FTSE Russell Soroti Saham HSC, IPO Indonesia Belum Bisa Masuk Indeks
JAKARTA – Penyedia indeks global FTSE Russell kembali memperpanjang pembatasan terhadap sejumlah perubahan indeks saham Indonesia hingga akhir 2026.
Keputusan tersebut melanjutkan kebijakan yang sebelumnya diumumkan pada Februari dan diperbarui dalam review Juni 2026.
Dengan kebijakan terbaru itu, FTSE Russell masih menerapkan pembatasan dalam review September 2026. Langkah tersebut diambil untuk memberikan waktu lebih panjang dalam menilai efektivitas reformasi pasar modal Indonesia.
"FTSE Russell terus memantau perkembangan pasar dan tetap melakukan komunikasi secara berkelanjutan dengan para pemangku kepentingan terkait sebagai bagian dari proses penilaian terhadap perlakuan indeks untuk saham-saham yang tercatat di Indonesia," tulis FTSE Russell dalam pengumumannya pada Selasa (18/8/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.
FTSE Russell mengakui sejumlah langkah yang dilakukan regulator Indonesia untuk meningkatkan transparansi pasar modal.
Reformasi tersebut melibatkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).
Sejumlah langkah yang mendapat perhatian FTSE Russell meliputi penyediaan data kepemilikan saham di atas 1%, publikasi daftar High Shareholding Concentration (HSC), serta pengembangan klasifikasi investor yang lebih beragam.
FTSE Russell sebelumnya menyatakan reformasi tersebut menjadi bagian dari pertimbangan dalam menentukan perlakuan terhadap saham-saham Indonesia. Namun, penyedia indeks global itu masih membutuhkan waktu untuk memantau implementasi dan dampaknya terhadap pasar.
Dalam kebijakan yang masih berlaku, FTSE Russell belum sepenuhnya mengembalikan berbagai perubahan indeks saham Indonesia.
Salah satunya adalah penambahan saham baru, termasuk saham hasil initial public offering (IPO). Kenaikan segmen kapitalisasi, peningkatan free float, serta perubahan Weight Adjustment Factor (WAF) juga masih ditahan hingga Desember 2026.
Kebijakan tersebut memberikan waktu bagi FTSE Russell untuk mengamati apakah reformasi regulator mampu menghasilkan data kepemilikan dan free float yang lebih transparan serta dapat digunakan secara konsisten.
Pada pengumuman Mei 2026, FTSE Russell menyatakan akan menunda full index re-ranking, peningkatan free float, dan penambahan IPO setidaknya hingga review September 2026.
Selain menahan sejumlah perubahan indeks, FTSE Russell memperketat perlakuan terhadap saham yang masuk kategori High Shareholding Concentration atau HSC.
Dalam panduan FTSE Russell, apabila perusahaan menerima peringatan resmi dari regulator terkait tingginya konsentrasi kepemilikan saham oleh sejumlah pemegang saham, saham tersebut dapat dihapus dari indeks pada review berikutnya.
Kebijakan tersebut telah diterapkan. Pada review Juni 2026, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dihapus dari FTSE Global Equity Index Series (GEIS) Large Cap karena persoalan High Shareholding Concentration.
FTSE Russell menyatakan akan memantau likuiditas saham yang terdampak HSC untuk memastikan proses penghapusan dari indeks dapat dilakukan secara wajar di pasar.
Kondisi tersebut menjadi perhatian investor karena perubahan indeks FTSE Russell dapat memengaruhi aliran dana dari investor yang menggunakan indeks tersebut sebagai acuan investasi.
FTSE Russell menegaskan akan terus memantau perkembangan pasar modal Indonesia dan berdiskusi dengan para pemangku kepentingan, termasuk regulator.
Keputusan berikutnya akan bergantung pada hasil pemantauan terhadap reformasi pasar modal yang sedang berjalan.
"FTSE Russell akan mempertimbangkan keputusan lebih lanjut terkait perlakuan indeks, termasuk kemungkinan kembali menerapkan perubahan indeks secara penuh, menjelang tinjauan indeks Desember 2026," ujar FTSE Russell, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Dengan demikian, pasar saham Indonesia masih menghadapi periode pembatasan dalam beberapa bulan ke depan.
Bagi emiten dan investor, perkembangan reformasi terkait transparansi kepemilikan, free float, serta penanganan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi akan menjadi faktor penting yang perlu dicermati hingga review Desember 2026.
FTSE Russell menunda penambahan saham baru, IPO, kenaikan free float, dan sejumlah perubahan indeks Indonesia hingga review Desember 2026, tetapi tetap menjalankan perubahan yang dapat mengurangi bobot atau menghapus saham tertentu.