Tren Emas di Ujung Tanduk Jelang Rilis Data Ketenagakerjaan AS

ILUSTRASI, Harga emas di pasar global menunjukkan tekanan menjelang rilis data ketenagakerjaan AS. (Sumber Gambar : Net)
Senin, 29 Juni 2026 | 12:09:52 WIB

JAKARTA – Nilai jual emas diproyeksikan tetap menghadapi tekanan pada minggu ini. Atensi para pelaku pasar kini tertuju pada pernyataan para pimpinan bank sentral utama dunia serta publikasi data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) atau Non-Farm Payrolls (NFP) yang berpeluang menjadi penentu tren pergerakan emas dalam periode jangka pendek.

Harga emas ditutup melambung 1,53% menuju angka US$ 4.089,26 pada sesi transaksi Jumat (26/6/2026). Dalam sepekan kemarin, komoditas emas mencatatkan penurunan sebesar 1,71%, meneruskan tren kemerosotan sepanjang empat minggu berurutan.

Analis Pasar Forex.com Fawad Razaqzada memaparkan, ekspektasi kebijakan moneter The Fed yang condong ketat menjadi salah satu aspek utama yang membebani harga emas dalam kurun beberapa minggu terakhir. 

Di samping itu, meredanya eskalasi geopolitik di kawasan Timur Tengah ikut memangkas minat terhadap aset aman (safe haven).

"Sebagian besar pelemahan harga emas mencerminkan ekspektasi bahwa The Fed akan tetap mempertahankan kebijakan moneter yang hawkish," ujar Razaqzada dalam risetnya, Minggu (28/6/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menurut dia, jika The Fed pada prosesnya kembali menaikkan tingkat suku bunga secara lebih agresif daripada perkiraan pasar saat ini, hambatan bagi pergerakan harga emas berpeluang semakin masif.

Pada minggu ini, iklim pasar pun bakal mencermati agenda forum bank sentral yang diselenggarakan oleh Bank Sentral Eropa (ECB) di Sintra, Portugal. 

Deretan petinggi otoritas moneter dunia, termasuk Pimpinan The Fed, ECB, dan Bank of England (BoE), dijadwalkan bakal hadir dalam panel kebijakan moneter tersebut.

Razaqzada mengimbuhkan, para pemodal akan mencermati pernyataan teranyar dari Ketua The Fed Kevin Warsh, menyusul pernyataannya pada pertemuan kebijakan terdahulu yang sempat memicu gejolak pasar. 

Jika Warsh kembali mengutarakan proyeksi yang agresif terkait suku bunga, mata uang dolar AS diyakini semakin perkasa sehingga berpotensi memberikan tekanan ekstra terhadap harga emas.

“Di sisi lain, jika pejabat bank sentral lain mengisyaratkan kebijakan yang lebih longgar seiring turunnya harga minyak dunia, sentimen tersebut dapat sedikit menopang pergerakan emas,” jelasnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Bukan hanya pernyataan bank sentral, Razaqzada mengutarakan, konsentrasi utama pasar akan mengarah pada serangkaian data ekonomi AS yang dipublikasikan lebih cepat lantaran adanya masa libur Hari Kemerdekaan AS pada Jumat (3/7/2026). Sentral perhatian terbesar yaitu indikator Non-Farm Payrolls (NFP) dan pertumbuhan upah yang dijadwalkan rilis pada Kamis (2/7/2026).

Pasca tiga bulan beruntun angka tenaga kerja melewati proyeksi, Razaqzada menguraikan, perolehan data NFP kali ini diproyeksikan bakal menjadi penentu arah mata uang dolar AS, harga emas, maupun bursa saham global. 

Data ketenagakerjaan yang lebih bertenaga dari estimasi berpeluang mempertebal keyakinan bahwa suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama, sehingga berimbas menjadi sentimen negatif buat komoditas emas.

Ditinjau dari aspek teknikal, Razaqzada menjelaskan, emas sempat pulih pada dua perdagangan terakhir dan berbalik bergerak di atas kisaran US$ 4.000 per ons troi.

Kendati demikian, lonjakan tersebut dianggap masih berkarakter terbatas lantaran nilainya tetap berada di bawah rata-rata pergerakan 200 hari, yang mengisyaratkan tren utama masih bearish.

Razaqzada berpandangan, posisi US$ 4.098 per ons troi menjadi batas resistensi penting yang wajib ditembus jika emas bertekad meneruskan fase pemulihan.

“Jika berhasil dilewati, target kenaikan berikutnya berada di kisaran US$ 4.170 per ons troi hingga US$ 4.300 per ons troi,” paparnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sebaliknya, sambung Razaqzada, jikalau tekanan jual kembali bereskalasi, nilai jual emas berpotensi menguji kisaran US$ 3.916 per ons troi. Apabila posisi itu jebol, penurunan dapat berlanjut menuju level psikologis US$ 3.900, bahkan hingga menyentuh US$ 3.800 per ons troi.

Reporter: Gemilang Ramadhan