Merdeka Copper Gold Raih Laba Bersih 57,5 Juta Dolar AS di Kuartal I

ILUSTRASI, PT Merdeka Copper Gold catat laba bersih USD57,5 juta pada kuartal I-2026. (Sumber Gambar : Net)
Selasa, 30 Juni 2026 | 11:18:22 WIB

JAKARTA - PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) mencatatkan raihan kinerja positif sepanjang kuartal I-2026. Hal tersebut ditunjukkan lewat adanya perbaikan profitabilitas di segmen nikel dan emas yang menjadi bisnis inti dari perseroan selain komoditas tembaga.

Pada periode Januari hingga Maret 2026, Merdeka berhasil mengantongi pendapatan hingga USD 620,3 juta, atau mengalami pertumbuhan sebesar 24 persen secara tahunan. Sementara itu, EBITDA perseroan juga meningkat 182 persen menjadi sebesar USD 249,9 juta.

Untuk laba bersih, perseroan berhasil membukukan angka USD 57,5 juta. Capaian ini membalikkan kondisi merugi pada kuartal I-2025 yang tercatat sebesar USD 3,7 juta, sekaligus memperlihatkan adanya pemulihan yang signifikan dari aspek profitabilitas.

Presiden Direktur PT Merdeka Copper Gold Tbk., Albert Saputro, mengungkapkan bahwa perseroan mengawali tahun 2026 dengan performa kuat yang disokong oleh naiknya harga jual emas, bertambahnya volume penjualan lemonit, menguatnya margin nikel, serta adanya kontribusi penjualan perdana yang berasal dari Tambang Emas Pani.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Kinerja ini menunjukkan ketahanan portofolio perseroan yang terdiversifikasi dan mencerminkan fokus kami yang berkelanjutan pada eksekusi yang disiplin, optimalisasi biaya, serta pengembangan platform pertumbuhan utama di sektor emas, nikel, dan tembaga," katanya dalam keterangan resmi, Senin (29/6/2026).

Komoditas emas menjadi penyumbang terbesar bagi EBITDA MDKA di kuartal pertama dengan sumbangsih mencapai ASD89 juta. 

Posisi berikutnya ditempati oleh Nickel Pig Iron (NPI) senilai USD67 juta, limonit sebesar USD48 juta, High-Grade Nickel Matte (HGNM) sebanyak USD25 juta, serta tembaga yang menyumbang USD19 juta.

Hasil ini membuktikan kapasitas MDKA dalam memanfaatkan peluang penguatan margin lewat portofolio logam yang terdiversifikasi dengan baik.

Untuk total produksi emas, MDKA membukukan kenaikan 5 persen secara tahunan menjadi 26.652 ounces di kuartal I-2026. Capaian ini utamanya ditopang oleh kontribusi produksi perdana Tambang Emas Pani yang dikelola PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS). 

Di sisi lain, Tambang Emas Tujuh Bukit mencatatkan rata-rata harga jual senilai USD 4.841 per ounce dengan biaya kas USD 685 per ounce, sudah termasuk royalti dan kredit perak, sehingga mampu mencetak margin tunai senilai USD 4.156 per ounce.

Pada sektor nikel, operasional PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) ditunjang oleh bertambahnya volume penjualan bijih sekaligus membaiknya harga jual di pasar. 

Volume bijih nikel yang ditambang melonjak hingga 143 persen secara tahunan menjadi 7,7 juta wet metric tonnes (wmt) pada kuartal I-2026 karena dipicu oleh naiknya produksi saprolit serta limonit.

Margin untuk komoditas nikel terpantau tetap kuat, di mana saprolit dan limonit masing-masing membukukan margin tunai sebesar 14 persen dan 50 persen. 

Pada saat yang sama, NPI mencatatkan margin kas sebesar 29 persen yang didorong oleh harga jual rata-rata yang lebih tinggi serta berkurangnya ketergantungan pada pasokan saprolit dari pihak ketiga.

Perseroan juga terus mengakselerasi sejumlah platform pertumbuhan utama, baik sepanjang maupun setelah periode pelaporan. Saat ini, Proyek Tembaga Tujuh Bukit tengah berada dalam proses Studi Kelayakan (Feasibility Study) yang ditargetkan rampung pada semester II-2026. 

Sementara di Pani, EMAS telah mengumumkan estimasi perdana sumber daya mineral untuk prospek Kolokoa, yang mengatrol total sumber daya mineral Tambang Emas Pani dari semula 7,0 juta ounces menjadi kisaran 7,4 juta ounces emas.

Selain itu, EMAS juga telah merampungkan proses pencatatan sekunder di papan utama The Stock Exchange of Hong Kong Limited (HKEX) pada Juni 2026 demi memperlebar akses perseroan terhadap para investor global.

Beralih ke sektor hilir nikel, PT ESG New Energy Material berhasil memproduksi nikel dalam bentuk Mixed Hydroxide Precipitate (“MHP”) sebanyak 5.194 ton pada 1T26. 

Hasil ini didukung oleh proses pengiriman bijih yang semakin efisien pasca selesainya pembangunan Feed Preparation Plant di Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) serta jalur pipa slurry menuju IMIP pada kuartal IV-2025 lalu. 

Di sisi lain, proyek HPAL PT Sulawesi Nickel Cobalt (SLNC) telah merampungkan tahap commissioning pada akhir kuartal II-2026 dan kini sedang menunggu terbitnya Izin Usaha Industri (IUI). Kegiatan produksi diproyeksikan bakal meningkat bertahap sepanjang paruh kedua tahun 2026.

MDKA juga terpantau mampu menjaga posisi likuiditas yang kuat selama kuartal tersebut. Per data 31 Maret 2026, perseroan memegang kas dan bank sebesar USD545 juta serta ditunjang fasilitas pinjaman yang belum ditarik senilai USD130 juta. 

Untuk rasio utang bersih terhadap EBITDA berada di angka 3,0 kali, posisi yang masih aman di bawah batas maksimal rasio yang dipersyaratkan, yakni sebesar 5,0 kali.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Ke depan, MDKA berada pada posisi yang baik untuk melanjutkan momentum kinerja kuartal I 2026, didukung oleh penguatan margin emas, peningkatan volume bijih nikel, peningkatan produksi Tambang Emas Pani secara bertahap, pengembangan proyek hilir nikel, serta kemajuan Proyek Tembaga Tujuh Bukit. Perseroan akan terus berfokus pada alokasi modal yang disiplin, efisiensi operasional, dan pengembangan portofolio yang terdiversifikasi untuk mendukung penciptaan nilai jangka panjang," kata Albert.

Reporter: Gemilang Ramadhan