IHSG Terkoreksi Satu koma 28 Persen ke Level 5.821
JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan penurunan pada sesi perdagangan Senin (29/6/2026) seiring sikap berhati-hati para pelaku pasar menjelang publikasi data makroekonomi dalam negeri pada 1 Juli 2026. Data dari Bursa Efek Indonesia menunjukkan indeks mengalami penyusutan sebesar 1,28 persen atau berkurang 75 poin menuju posisi 5.821.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengungkapkan bahwa kemerosotan IHSG disebabkan oleh kelangkaan stimulan positif yang kuat untuk mendorong laju pasar.
"Untuk hari ini memang sebenarnya saya akui belum terdapat katalis yang bisa menjadi high market impact, apalagi high positive market impact," sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Nafan memaparkan bahwa para pemodal saat ini tengah mengantisipasi rilis beberapa indikator performa ekonomi nasional.
"Data makroekonomi nanti akan dirilis pada 1 Juli, yaitu data inflasi domestik, data neraca perdagangan, dan juga data PMI Manufacturing Index," sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Di samping dinamika domestik, pergerakan pasar juga masih dibayangi oleh volatilitas geopolitik global antara Amerika Serikat dan Iran, khususnya mengenai realisasi kesepakatan damai. Hambatan bagi zona hijau bursa saham kian diperparah oleh aksi pelepasan portofolio oleh pemodal internasional yang masih berjalan.
Nafan memberikan catatan bahwa akumulasi nilai jual bersih oleh investor asing sepanjang tahun ini sudah menembus angka Rp 80 triliun, yang di antaranya dipicu oleh terpangkasnya porsi pembobotan Indonesia pada indeks MSCI ke angka kisaran 0,45 persen.
"Kami melihat IHSG mengalami net foreign sell, totalnya sudah di atas Rp 80 triliun secara YTD. Bobot indeks Indonesia di MSCI juga sudah menurun menjadi 0,45 persen," sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Para pelaku pasar global membukukan penjualan bersih senilai Rp 854 miliar pada hari Senin. Emiten yang paling banyak dilepas meliputi PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan nilai Rp 424 miliar, diikuti oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) sebesar Rp 98 miliar, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) sebesar Rp 71 miliar, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) senilai Rp 54 miliar, serta PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) sejumlah Rp 43 miliar.
Di sisi lain, saham-saham yang mencatatkan aksi beli bersih tertinggi dipimpin oleh PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dengan Rp 56 miliar, disusul PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) sebesar Rp 40 miliar, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) senilai Rp 37 miliar, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) sebesar Rp 15 miliar, dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sejumlah Rp 13 miliar.
Hingga akhir jam perdagangan, tercatat ada 449 saham yang terdepresiasi, 214 saham bergerak naik, dan 149 saham tidak bergerak. Kuantitas volume transaksi menyentuh 15,485 miliar lembar saham dengan nilai perputaran Rp 9,101 triliun serta frekuensi perdagangan 1.230.166 kali, sedangkan nilai kapitalisasi pasar berada di angka Rp 10.205,349 triliun.