Emas Menguat Jelang Data AS, Potensi Uji Resistance 4.202 US Dolar

Ilustrasi Harga emas dunia menguat 1,24 persen menjelang rilis data ekonomi AS. (sumber foto: NET)
Penulis: Ibtihal
Rabu, 05 Agustus 2026 | 21:47:14 WIB

JAKARTA – Harga emas dunia menguat pada perdagangan Rabu (5/8/2026), didorong permintaan safe haven seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik global. Berdasarkan data Kitco, harga emas di pasar spot naik 1,24 persen atau 50,40 poin ke 4.126,9 US dolar per troy ounce pada pukul 10.36 WIB.

Dalam risetnya, Dupoin Futures memperkirakan harga emas masih berpeluang menguat didukung sinyal teknikal. Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, mengatakan pola bullish pennant yang terbentuk pada grafik harian telah terkonfirmasi melalui breakout dari area konsolidasi. 

“Keberhasilan harga keluar dari fase konsolidasi menunjukkan buyer mulai mengambil alih kendali pasar sehingga peluang kenaikan masih terbuka apabila momentum positif tetap terjaga,” katanya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Selain itu, indikator Stochastic masih bergerak naik menuju area overbought. Meski mengindikasikan momentum beli kuat, pelaku pasar tetap perlu mewaspadai potensi koreksi jangka pendek. Indikator Moving Average (MA) 21 kini berfungsi sebagai dynamic support yang memperkuat struktur kenaikan harga emas.

Dupoin Futures memproyeksikan harga emas berpeluang menguji resistance di 4.135 US dolar sebagai target awal. 

“Kombinasi pola Bullish Pennant, breakout dari area konsolidasi, dukungan MA 21 sebagai dynamic support, serta momentum Stochastic yang masih menguat memberikan peluang harga bergerak menuju area 4.135 hingga 4.202 US dolar,” ujar Geraldo sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Dari sisi fundamental, arah pergerakan emas masih dipengaruhi sentimen geopolitik dan dolar AS. Laporan mengenai menipisnya stok rudal presisi jarak jauh milik Amerika Serikat akibat konflik dengan Iran meningkatkan minat investor terhadap emas. Namun, penguatan dolar AS berpotensi menahan laju harga emas karena membuat logam mulia lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.

Investor juga menantikan data ekonomi Amerika Serikat sebagai petunjuk arah kebijakan moneter The Fed. Data solid berpotensi memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama, sedangkan pelemahan data dapat membuka peluang pelonggaran kebijakan moneter yang menjadi sentimen positif bagi emas.

Reporter: Ibtihal