Strategi Saham Dividen Hadapi Pergerakan IHSG yang Tidak Stabil

Ilustrasi: Investor memantau saham dividen sebagai alternatif saat IHSG mengalami fluktuasi. (Gambar: NET)
Jumat, 03 Juli 2026 | 13:24:51 WIB

JAKARTA – Fluktuasi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belakangan ini kembali memperlihatkan bahwa siklus pasar saham memang sulit diprediksi. Menghadapi keadaan pasar yang dinamis tersebut, Teddy Wishadi selaku Direktur Retail Markets & Technology BNI Sekuritas menilai bahwa saham dividen dapat menjadi opsi yang lebih ramah bagi para investor pemula.

“Dividen adalah bagian laba perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham. Jadi investor tidak hanya bergantung pada kenaikan harga saham, tetapi juga mendapatkan penghasilan tunai secara berkala,” ujar Teddy sebagaimana dilansir dari berita sumber. 

Dirinya pun memaparkan bahwa saham dividen mampu memberikan dividen yield pada rentang 3–6 persen per tahun, sehingga para investor tetap memperoleh imbal hasil walaupun pergerakan harga saham sedang stagnan.

Melalui strategi ini, investasi pada saham dividen dinilai lebih gampang dimengerti lantaran tidak melulu bertumpu terhadap naik turunnya harga. Langkah tersebut sekaligus dapat meminimalkan tekanan psikologis para investor ketika menghadapi situasi pasar yang penuh ketidakpastian.

Kendati demikian, Teddy mewanti-wanti bahwa setiap saham dividen mempunyai karakteristik yang berbeda. “Ada emiten yang memiliki pembagian dividen relatif stabil karena rekam jejak bisnis yang solid serta arus kas yang sehat. 

Contohnya seperti BBNI, BBCA, BMRI, dan BBRI di sektor perbankan, serta Indofood CBP Sukses Makmur di sektor konsumsi,” jelas Teddy sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sebaliknya, emiten di sektor komoditas semisal Bukit Asam (PTBA) dan Indo Tambangraya Megah (ITMG) umumnya mempunyai tren dividen yang lebih fluktuatif lantaran mengekor siklus harga komoditas dunia. 

Sementara itu, Telkom Indonesia (TLKM) dinilai menempati posisi yang relatif seimbang berkat rekam jejak dividen yang konsisten sekaligus ditunjang potensi ekspansi bisnis jangka panjang.

Teddy juga mengimbau para investor pemula agar memahami alur serta mekanisme pembagian dividen, mulai dari fase cum date, ex-date, recording date, hingga payment date.

Cum date ialah batas hari terakhir bagi investor untuk membeli saham agar tetap berhak mendapatkan dividen yang dibagikan, sedangkan ketika sudah lewat atau masuk fase ex-date, investor yang baru membeli saham tersebut tidak lagi memperoleh hak dividen.

Selanjutnya, recording date merupakan waktu pencatatan nama-nama pemegang saham yang berhak, dan payment date menjadi hari H penyaluran dana dividen kepada investor. 

Periode pembagian dividen di tanah air biasanya berlangsung pasca diadakannya Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang puncaknya banyak digelar pada kurun Maret hingga Juni.

Oleh karena itu, rentang bulan April sampai Juli lazimnya menjadi momentum bagi banyak emiten untuk mempublikasikan dan membagikan dividen mereka. Teddy menguraikan bahwa para investor umumnya menerapkan dua taktik simpel, yakni strategi buy and hold pada saham-saham berfundamental kokoh serta memanfaatkan dividen yang didapat untuk diinvestasikan kembali guna menambah jumlah lembar saham secara berkala.

“Pendekatan ini membuat investor tidak terlalu bergantung pada pergerakan jangka pendek IHSG, sehingga lebih fokus pada kepemilikan jangka panjang,” tutur Teddy sebagaimana dilansir dari berita sumber. Ia berpendapat bahwa saham dividen memang tidak menghilangkan risiko investasi secara total, namun dapat menyokong investor dalam menyusun portofolio yang seimbang melalui perpaduan potensi keuntungan modal dan perputaran arus kas dari dividen.

Reporter: Gemilang Ramadhan