Ekonom Sebut Rupiah Menanti Arus Modal Asing di Pasar Obligasi

ILUSTRASI, Investor asing mulai kembali masuk ke pasar obligasi pemerintah Indonesia. (Sumber Gambar : Net)
Jumat, 03 Juli 2026 | 14:56:05 WIB

JAKARTA – Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai bahwa penurunan nilai tukar rupiah yang terus terjadi saat ini merupakan bagian dari dinamika penyesuaian di pasar keuangan, bukan mencerminkan kemunduran pada kondisi fundamental ekonomi domestik.

Menurut pandangannya, Indonesia saat ini telah memasuki masa stabilisasi setelah berbagai langkah kebijakan moneter serta pengelolaan likuiditas diimplementasikan oleh Bank Indonesia (BI). Pada sesi perdagangan Kamis (2/7/2026), nilai tukar mata uang rupiah ditutup melemah sebesar 43 poin ke level Rp 17.995 per dolar AS.

Fakhrul menjelaskan, indikator positif mulai terlihat dari kembalinya para investor asing ke sektor pasar surat utang atau obligasi negara dalam beberapa waktu terakhir. 

Situasi tersebut menunjukkan bahwa pasar mulai menghargai perubahan arah kebijakan yang diambil otoritas, terutama terkait pengelolaan likuiditas serta langkah memulihkan sistem pembentukan harga yang lebih sehat di sektor pasar obligasi.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, menurutnya, saat ini mulai terlihat sinyal yang positif. Investor asing telah kembali masuk ke pasar obligasi pemerintah dalam beberapa waktu terakhir.

“Hal ini menunjukkan bahwa pasar mulai mengapresiasi perubahan arah kebijakan yang dilakukan otoritas, terutama dalam pengelolaan likuiditas serta upaya mengembalikan mekanisme pembentukan harga yang lebih sehat di pasar obligasi," ujar Fakhrul dalam keterangannya, Kamis (2/7/2026).

Meskipun begitu, ia memberikan catatan bahwa proses pemulihan nilai rupiah tidak akan berlangsung secara instan. Saat ini, sektor pasar obligasi menjadi instrumen paling krusial bagi pergerakan mata uang Garuda karena berfungsi sebagai gerbang utama masuknya aliran modal portofolio dari luar negeri.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Fakhrul menjelaskan:

"Rupiah pada dasarnya sedang menunggu capital inflow yang lebih besar. Untuk menghasilkan arus masuk modal yang berkelanjutan, pasar obligasi Indonesia perlu menawarkan tingkat imbal hasil yang cukup menarik dibandingkan risiko global yang masih tinggi. Investor asing memang mulai kembali membeli obligasi Indonesia, namun menurut saya proses tersebut masih berada pada tahap awal," jelasnya.

Fakhrul berpandangan bahwa langkah BI dalam memperketat tata kelola likuiditas merupakan landasan yang tepat demi menjaga stabilitas nilai tukar. 

Di sisi lain, keberhasilan dari program tersebut juga membutuhkan dukungan dari kebijakan fiskal serta tata kelola surat utang negara yang berkesinambungan agar proses normalisasi di pasar obligasi dapat berjalan secara optimal.

Menurut dia, sektor pasar obligasi berfungsi sebagai jangkar utama untuk stabilitas mata uang rupiah. Sebelum rupiah mampu menguat secara berkesinambungan, pasar obligasi harus menyelesaikan proses penyesuaian harga (repricing) terlebih dahulu agar bisa memikat lebih banyak pemodal jangka panjang.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Fakhrul mengatakan:

"Pasar obligasi adalah jangkar utama stabilitas nilai tukar. Sebelum rupiah dapat menguat secara berkelanjutan, pasar obligasi terlebih dahulu perlu menyelesaikan proses repricing sehingga mampu menarik lebih banyak investor jangka panjang," katanya.

Fakhrul pun menegaskan pentingnya aspek sinergi antara pihak BI dan Kementerian Keuangan untuk menjaga konsistensi regulasi. 

Menurutnya, kedua lembaga tersebut dituntut memberikan ruang bagi terciptanya tingkat keuntungan (yield) obligasi yang mencerminkan situasi pasar riil, agar Indonesia kembali memiliki daya saing tinggi dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Fakhrul memaparkan:

"Konsistensi merupakan faktor yang sangat penting. Ketika Bank Indonesia telah memperketat likuiditas dan pasar mulai melakukan penyesuaian, maka proses tersebut perlu dijaga hingga selesai. Apabila terjadi inkonsistensi kebijakan yang kembali menahan kenaikan imbal hasil sebelum waktunya, maka proses masuknya investor asing dapat kembali tertunda dan hasil stabilisasi rupiah menjadi tidak optimal," ujarnya.

Fakhrul melihat bahwa Indonesia sekarang telah bergeser dari fase penuh tekanan menuju fase stabilisasi. Namun, masih ada satu tahapan krusial yang harus dilewati, yaitu meningkatnya volume aliran modal asing ke pasar obligasi negara agar mampu memperkuat keseimbangan pada sektor pasar valuta asing.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Fakhrul menekankan:

"Yang dibutuhkan saat ini bukan intervensi tambahan, melainkan konsistensi kebijakan. Ketika pasar melihat bahwa proses normalisasi benar-benar dijalankan secara konsisten oleh Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan, kepercayaan investor akan meningkat, capital inflow akan semakin besar, dan rupiah akan memperoleh fondasi yang jauh lebih kuat," katanya.

Ia menambahkan bahwa selama program tersebut berjalan, tingkat volatilitas rupiah masih tetap akan dipengaruhi oleh dinamika global, khususnya terkait ekspektasi atas kebijakan suku bunga acuan The Fed. 

Walau demikian, dilihat dari sisi domestik, landasan untuk stabilisasi dinilai mulai terbangun sehingga celah pelemahan rupiah menjadi kian terbatas jika dibandingkan dengan situasi beberapa bulan yang lalu.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Fakhrul menutup:

"Tantangan berikutnya bukan lagi menghentikan tekanan terhadap rupiah, tetapi membangun keyakinan investor bahwa proses normalisasi pasar obligasi akan dijalankan secara konsisten hingga Indonesia kembali menjadi salah satu tujuan utama investasi portofolio di kawasan. Ketika capital inflow kembali menguat, rupiah akan memperoleh dukungan yang jauh lebih kokoh dan proses stabilisasi akan semakin berkelanjutan," tutup Fakhrul.

Reporter: Gemilang Ramadhan