Harga CPO Naik 14,3 Persen, Saham Sawit Masih Prospektif
JAKARTA – Emiten crude palm oil (CPO) mencatat kinerja beragam pada semester I-2026. Astra Agro Lestari (AALI) tampil menonjol dengan lonjakan laba bersih 56,51 persen YoY menjadi Rp 1,09 triliun, sementara pendapatan naik 5,62 persen YoY ke Rp 15,25 triliun.
PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) juga mencatat pertumbuhan positif dengan pendapatan Rp 5,85 triliun (+6,33 persen YoY) dan laba bersih Rp 2,04 triliun (+20,43 persen YoY). PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) membukukan pendapatan Rp 6,29 triliun (+3,4 persen YoY) dan laba Rp 985,88 miliar (+7,8 persen YoY). Direktur Utama DSNG Andrianto Oetomo menyebut kenaikan volume penjualan dan ASP menjadi pendorong utama pertumbuhan laba.
PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) mencatat penjualan Rp 2,69 triliun (+15,87 persen YoY) dengan laba bersih Rp 890,99 miliar (+24,71 persen YoY).
Sebaliknya, emiten sawit Grup Haji Isam masih tertekan. PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) penjualan turun 13,6 persen YoY ke Rp 1,76 triliun, laba bersih terkoreksi 0,91 persen ke Rp 158,93 miliar. Anak usahanya, PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN), penjualan turun 20,82 persen ke Rp 304,98 miliar, laba bersih merosot 46,71 persen ke Rp 44,51 miliar.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, David Kurniawan, menilai stabilnya harga CPO global di level RM 4.629 per ton (+14,3 persen sejak awal tahun) dan kuatnya permintaan domestik melalui program biodiesel menjadi penopang utama industri. “Emiten dengan struktur biaya rendah dan pengelolaan usia tanaman yang baik, seperti TAPG dan LSIP, berpotensi mempertahankan margin keuntungan lebih kuat,” kata David sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Ester Mulyani, menambahkan AALI menjadi emiten dengan kinerja paling solid karena mampu meningkatkan margin meski produksi menurun. Ia memberi rekomendasi trading buy untuk AALI dengan target Rp 7.350–Rp 7.500 per saham, TAPG Rp 1.900–Rp 2.000, LSIP Rp 1.550–Rp 1.600, dan DSNG Rp 1.450–Rp 1.500.
Memasuki semester II-2026, analis menilai prospek emiten sawit masih positif seiring puncak musim panen, meski risiko El Niño, biaya pupuk, dan fluktuasi permintaan ekspor tetap perlu dicermati.