Harga Solar Turun tetapi Harga RON 92 dan RON 95 Tetap Stabil
JAKARTA - PT Pertamina bersama perusahaan swasta seperti Shell dan BP-AKR secara serentak menurunkan harga jual Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi jenis diesel terhitung mulai 1 Juli 2026. Meski begitu, kebijakan penurunan harga ini terpantau belum diberlakukan untuk varian bensin dengan Research Octane Number (RON) 92 serta RON 95.
Pertamina sendiri memotong harga empat produk BBM-nya yang meliputi Pertamax Turbo, Pertamina Dex, Dexlite, dan Avtur. Berikut adalah rincian tarif terbarunya:
Pertamax Turbo: Turun dari harga Rp 20.750 per liter menjadi Rp 19.300 per liter (menyusut Rp 1.450 per liter atau berkisar 7 persen).
Pertamina Dex: Turun dari harga Rp 24.800 per liter menjadi Rp 21.150 per liter (terpangkas Rp 3.650 per liter atau berkisar 15 persen).
Dexlite: Turun dari harga Rp 23.000 per liter menjadi Rp 19.700 per liter (terkoreksi Rp 3.300 per liter atau berkisar 14 persen).
Avtur Penerbangan Domestik (belum termasuk komponen pajak) di Bandara Soekarno Hatta: Turun dari harga Rp 22.190 per liter pada Juni menjadi Rp 19.190 per liter pada Juli (menyusut Rp 3.000 per liter atau berkisar 14 persen).
Untuk jaringan SPBU swasta, harga produk BP Ultimate Diesel mengalami penurunan sebesar Rp 3.720 per liter, dari yang sebelumnya Rp 25.060 kini dijual Rp 21.340 per liter. Di sisi lain, Shell V-Power Diesel juga terkoreksi sebesar Rp 3.150 per liter dari nominal Rp 24.490 kini dipatok pada angka Rp 21.340 per liter.
Langkah penurunan tarif ini terpantau belum menyentuh jenis BBM non-subsidi varian RON 92 dan RON 95. Pertamina masih mempertahankan harga Pertamax di level Rp 16.250 per liter dan Pertamax Green tetap pada angka Rp 17.000 per liter.
Sementara pada SPBU swasta, harga BP 92 masih dipatok senilai Rp 16.670 per liter dan BP Ultimate tetap di angka Rp 17.240 per liter. Sebagai catatan, varian BBM jenis RON 92 dan RON 95 ini baru saja mengalami kenaikan harga pada 10 Juni 2026.
Vice President Corporate Communication Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, menjelaskan bahwa penyesuaian tarif ini merupakan bagian dari agenda evaluasi berkala yang mengacu pada formula baku.
Kebijakan ini bertumpu pada dinamika harga minyak mentah dunia, kalkulasi aspek fiskal, serta daya beli dan kondisi makroekonomi masyarakat. Perubahan tarif BBM non-subsidi ini menyelaraskan diri dengan pasar minyak internasional serta aturan yang berlaku.
Kitty pun menegaskan bahwa langkah penyesuaian harga ini telah dikonsultasikan bersama pihak eksekutif. Berdasarkan evaluasi tersebut, Pertamina menurunkan harga Pertamax Turbo, Pertamina Dex, Dexlite, serta Avtur.
Sementara untuk Pertamax dan Pertamax Green, Pertamina masih memantau perkembangan situasi secara berkala, sebagaimana dilansir dari berita sumber:
"Terkait penyesuaian harga Pertamax and Pertamax Green, kami akan mengikuti perkembangan selanjutnya serta melakukan evaluasi secara berkala bersama dengan pihak terkait dan Pemerintah," kata Kitty, Rabu (1/7/2026).
Di sisi lain, Manajemen BP-AKR menerangkan bahwa keputusan penyesuaian harga ditempuh melalui berbagai pertimbangan, seperti pergerakan harga energi internasional, situasi pasar domestik, biaya pengadaan komoditas, serta regulasi resmi di sektor energi nasional, sebagaimana dilansir dari berita sumber:
"Penyesuaian harga merupakan bagian dari mekanisme industri, perusahaan melakukan evaluasi, penyesuaian operasional, dan implementasi harga secara berkala sesuai ketentuan ketentuan yang berlaku," ungkap keterangan yang disampaikan Manajemen BP-AKR.
