Sentimen Global Berlanjut, Rupiah Diprediksi Melemah Senin Ini

ILUSTRASI, Nilai tukar rupiah diperkirakan melemah pada perdagangan Senin akibat sentimen global. (Sumber Gambar : Net)
Senin, 29 Juni 2026 | 12:43:03 WIB

JAKARTA - Nilai tukar mata uang garuda diproyeksikan masih akan memperoleh tekanan pada awal pekan. Faktor luar negeri seperti meningkatnya ketegangan geopolitik di wilayah Timur Tengah serta perkiraan bertahannya suku bunga tinggi di Amerika Serikat (AS) secara konsisten menjadi faktor utama yang membayangi pergerakan rupiah.

Sebagai informasi, dalam transaksi Jumat (26/6/2026), nilai rupiah pada pasar spot ditutup menguat 0,12% menuju angka Rp 17.922 per dolar Amerika Serikat (AS), jika dibandingkan dengan posisi penutupan hari sebelumnya yang berada pada level Rp 17.943 per dolar AS.

Dalam rentang waktu seminggu, rupiah di pasar spot mengalami penurunan sebesar 0,66% dari level Rp 17.906 pada Jumat (19/6/2026) yang lalu.

Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra mengutarakan, di sepanjang pekan lalu penguatan indeks dolar AS didorong oleh belum selesainya proses kesepakatan damai antara pihak AS dan Iran, serta meningkatnya ekspektasi pasar terhadap potensi naiknya suku bunga acuan AS. Berdasarkan pandangannya, perpaduan sentimen tersebut mengangkat indeks dolar AS (DXY) menembus angka 101,74, yang menjadi level tertinggi sejak 13 Mei 2025. Dampaknya, rupiah bersama berbagai mata uang dunia lainnya terpaksa berada dalam kondisi tertekan.

"USD/IDR juga terlihat dalam tekanan sepanjang pekan kemarin," ujar Ariston kepada Kontan, Sabtu (27/6/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ariston memproyeksikan tekanan terhadap mata uang rupiah berpeluang terus berlanjut pada sesi perdagangan Senin (29/6/2026). Sebab, para pelaku pasar terus memantau dinamika terbaru di Timur Tengah, termasuk laporan serangan AS ke wilayah Iran serta aksi balasan Iran terhadap armada kapal yang melewati Selat Hormuz.

Bukan hanya itu, kondisi inflasi AS yang tetap tinggi dinilai membuka peluang bagi bank sentral AS untuk mengerek kembali tingkat suku bunga untuk menekan tekanan harga. 

Di saat yang sama, Presiden AS Donald Trump dikabarkan memberikan dukungan penuh terhadap rangkaian kebijakan yang akan diambil oleh Kevin Warsh, sosok kandidat Gubernur The Fed yang menjadi pilihannya.

Dari sisi domestik, Ariston melihat rentetan isu internal ikut membebani laju pergerakan rupiah. Mulai dari tata kelola anggaran untuk anggaran program pemerintah, penerapan regulasi ekspor sumber daya alam (SDA) melalui skema satu pintu, hingga dinamika seputar MSCI yang tetap menyita perhatian para pemodal.

Di sisi lain, Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyampaikan bahwa sentimen pergerakan rupiah datang dari respons positif pasar terhadap langkah pemerintah yang mengkaji efisiensi serta pemangkasan anggaran lanjutan pada program prioritas Makan Bergizi Gratis (MBG) demi menjaga stabilitas fiskal. 

Alokasi dana untuk Badan Gizi Nasional (BGN) pada APBN 2026 terpantau telah disesuaikan. Pagu anggaran program MBG telah dipotong dari proyeksi awal senilai Rp 335 triliun menjadi sebesar Rp 268 triliun. 

Pemerintah bahkan tengah menelaah peluang efisiensi tambahan hingga Rp 50 triliun demi memperkuat ketahanan kas negara. Menurut Ibrahim, pemotongan anggaran ini diambil guna mengantisipasi risiko ekonomi global, mengendalikan defisit anggaran, serta menata ulang tata kelola pelaksanaan program.

Melalui berbagai indikator tersebut, Ariston memprediksi rupiah masih berpotensi melemah pada awal pekan ini, dengan pergerakan di kisaran Rp 17.850 - Rp 18.000 per dolar AS pada perdagangan Senin (29/6/2026). 

Sementara itu, Ibrahim memproyeksikan kurs rupiah pada perdagangan hari Senin bakal berada pada rentang Rp 17.920 - Rp 17.960 per dolar AS.

Reporter: Gemilang Ramadhan