Proyeksi Harga CPO Malaysia Tetap Kuat di Atas 4.600 Ringgit per Ton

Ilustrasi minyak sawit (FOTO : NET)
Penulis: Akbar
Rabu, 19 Agustus 2026 | 01:47:42 WIB

JAKARTA – Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) Malaysia diproyeksikan tetap kokoh di atas 4.600 ringgit atau sekitar US$ 1.133,56 per metrik ton pada September 2026. Proyeksi ini disampaikan oleh Malaysian Palm Oil Council (MPOC) pada Rabu (19/8), seiring pasokan yang kian menipis dan adanya gangguan pada jalur perdagangan global yang berpotensi mendorong permintaan minyak sawit.

MPOC memprediksi produksi tahunan minyak sawit Malaysia bakal melandai pada kuartal IV 2026. Padahal secara historis, puncaknya produksi lazimnya terjadi pada September atau Oktober.

Di luar faktor produksi, tingkat ekstraksi minyak (oil extraction rate/OER) turut menjadi perhatian utama. Pada Januari-Mei, OER sempat melampaui rata-rata 10 tahun berkat kondisi curah hujan yang mendukung sekitar enam bulan sebelumnya.

Akan tetapi, angka ekstraksi tersebut merosot tajam pada Juni dan Juli. MPOC memperkirakan OER bakal terus berada di bawah angka rata-rata sepanjang sisa tahun ini.

MPOC turut menyoroti gangguan pelayaran di beberapa titik perdagangan strategis, seperti Selat Bab al-Mandeb, Laut Merah, dan Selat Hormuz. Hambatan tersebut diprediksi bakal memengaruhi kelancaran arus perdagangan minyak nabati dunia.

Di wilayah Laut Hitam, aktivitas di beberapa pelabuhan utama serta fasilitas pemrosesan biji minyak dihentikan menyusul eskalasi konflik Rusia-Ukraina.

Kondisi ini semakin menambah ketidakpastian pasokan ekspor minyak bunga matahari dalam jangka waktu satu hingga dua bulan mendatang. MPOC menyatakan hambatan tersebut mulai mengalihkan permintaan minyak nabati di beberapa negara importir utama, termasuk India, menuju minyak sawit.

"Gangguan ini menggeser permintaan minyak nabati di pasar importir utama seperti India ke minyak sawit, terutama menjelang musim perayaan," kata MPOC dalam keterangannya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di samping persoalan pasokan, pergerakan harga CPO turut ditopang oleh menguatnya keekonomian biodiesel, khususnya di Indonesia.

Kendati prospek harga cenderung positif, MPOC memperingatkan adanya sejumlah risiko penekanan harga CPO. Potensi risiko itu meliputi berkurangnya kendala distribusi di Laut Hitam, masuknya pasokan minyak bunga matahari dari panen teranyar ke pasar ekspor, hingga meredanya ketegangan geopolitik yang dapat menekan harga energi.

Kelesuan harga energi berpotensi mengikis daya tarik minyak nabati sebagai bahan baku biodiesel, yang pada akhirnya menekan permintaan terhadap CPO.

Sebagai perbandingan, harga CPO Malaysia terakhir berada di posisi 4.860 ringgit per ton pada Selasa (18/8/2026).

Melihat potensi pengetatan pasokan dan gangguan perdagangan global yang belum usai, MPOC menilai harga CPO berpeluang besar menjaga posisinya di level tinggi hingga September.

Reporter: Akbar