Laba BUMI Melonjak 188 persen, Diversifikasi Emas dan Tembaga Jadi Katalis

Ilustrasi Laba BUMI semester I-2026 melonjak 188 persen didorong diversifikasi ke emas dan tembaga. (sumber foto: NET)
Penulis: Ibtihal
Selasa, 18 Agustus 2026 | 23:08:41 WIB

JAKARTA - Harga saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) melesat lebih dari 13 persen dalam sebulan terakhir.

Meski telah naik tinggi, analis rekomendasi beli saham grup Bakrie tersebut dengan target harga tinggi, mencapai Rp300.

Harga saham BUMI pada akhir perdagangan Jumat 14 Agustus 2026 Rp181 naik 3 poin atau 1,69 persen secara harian.

Selama perdagangan 30 hari terakhir, harga saham BUMI meningkat 22 poin atau 13,84 persen.

Di tengah tren kenaikan harga, analis rekomendasi beli saham BUMI karena memiliki prospek bisnis yang cerah.

Hal ini seiring ekspansi bisnis ke non batu bara.

Setelah lama bertumpu pada batu bara, emiten tambang tersebut kini mempercepat diversifikasi ke komoditas mineral, terutama emas dan tembaga.

Transformasi tersebut mulai terlihat dari kinerja BUMI pada semester I-2026.

Di tengah kenaikan biaya penambangan, perseroan mampu membukukan pertumbuhan pendapatan dan laba yang signifikan.

Kondisi tersebut membuat Samuel Sekuritas Indonesia mempertahankan rekomendasi buy untuk saham BUMI dengan target harga Rp300 per saham.

BUMI membukukan laba bersih US$35 juta pada kuartal II-2026.

Realisasi tersebut melonjak 43,7 persen secara quarter on quarter (QoQ) dan 1.266,2 persen secara year on year (YoY).

Dengan capaian tersebut, laba bersih BUMI sepanjang semester I-2026 mencapai US$59 juta atau tumbuh 188,4 persen YoY.

Capaian tersebut setara dengan sekitar 47,3 persen dari proyeksi Samuel Sekuritas dan 47,8 persen dari konsensus analis.

Dari sisi pendapatan, BUMI mencatatkan US$449 juta pada kuartal II-2026.

Angka tersebut meningkat 7,5 persen QoQ dan 36,4 persen YoY.

Alhasil, pendapatan semester I-2026 mencapai US$867 juta, tumbuh 27,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Angka semester I tersebut juga konsisten dengan laporan riset pasar yang dirilis pada awal Agustus.

Pertumbuhan pendapatan ditopang kenaikan volume batu bara Arutmin sebesar 29,6 persen YoY serta peningkatan average selling price (ASP) sebesar 17,5 persen YoY.

Pada kuartal II-2026, penjualan batu bara BUMI mencapai 19,8 juta ton, naik 3,1 persen QoQ.

ASP batu bara juga meningkat menjadi US$67,1 per ton atau naik 14,5 persen QoQ.

Meski pendapatan dan laba tumbuh kuat, BUMI belum sepenuhnya terbebas dari tekanan biaya.

Kenaikan harga bahan bakar membuat biaya penambangan (mining costs) meningkat menjadi US$8,3 per mbcm.

Biaya tersebut naik 18,3 persen QoQ dan 64,6 persen YoY.

Kenaikan biaya tersebut berpotensi menekan margin perseroan.

Namun, Samuel Sekuritas menilai tekanan tersebut masih dapat diimbangi oleh pertumbuhan volume produksi dan kenaikan harga jual batu bara.

Jika harga bahan bakar mulai turun pada kuartal berikutnya, biaya tunai (cash cost) BUMI berpeluang ikut menurun.

Kondisi itu dapat memberikan ruang bagi pemulihan margin perseroan.

Daya tarik BUMI kini tidak hanya berasal dari bisnis batu bara.

Perseroan sedang menjalankan strategi diversifikasi melalui pengembangan aset mineral di Australia.

Salah satu aset penting tersebut adalah Wolfram Limited, perusahaan tambang tembaga dan emas yang telah mulai beroperasi.

Berdasarkan laporan tahunan BUMI, Wolfram mulai melakukan penambangan pada April 2026 dan ditargetkan menghasilkan sekitar 12.000-15.000 ton setara tembaga sepanjang 2026.

Wolfram mengembangkan proyek Mt Carlton di Queensland, Australia.

BUMI juga telah memiliki perjanjian offtake dengan Glencore untuk seluruh produksi dari operasi Mt Carlton selama tujuh tahun.

