Bank of America Proyeksi Pertumbuhan Global dan Kenaikan Suku Bunga

ILUSTRASI, Bank of America merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi global hingga 2028. (Sumber Gambar : Net)
Senin, 29 Juni 2026 | 14:22:38 WIB

JAKARTA – Bank of America (BofA) telah merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia sekalian memprediksi adanya kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) sebesar 75 basis poin walau laju inflasi memperlihatkan kecenderungan menurun. Keputusan ini diambil seiring tercapainya kesepakatan damai Iran yang rentan namun berhasil meredakan ketegangan di sektor energi.

Lembaga perbankan tersebut mengingatkan bahwa inflasi Amerika Serikat yang tetap tinggi kemungkinan besar bakal mendorong The Fed guna melanjutkan pengetatan suku bunga pada penghujung tahun ini. 

BofA saat ini memperkirakan pertumbuhan PDB dunia berada di angka 3,2 persen pada 2026, lalu merangkak naik ke level 3,5 persen pada 2027, dan mengalami perlambatan menjadi 3,3 persen pada 2028.

Prediksi inflasi dunia juga dipangkas menjadi 3 persen pada tahun ini, 2,4 persen pada 2027, serta 2,5 persen pada 2028. Perubahan ini mengacu pada proyeksi rata-rata harga minyak mentah Brent yang berada di level USD72 per barel selama paruh kedua 2026 dan USD65 pada 2027, dengan catatan situasi geopolitik di Timur Tengah tidak kembali memanas.

Kendati masa depan inflasi tampak membaik, BofA menegaskan bahwa penurunan harga komoditas energi tidak dengan sendirinya bakal melonggarkan kebijakan moneter. “Sebaliknya, mereka memperkirakan Federal Reserve menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin tahun ini, dimulai pada September, dengan alasan kondisi pasar tenaga kerja yang tangguh dan tekanan inflasi yang terus berlanjut,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Manajemen bank memaparkan bahwa perekonomian dunia saat ini disokong oleh lima topik struktural, meliputi arah kebijakan AS di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump, lonjakan investasi pada sektor kecerdasan buatan, kelebihan kapasitas produksi industri China, ketidakseimbangan fiskal, hingga melimpahnya likuiditas global. 

Berbagai aspek ini di satu sisi menyokong akselerasi pertumbuhan, namun di sisi lain memperbesar risiko koreksi harga aset apabila pengetatan kondisi keuangan terjadi secara mendadak.

Kenaikan proyeksi pertumbuhan oleh BofA ini mayoritas didorong oleh siklus ekspor yang ditopang oleh teknologi kecerdasan buatan di kawasan Asia, khususnya di luar kawasan China. Di waktu yang sama, menyusutnya harga minyak diproyeksikan memberi stimulasi skala moderat bagi negara-negara maju pada 2027.

Di Amerika Serikat, harga bahan bakar yang semakin murah serta pengeluaran modal untuk kecerdasan buatan diprediksi menyokong pertumbuhan paruh kedua 2026 yang lebih kuat di atas 2 persen. 

Target pertumbuhan China tidak mengalami perubahan di level 4,5 persen untuk 2026 dan 2027, dengan ketergantungan struktur pertumbuhan yang kian mendalam pada sektor ekspor.

Aktivitas ekspor China pada tahun ini diproyeksikan sanggup tumbuh hingga 15 persen, disokong oleh tingginya permintaan atas perangkat energi terbarukan serta mobil listrik. 

Mengenai kawasan Eropa, BofA memproyeksikan pertumbuhan zona euro sebesar 0,5 persen pada 2026 dan 1,3 persen pada 2027, dibarengi potensi satu kali kenaikan suku bunga lanjutan dari Bank Sentral Eropa sebelum langkah pelonggaran diterapkan tahun depan.

Melihat kondisi ke depan, lembaga keuangan ini memetakan tiga risiko utama, yaitu kembali memuncaknya konflik di Timur Tengah, pengetatan moneter global yang agresif oleh The Fed, serta potensi koreksi harga aset seandainya tren investasi kecerdasan buatan mulai melandai.

Reporter: Gemilang Ramadhan