Ketika dihubungi secara terpisah, Anggota DEN Unsur Pemangku Kepentingan dari Kalangan Konsumen, Muhammad Kholid Syeirazi, menilai bahwa penurunan tarif solar non-subsidi, Pertamax Turbo, serta avtur akan menekan biaya operasional di sektor transportasi, logistik, industri, hingga penerbangan. Kholid berharap penyesuaian ini dapat memberikan sentimen positif bagi optimisme masyarakat.
Lebih lanjut, Kholid menjelaskan bahwa formulasi harga BBM tidak hanya berpatokan pada fluktuasi harga minyak mentah di satu momen saja, melainkan juga memperhitungkan arah pergerakan harga, biaya persediaan (inventory cost), fluktuasi kurs rupiah, hingga keberlangsungan bisnis perusahaan. Apalagi, situasi dunia saat ini masih dibayangi ketidakpastian akibat labilnya konfrontasi di Selat Hormuz.
Kholid melihat keputusan Pertamina untuk menstabilkan harga RON 92 dan RON 95 bisa jadi merupakan strategi usaha guna memulihkan margin keekonomian Pertamax serta Pertamax Green yang sempat ditahan pada beberapa bulan sebelumnya.
Dalam hal ini, Kholid menitikberatkan pentingnya aspek konsistensi serta keterbukaan dalam formula penyesuaian harga maupun pemenuhan energi nasional, sebagaimana dilansir dari berita sumber:
"Jika tren harga minyak dunia turun, penurunan harga BBM akan menumbuhkan kepercayaan pasar dan konsumen. Penyedia energi juga perlu transparan terkait dasar perhitungan harga, sehingga masyarakat memahami mengapa suatu jenis BBM turun sementara lainnya tetap," kata Kholid, Rabu (1/7/2026).
Sementara itu, Anggota DEN Unsur Pemangku Kepentingan dari Kalangan Industri, Satya Widya Yudha, berpandangan bahwa skema penyesuaian harga BBM non-subsidi ini sudah ideal dalam mengantisipasi harga pasar.
Penurunan harga diprioritaskan terlebih dahulu pada produk diesel non-subsidi, Pertamax Turbo, serta Avtur yang pada periode sebelumnya sempat melonjak lebih dulu, sebagaimana dilansir dari berita sumber:
"Sementara waktu itu Pertamax RON 92, dan RON 95 yang seharusnya ikut naik, tetapi tetap ditahan oleh pemerintah. Sehingga saat ini masih dihitung penyesuaiannya," kata Setya.
Di sudut lain, Pengamat Migas sekaligus Dewan Penasihat Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI), Hadi Ismoyo, mengingatkan bahwa nilai jual BBM non-subsidi berjalan beriringan dengan tingkat harga minyak mentah (crude) internasional.
Namun, penyesuaiannya tidak bisa dilakukan mendadak karena menggunakan basis bulanan yang mengacu pada parameter Indonesian Crude Price (ICP).
Hadi menguraikan bahwa penurunan harga crude dengan patokan Brent dari posisi US$ 95 menjadi kisaran US$ 83 per barel dipicu oleh tercapainya kesepakatan damai antara Iran dengan Amerika Serikat (AS).
Jika penurunan tensi konflik ini berlanjut dan jalur blokade dibuka, maka dalam jangka menengah tarif crude berpotensi normal kembali ke area US$ 60 hingga US$ 70 per barel.
Hadi memprediksi nilai keekonomian Pertamax sejatinya masih berada di kisaran Rp 17.400 per liter, dengan asumsi rata-rata harga Brent berada di kisaran US$ 95 sepanjang bulan Juni serta kurs di seputaran Rp 17.500 per dolar AS.
Jika harga crude mampu berbalik ke level US$ 70 per barel, peluang tarif Pertamax untuk menyusut ke kisaran Rp 12.800 dipastikan terbuka lebar, sebagaimana dilansir dari berita sumber:
"Daya beli sedang rendah, sehingga (penurunan harga BBM Subsidi) sangat membantu masyarakat luas. Tren harga minyak dunia akan menuju US$ 70 per barel, bahkan mungkin ke US$ 60 per barel. Artinya harga minyak akan kembali normal setelah nota perdamaian Iran vs AS berlanjut," tandas Hadi.