JAKARTA – Mayoritas pasar saham negara berkembang di wilayah Asia mengalami pelemahan akibat tertekan oleh lonjakan harga minyak bumi serta peningkatan imbal hasil obligasi global yang memicu penurunan minat investor pada aset berisiko. Bursa saham Korea Selatan menjadi pasar yang menderita penurunan paling dalam.
Indeks saham MSCI Emerging Asia tercatat merosot 2,1 persen yang mengekor tren pelemahan Wall Street pada sesi perdagangan sebelumnya.
Kondisi pasar turut dibebani oleh imbal hasil obligasi US Treasury tenor 30 tahun yang sempat menyentuh level tertinggi dalam kurun hampir dua dekade. Peningkatan imbal hasil global tersebut umumnya memberi tekanan pada aset negara berkembang karena instrumen obligasi negara maju menjadi kian memikat bagi para pemodal.
Di sisi lain, harga minyak mentah yang bertahan di atas US$90 per barel memperbesar risiko inflasi sekaligus membengkakkan biaya impor bagi negara-negara Asia yang memiliki ketergantungan pada energi impor.
"Minyak di atas US$90 dan kenaikan yield negara maju menciptakan tekanan ganda bagi negara berkembang yang mengimpor minyak. Tagihan impor yang lebih tinggi melemahkan mata uang dan meningkatkan inflasi, sementara yield global yang lebih tinggi meningkatkan biaya pendanaan dan menarik modal ke pasar negara maju," ujar Glenn Yin, Director of Research ACCM sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Menurutnya, situasi tersebut menghimpit valuasi serta margin korporasi, khususnya di negara pengimpor energi, kecuali jika pertumbuhan ekonomi beserta kinerja laba tetap membukukan hasil kuat sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Korea Selatan tercatat menjadi pasar dengan tingkat tekanan terparah. Indeks KOSPI anjlok 5,7 persen menuju posisi terendah dalam kurun sepekan.
Pergerakan saham emiten semikonduktor turut menjadi penekan utama. Saham Samsung Electronics terkoreksi hingga 8 persen, sedangkan SK Hynix meluncur turun mencapai 9,7 persen.
Pada bursa Taiwan, indeks saham utama melemah 1,3 persen di mana Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) mencatatkan penurunan sampai 1,9 persen.
Tren pelemahan turut melanda berbagai pasar saham Asia lainnya. Indeks saham Filipina merosot 1,8 persen menuju level terendah dalam durasi sekitar satu setengah bulan, sementara bursa Singapura dan Thailand sama-sama terkoreksi 0,4 persen.
Di sektor pasar valuta asing, indeks mata uang negara berkembang MSCI menguat tipis 0,2 persen. Won Korea Selatan tercatat naik 0,9 persen dan berpeluang memperpanjang tren penguatan selama tiga sesi beruntun.
Dolar Taiwan menguat 0,2 persen dan dolar Singapura merangkak naik 0,1 persen. Sebaliknya, peso Filipina melemah sebesar 0,3 persen hingga ke level terendah sepanjang sejarah di posisi 61,952 per dolar AS, serta ringgit Malaysia terkikis 0,1 persen.
Pasar Indonesia turut menjadi salah satu titik perhatian investor. Para pelaku pasar sedang menunggu keputusan Bank Indonesia (BI) mengenai arah suku bunga acuan.
BI diproyeksikan bakal mempertahankan BI-Rate pada level 5,75 persen, kendati mata uang rupiah sempat berada dalam tekanan hingga memicu bank sentral menggelar rapat mendadak dan melakukan intervensi di pasar.
Spekulasi atas pengetatan suku bunga sempat mencuat tatkala rupiah mendekati titik terendah sepanjang sejarah pascamundurnya mantan Gubernur BI Perry Warjiyo. Situasi tersebut memperbesar kekhawatiran atas potensi terjadinya arus modal keluar.
Tekanan pada aset Indonesia juga dipicu oleh risiko penurunan status klasifikasi pasar saham domestik menjadi frontier market setelah MSCI memberikan sorotan terhadap isu aksesibilitas serta transparansi pasar.
Pada perdagangan bursa saham, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan penurunan sekitar 25,8 persen sepanjang tahun berjalan, sedangkan mata uang rupiah bergerak menguat tipis 0,1 persen.
Perpaduan antara tingginya harga minyak, kenaikan imbal hasil obligasi global, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter AS berpotensi mendorong investor menjadi kian selektif terhadap aset-aset di negara berkembang, termasuk Indonesia.