Harga Emas Naik Saat Dolar AS Melemah dan Minyak Anjlok

Ilusrasi emas dunia (FOTO: NET)
Penulis: Akbar
Selasa, 04 Agustus 2026 | 22:23:26 WIB

JAKARTA – Harga emas dunia mengalami penguatan pada sesi perdagangan Senin (3/8/2026) yang didorong oleh melemahnya dolar Amerika Serikat (AS) serta merosotnya harga minyak akibat peningkatan optimisme pasar terhadap potensi kesepakatan antara AS dan Iran. Situasi ini meredakan kekhawatiran terkait inflasi sekaligus menekan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.

Harga emas ditutup melonjak 0,31% menuju level US$ 4.055,25 per ons troi, sementara itu kontrak berjangka emas AS menguat 0,09% mencapai US$ 4.110,9 per ons troi. Sepanjang bulan Juli, pergerakan harga emas berhasil mencatatkan kenaikan sekitar 1%, yang menjadi tren kenaikan bulanan perdana dalam lima bulan terakhir.

Sentimen positif di pasar muncul usai harga minyak dunia merosot melebihi US$ 4 per barel. Penurunan harga komoditas tersebut dipicu oleh langkah Presiden AS Donald Trump yang menunda rencana serangan baru ke Iran demi mengupayakan kesepakatan guna menghentikan program nuklir Teheran serta membuka kembali Selat Hormuz.

Trump menyampaikan bahwa pembahasan bersama pihak Iran akan dilangsungkan pada hari Senin, meskipun belum menentukan tenggat waktu pasti untuk mencapai kesepakatan tersebut.

Analis UBS Giovanni Staunovo menjelaskan bahwa keterkaitan antara harga emas dan minyak kembali terlihat dengan jelas. Saat harga minyak mengalami penurunan, emas cenderung bergerak menguat karena para pelaku pasar menganggap tekanan inflasi mulai berkurang.

Menurut pandangannya, penurunan pada harga minyak meredam ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga The Fed tahun ini, yang pada akhirnya memberikan dukungan bagi penguatan harga emas.

Sebaliknya, melonjaknya harga minyak umumnya berpotensi meningkatkan risiko inflasi dan memaksa suku bunga bertahan di level tinggi, sehingga mengikis daya tarik emas yang tidak menawarkan imbal hasil.

Di sisi lain, nilai tukar dolar AS juga berada dalam tekanan dan terkoreksi ke level terendah sejak pertengahan Juni setelah otoritas Jepang melakukan intervensi pasar valuta asing guna menopang yen. Pelemahan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turut menambah daya tarik investasi pada emas.

Reporter: Akbar