Rupiah Menguat Ditopang Lonjakan Arus Masuk Asing ke Aset Domestik

Ilustrasi Rupiah Menguat (FOTO : NET)
Penulis: Akbar
Jumat, 07 Agustus 2026 | 21:54:28 WIB

JAKARTA – Mata uang Rupiah Indonesia mengalami penguatan seiring maraknya arus modal asing yang masuk kembali ke pasar keuangan domestik. Kondisi ini secara efektif menghentikan tren aksi jual oleh investor luar negeri yang sempat berlangsung selama beberapa bulan.

Pasangan USD/IDR memangkas penguatan sebelumnya dan bergerak di kisaran 17.940 pada perdagangan sesi Asia hari Jumat. Perkembangan positif ini ditopang oleh derasnya aliran dana investor ke pasar saham serta obligasi pemerintah pada bulan Juli.

Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyampaikan bahwa dana asing sebesar 195 triliun Rupiah (sekitar US$0,7 miliar) telah masuk ke instrumen obligasi negara serta Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) hingga pekan lalu sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di sisi lain, posisi cadangan devisa Indonesia pada bulan Juli tercatat sedikit menyusut menjadi US$145,3 miliar dari bulan sebelumnya yang sebesar US$145,6 miliar. Penurunan ini terutama dipicu oleh kewajiban pembayaran utang luar negeri serta langkah intervensi pasar sentral demi menjaga stabilitas Rupiah.

Meskipun demikian, ketahanan cadangan devisa nasional masih berada pada tingkat yang sangat memadai. Angka tersebut setara dengan kebutuhan 5,5 bulan impor, atau 5,3 bulan impor beserta pembiayaan utang luar negeri, yang berada jauh di atas standar kriteria internasional sebesar tiga bulan.

Kalangan ekonom dari ING menilai bahwa pulihnya minat investor asing pada aset domestik mencerminkan optimisme pasar yang kian membaik. Mereka mencatat bahwa "partisipasi asing di pasar obligasi lokal Indonesia mulai pulih setelah keputusan suku bunga terbaru bersama dengan langkah-langkah terarah untuk menstabilkan rupiah," sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Walau begitu, pergerakan pasangan USD/IDR tetap berpotensi mengalami rebound imbas naiknya permintaan terhadap Dolar AS sebagai aset aman. Hal ini dipicu oleh eskalasi ketegangan politik dan keamanan yang kembali meningkat di kawasan Timur Tengah.

Kekhawatiran para pelaku pasar makin memuncak menyusul ketidakpastian terkait pembukaan kembali jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz.

Menurut laporan The Guardian, Arab Saudi berencana memperluas cakupan operasi militernya melawan kelompok Houthi di Yaman menyusul insiden serangan di wilayah Najran sebagaimana dilansir dari berita sumber. Pada saat yang sama, parlemen Iran tengah mengkaji usulan aturan penutupan jalur laut bagi kapal AS dan Israel serta pengenaan denda kargo sebesar 20 persen.

Dari ranah kebijakan moneter global, pejabat The Fed Musalem menyuarakan pandangan yang cenderung hawkish terkait potensi risiko inflasi. Ia mengingatkan bahwa ekspektasi inflasi berisiko terlepas dari jangkar meskipun saat ini masih mendekati sasaran 2 persen.

Ia menilai inflasi inti berpeluang tertahan di kisaran 2,5 persen hingga 3 persen, sehingga pengetatan suku bunga secara bertahap tetap diperlukan. Meski demikian, Musalem meyakini kondisi pasar tenaga kerja AS masih tetap solid.

Sementara itu, Indeks Sentimen Fed FXS tidak mengalami perubahan dan bertahan di level tinggi 138,69. Hal ini mengindikasikan bahwa arah retorika kebijakan The Fed secara umum masih konsisten berada dalam jalur pengetatan moneter.

Reporter: Akbar