskap geopolitik global yang dinilai belum pernah terjadi sebelumnya. 

Riset yang melibatkan 90 dana kekayaan negara serta 54 bank sentral ini memperlihatkan adanya peningkatan konsentrasi pada strategi diversifikasi. 

Langkah tersebut diambil guna menciptakan portofolio investasi yang mampu menahan dampak merugikan dan tetap bertahan di tengah situasi pembatasan tarif perdagangan, hambatan pada rute pelayaran, hingga eskalasi konflik bersenjata yang berlangsung di Ukraina serta Timur Tengah.

Dari total responden yang diwawancarai, sekitar 80 persen menyatakan bahwa ketahanan di sektor energi serta pembangunan infrastruktur untuk transisi energi merupakan opsi investasi yang paling masuk akal untuk memperkuat stabilitas portofolio mereka. 

Tercatat pula bahwa alokasi untuk infrastruktur menyentuh angka 9 persen dari keseluruhan aset dana kekayaan negara pada periode tahun 2026. 

Berdasarkan pemaparan dari perusahaan manajemen investasi global tersebut, kompetisi dalam pengadaan infrastruktur AI yang mengonsumsi daya listrik dalam jumlah masif turut menjadi faktor penambah daya pikat sektor ini.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, kepala riset Invesco, Benjamin Jones menyatakan, “Di dunia yang dilanda guncangan inflasi, fragmentasi geopolitik, dan pasar yang semakin terkonsentrasi, investor sedang mempertimbangkan kembali asumsi lama tentang diversifikasi dan mendesain ulang portofolio untuk menghadapi berbagai kemungkinan hasil.” Ia juga menambahkan, “Ketahanan menjadi persyaratan yang mutlak, bukan sekadar hal yang diinginkan.”

Hubungan timbal balik yang bernilai positif antara instrumen obligasi dan ekuitas yang terjadi dalam beberapa tahun belakangan ini juga turut mengikis tingkat ketergantungan investor terhadap obligasi sebagai alat diversifikasi. Hal ini kemudian menggeser prioritas perhatian ke aspek pemenuhan likuiditas serta kepemilikan aset riil.

Rasa cemas terkait masa depan mata uang dolar AS kini terpantau semakin meluas dan mendalam. 

Sebanyak 61 persen dari total bank sentral yang berpartisipasi dalam survei mengungkapkan pandangan bahwa tingginya angka utang yang dimiliki pemerintah AS memberikan impresi negatif bagi proyeksi jangka panjang dolar selaku mata uang cadangan utama. 

Persentase kecemasan ini melonjak tajam jika dibandingkan dengan data pada tahun 2024 yang hanya menyentuh angka 20 persen.

Walaupun eskalasi konflik bersenjata antara pihak AS-Israel dengan Iran telah memberikan sokongan bagi penguatan dolar AS hingga sebesar 3 persen di sepanjang tahun ini, sejumlah analis memproyeksikan bahwa tingginya rasio utang dan ketidakpastian arah kebijakan AS berpotensi melemahkan mata uang tersebut dalam skala jangka panjang.

Minimnya kehadiran opsi mata uang alternatif lain yang dinilai kredibel diperkirakan bakal membuat proses peralihan dari mata uang dolar AS ini berjalan secara gradual. 

Namun, sebanyak 29 persen dari total partisipan riset Invesco memprediksi bahwa dominasi dolar AS sebagai mata uang cadangan global akan mengalami penurunan performa dalam kurun waktu lima tahun ke depan. 

Angka ini tercatat mengalami kenaikan signifikan jika dikomparasikan dengan data tahun 2022 yang berada di posisi 12 persen.

Invesco juga mengungkapkan adanya laporan dari beberapa institusi finansial yang mulai menguji ulang tingkat ketergantungan mereka terhadap lembaga kustodian, pihak lawan transaksi (counterparties), hingga sistem infrastruktur kliring yang berlokasi di dalam wilayah hukum AS akibat adanya tensi geopolitik.

Salah satu perwakilan bank sentral dari kawasan Eropa mengaku telah mengambil langkah konkret dengan mengganti lembaga kustodian asal AS yang mereka gunakan sebelumnya. 

Sementara itu, perwakilan dari bank sentral di kawasan Amerika Latin menyebutkan bahwa institusinya kini tengah menjajaki dan membangun kemitraan dengan jaringan kustodian baru di luar AS guna mengantisipasi kemungkinan terburuk di masa mendatang.

Meski demikian, salah satu responden dari pihak bank sentral memberikan catatan bahwa keputusan semacam itu tetap menyimpan potensi bahaya tersembunyi. Sebagaimana dilansir dari berita sumber, perwakilan tersebut memaparkan, "Tindakan ini sendiri dapat diinterpretasikan sebagai tindakan permusuhan oleh AS."

Di sisi lain, sepertiga dari total keseluruhan peserta survei menyatakan adanya komitmen dan intensi untuk menambah porsi kepemilikan aset emas mereka sebagai bagian dari langkah makro untuk melakukan diversifikasi.

Reporter: Gemilang Ramadhan