BI Rate Ditahan 5,75 Persen, Rupiah Masih Rentan Melemah

Ilustrasi nilai tukar rupiah (FOTO : NET)
Penulis: Akbar
Rabu, 19 Agustus 2026 | 01:47:42 WIB

JAKARTA – Pergerakan nilai tukar rupiah diproyeksikan bakal tertahan usai Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menahan suku bunga acuan (BI-Rate) pada level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Agustus 2026.

Yusuf Rendy Manilet selaku Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) menilai bahwa penetapan suku bunga acuan oleh BI telah sesuai dengan proyeksi pasar. Hal tersebut membuat pergerakan rupiah dalam jangka pendek diprediksi tidak akan berfluktuasi terlalu tajam.

Berdasarkan data Bloomberg pada Rabu (19/8/2026), nilai tukar rupiah di pasar spot menguat 0,12 persen ke level Rp 17.840 per dolar Amerika Serikat (AS). Pada hari sebelumnya, mata uang Garuda ditutup pada posisi Rp 17.862 per dolar AS.

“Dengan posisi rupiah di sekitar Rp 17.830 hingga Rp 17.860 per dolar AS, BI masih memiliki ruang untuk membiarkan transmisi kenaikan suku bunga sebelumnya bekerja tanpa menambah tekanan pada biaya pendanaan sektor riil,” ujar Yusuf sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Oleh sebab itu, penanganan stabilitas kurs rupiah oleh BI dinilai lebih difokuskan melalui instrumen non-suku bunga.

Meskipun demikian, Yusuf memandang bahwa mata uang domestik masih menghadapi tekanan yang signifikan. Langkah intervensi di pasar spot, NDF, DNDF, optimalisasi SRBI, hingga perluasan fasilitas lindung nilai bagi investor asing terus dijalankan oleh BI.

Risiko eksternal juga turut membayangi pergerakan nilai tukar. Melonjaknya harga minyak akibat konflik Timur Tengah, tingginya yield obligasi AS, serta ketidakpastian arah kebijakan The Fed menjadi pemicunya.

Di sisi domestik, faktor penekan rupiah berasal dari penurunan kinerja neraca eksternal, keterbatasan cadangan devisa, serta tingginya ketergantungan pada modal portofolio.

“Artinya, meskipun rupiah sudah kembali di bawah Rp 18.000, ruang volatilitasnya masih cukup besar,” jelasnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Yusuf memperkirakan mata uang garuda berada di kisaran Rp 17.500 hingga Rp 18.000 per dolar AS sampai akhir 2026, meski dalam jangka pendek cenderung bergerak sideways. Penguatan secara moderat berpotensi terjadi di kuartal IV 2026 jika arus modal membaik serta harga komoditas stabil.

Di samping itu, potensi rupiah melemah melebihi Rp 18.000 per dolar AS tetap ada apabila ketegangan geopolitik memanas atau kinerja eksternal memburuk.

"Jadi, penguatan rupiah saat ini belum bisa disebut sebagai perubahan struktural karena masih cukup bergantung pada sentimen dan arus modal," kata Yusuf sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Dalam menghadapi gejolak nilai tukar, Yusuf menyarankan pelaku pasar untuk tidak mengambil langkah agresif pada kepemilikan valuta asing.

Ia menilai mata uang dolar AS masih layak dijadikan instrumen lindung nilai dan diversifikasi karena sifatnya sebagai aset safe haven, tetapi pengumpulannya perlu dilakukan secara bertahap.

Selain valuta asing, aset emas dapat dijadikan alternatif diversifikasi portofolio investasi terutama jika dinamika global kembali memanas.

Reporter: Akbar