Mitratel Bagikan Dividen Tunai 98 Persen Laba Bersih Tahun Buku 2025
JAKARTA – PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel mengalokasikan dividen tunai senilai Rp 2,08 triliun untuk para pemegang saham, yang mencerminkan 98% dari total laba bersih pada tahun buku 2025. Besarnya porsi pembagian dividen tersebut memicu saham MTEL kembali diminati oleh investor saat pasar saham domestik masih dibayangi oleh tekanan. Berdasarkan hasil keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), para investor bakal memperoleh dividen senilai Rp 25,6 per lembar saham.
Bila mengacu pada harga saham MTEL yang berada di posisi Rp 505 per saham saat pasar ditutup pada perdagangan Selasa (1/7), maka dividend yield yang diberikan berada di kisaran 5,06%.
Senior Research Analyst Sinarmas Sekuritas Indonesia, Yosua Zisokhi, berpendapat bahwa tingkat imbal hasil itu terhitung cukup memikat, khususnya di kala pasar saham sedang bergerak fluktuatif dan IHSG sudah mengalami koreksi di atas 34% sejak awal tahun.
"Yield jelas atraktif karena equity market tercermin dari IHSG saat ini secara year-to-date turun signifikan. Dividen juga menjadi sumber cash flow bagi investor," ujar Yosua, Rabu (1/7), sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Ia berpandangan bahwa dividen tersebut memiliki potensi untuk menjadi pendorong positif bagi pergerakan saham MTEL untuk jangka pendek.
Meski begitu, dalam jangka panjang, para pemegang saham dipastikan tetap memantau kapabilitas perusahaan dalam menjaga ekspansi bisnis sekaligus memelihara kesehatan finansialnya.
Yosua berpendapat langkah membagikan nyaris seluruh laba bersih itu tidak bakal mengganggu agenda ekspansi perseroan.
Hal ini dikarenakan Mitratel dinilai masih mempunyai struktur permodalan yang kokoh dengan rasio debt-to-equity (DER) di kisaran 0,56 kali, yang memosisikannya sebagai salah satu yang paling rendah di industri menara telekomunikasi.
Di samping itu, performa dalam menghasilkan kas pun dinilai tetap kuat. Sampai dengan kuartal I-2026, MTEL berhasil membukukan recurring free cash flow mencapai Rp 5,7 triliun.