Brent Sentuh 84,46 US Dolar, WTI 78,79 US Dolar per Barel

Ilustrasi Harga minyak Brent naik ke US$84,46 per barel di tengah ketidakpastian pembukaan Selat Hormuz. (sumber foto: NET)
Penulis: Ibtihal
Senin, 10 Agustus 2026 | 20:24:31 WIB

JAKARTA – Harga minyak mentah menguat pada Senin (10/8/2026) di tengah ketidakpastian kapan Selat Hormuz akan kembali dibuka.

Investor menilai risiko pasokan tetap tinggi meski Iran menyebut kesepakatan dengan Oman terkait jalur pelayaran sudah memasuki tahap akhir.

Harga Brent naik 91 sen atau 1,09 persen menjadi US$84,46 per barel, sementara WTI Amerika Serikat naik 61 sen atau 0,78 persen ke US$78,79 per barel.

Kenaikan terjadi setelah pekan lalu kedua acuan harga minyak anjlok lebih dari 7 persen akibat harapan pembukaan kembali Selat Hormuz.

Sebelum perang, sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati jalur tersebut, sehingga ketidakpastian pembukaan kembali meningkatkan kekhawatiran pasar.

Iran menyatakan kesepakatan dengan Oman sudah di tahap akhir, namun menegaskan pembukaan jalur bergantung pada syarat dari AS termasuk kompensasi atas serangan terhadap Iran.

Analis KCM Trade Tim Waterer mengatakan pelaku pasar menunggu bukti nyata sebelum mengurangi premi risiko. "Pedagang menunggu bukti nyata, seperti pergerakan kapal tanker yang terverifikasi atau kesepakatan formal," ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menegaskan Iran dan AS tidak melakukan pembicaraan, dan Teheran belum akan memulai negosiasi selama Washington dianggap melanggar kesepakatan sementara Juni.

Risiko pasokan meningkat setelah fasilitas minyak Arab Saudi dilaporkan diserang akhir pekan, dengan kelompok Houthi mengklaim menyerang kilang Jazan milik Saudi Aramco.

Serangan itu terjadi dua hari setelah Arab Saudi menandatangani pakta pertahanan dengan Turki dan Pakistan di tengah ketegangan kawasan akibat perang AS-Israel dengan Iran.

Gangguan pelayaran di Selat Hormuz juga berlanjut, dengan ADNOC UEA melaporkan 15 kapalnya diserang sejak konflik dimulai.

Pasar minyak masih menghadapi risiko pasokan meski ada sinyal diplomatik, dengan perkembangan negosiasi Iran, Oman, dan AS menjadi penentu arah harga selanjutnya.

Reporter: Ibtihal