Bagi Samuel Sekuritas, peningkatan produksi Wolfram menjadi salah satu katalis penting BUMI pada semester II-2026.

Produksi berpotensi meningkat seiring peralihan pengolahan dari stockpile menuju bijih hasil penambangan (mined ore).

Jika kadar mineral yang diproses membaik, kontribusi bisnis mineral terhadap kinerja BUMI juga berpeluang meningkat.

Selain Wolfram, BUMI juga memperluas portofolio mineral melalui rencana akuisisi Loyal Metals Ltd., perusahaan tambang asal Australia.

BUMI telah menandatangani perjanjian untuk mengambil alih 100 persen saham Loyal Metals dengan nilai sekitar A$79,1 juta.

Transaksi tersebut mencakup sejumlah tahapan korporasi dan dijadwalkan memasuki tahap implementasi pada pertengahan hingga akhir Agustus 2026, bergantung pada pemenuhan sejumlah persyaratan transaksi.

Loyal Metals memiliki proyek Highway Reward dan Big Magpie di Queensland, Australia.

Akuisisi tersebut memperluas eksposur BUMI terhadap komoditas tembaga dan emas.

Dengan demikian, diversifikasi BUMI bukan sekadar rencana jangka panjang.

Perseroan sudah mulai membangun portofolio aset mineral yang diharapkan dapat menjadi sumber pertumbuhan baru.

Selain aset mineral yang dikembangkan langsung, BUMI juga memiliki eksposur terhadap bisnis emas melalui PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS).

Samuel Sekuritas melihat pemulihan kinerja BRMS sebagai salah satu katalis yang patut diperhatikan investor.

Harga emas memang mengalami koreksi dari rata-rata kuartal II-2026.

Namun, harga emas yang tetap berada pada level tinggi masih memberikan dukungan terhadap prospek bisnis mineral BUMI dan BRMS.

Meski tengah mengembangkan bisnis mineral, BUMI belum meninggalkan batu bara.

Perseroan terus meningkatkan efisiensi operasional untuk mempertahankan volume produksi.

Penggunaan conveyor belt menjadi salah satu upaya untuk menjaga kelancaran aktivitas tambang.

Samuel Sekuritas juga melihat potensi fenomena El Niño sebagai faktor yang dapat memberikan sentimen positif terhadap harga batu bara.

Jika harga batu bara mampu bertahan sementara harga bahan bakar mulai turun, margin BUMI berpeluang membaik pada kuartal berikutnya.

Di balik prospek tersebut, investor tetap perlu memperhatikan sejumlah risiko.

Samuel Sekuritas melihat potensi penurunan harga batu bara dalam jangka pendek setelah penyesuaian RKAB pada Juli 2026.

Risiko lainnya berasal dari kemungkinan keterlambatan penyelesaian akuisisi Loyal Metals, proses ramp-up Wolfram yang lebih lambat dari perkiraan, serta koreksi harga emas global.

Dari sisi valuasi, saham BUMI juga tergolong premium dibandingkan sejumlah emiten batu bara.

Berdasarkan proyeksi 2026, BUMI memiliki PER sekitar 16,9 kali dan EV/EBITDA 17,5 kali.

Sebagai pembanding, AADI memiliki PER 4,6 kali dan EV/EBITDA 3,3 kali, ITMG masing-masing 7,1 kali dan 2,6 kali, sedangkan PTBA sebesar 6,7 kali dan 4,1 kali.

Namun, Samuel Sekuritas menilai premi tersebut perlu dilihat dalam konteks transformasi bisnis BUMI.

Pada perdagangan Jumat (14/8/2026), saham BUMI ditutup naik 1,69 persen menjadi Rp181 per saham.

Dengan target Samuel Sekuritas Rp300, masih terdapat ruang kenaikan yang cukup besar dari posisi tersebut.

Konsensus analis bahkan menempatkan target harga BUMI di sekitar Rp371,3 per saham.

Bagi Samuel Sekuritas, daya tarik BUMI ke depan bukan hanya ditentukan oleh kinerja batu bara.

Pertumbuhan volume, potensi penurunan biaya bahan bakar, produksi Wolfram, akuisisi Loyal Metals, serta ekspansi bisnis mineral menjadi kombinasi katalis yang membuat prospek BUMI semakin beragam.

Dengan pertimbangan tersebut, Samuel Sekuritas mempertahankan rekomendasi BUY saham BUMI dengan target harga Rp300 per saham.

Reporter: Ibtihal