IBMA Jadi Katalis Emiten Emas, Cek Rekomendasi ANTM hingga BRMS

Ilustrasi IBMA resmi diluncurkan pada 20 Agustus 2026 dengan anggota dari berbagai sektor emas. (sumber foto: NET)
Penulis: Ibtihal
Senin, 24 Agustus 2026 | 22:27:57 WIB

JAKARTA – Pembentukan Indonesia Bullion Market Association (IBMA) dinilai dapat menjadi katalis positif bagi sejumlah emiten yang memiliki bisnis terkait emas.

IBMA resmi diluncurkan pada Kamis (20/8/2026) dengan anggota yang mencakup pelaku usaha pertambangan emas, manufaktur, perdagangan emas batangan, perusahaan pembiayaan, dan lembaga keuangan non-bank.

Sejumlah entitas yang telah bergabung meliputi PT Pegadaian, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS), PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA), UBS Gold, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), Galeri 24, Brinks Solution Indonesia, ICDX Group, PT Central Mega Kencana, PT Sentral Kreasi Kencana, dan PT Laku Emas Indonesia.

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Arinda Izzaty mengatakan, kehadiran IBMA berpotensi memberikan dampak positif bagi emiten emas. Namun, manfaatnya diperkirakan lebih terasa dalam jangka menengah hingga panjang.

Menurut Arinda, IBMA dapat membantu membangun ekosistem bullion domestik yang lebih terintegrasi, transparan, dan efisien. Ekosistem tersebut mencakup rantai bisnis dari hulu hingga hilir, termasuk standardisasi serta pertemuan antara produsen, manufaktur, pedagang, bullion bank, dan investor.

Dalam jangka panjang, IBMA berpotensi meningkatkan permintaan emas karena akses masyarakat dan institusi terhadap berbagai produk emas semakin luas.

Namun, keberadaan IBMA tidak secara langsung meningkatkan produksi tambang emas. Dampak yang lebih besar bagi emiten sektor hulu akan terjadi jika kenaikan permintaan bullion diterjemahkan menjadi peningkatan penyerapan emas dari produsen tambang.

Sejumlah emiten di sektor hulu yang berpotensi memperoleh manfaat antara lain BRMS, ARCI, PSAB, AMMN, MDKA, dan EMAS.

Di sektor hilir, ANTM dan HRTA dinilai relatif menarik karena memiliki eksposur terhadap bisnis pemurnian, manufaktur, dan distribusi emas.

"Bahkan, BSI sebagai bullion bank telah mencatat emas kelolaan 24,01 ton per Juni 2026, menunjukkan bahwa ekosistem ini mulai menghasilkan permintaan riil," kata Arinda, Jumat (21/8/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Managing Director of Research Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su juga menilai kehadiran IBMA menjadi sentimen positif bagi emiten emas.

Menurut Harry, IBMA dapat memperkuat ekosistem bullion domestik sekaligus mendorong permintaan investasi emas dalam jangka panjang.

Ia menilai HRTA dan ANTM berpotensi menjadi emiten yang paling diuntungkan di segmen hilir. Sementara itu, BRMS dan AMMN berpeluang memperoleh manfaat dari sisi produksi.

Harry mengatakan emiten emas perlu meningkatkan kerja sama dengan bullion bank seiring terbentuknya ekosistem IBMA.

Perusahaan juga perlu memperkuat kapasitas pemurnian atau refinery, sertifikasi, penelusuran produk, serta jaringan distribusi emas. Langkah tersebut penting agar emiten dapat menangkap peluang pertumbuhan permintaan emas domestik.

Arinda menyebut kerja sama dengan bullion bank seperti BSI, Pegadaian, dan institusi terkait dapat membuka sejumlah peluang.

Peluang tersebut meliputi pembiayaan berbasis emas, penyerapan produksi emas, perdagangan bullion, serta pengembangan produk investasi.

Emiten juga perlu memperkuat kontrak penjualan jangka panjang, meningkatkan kapasitas pemurnian dan manufaktur, memperluas jaringan distribusi emas batangan serta produk digital, serta memastikan standar kemurnian dan penelusuran memenuhi ketentuan pasar bullion.

Dengan strategi tersebut, emiten tidak hanya bergantung pada pergerakan harga emas global. Perusahaan juga berpeluang memperoleh akses lebih langsung kepada konsumen ritel dan institusi.

"Bagi HRTA dan ANTM, strategi hilirisasi dan perluasan distribusi menjadi sangat penting, sedangkan bagi produsen tambang seperti BRMS, ARCI, PSAB, AMMN dan MDKA, kepastian offtake dan peningkatan produksi menjadi kunci," terang Arinda, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Meski IBMA menjadi katalis baru bagi industri emas domestik, sentimen utama terhadap saham emiten emas tetap berasal dari pasar global.

Faktor yang perlu diperhatikan investor meliputi volatilitas harga emas, arah suku bunga The Fed, pergerakan dolar AS, kondisi geopolitik global, pembelian emas oleh bank sentral, serta nilai tukar rupiah.

Harga emas yang tinggi dapat menjadi katalis positif bagi produsen karena berpotensi meningkatkan average selling price atau ASP dan margin.

Namun, dampaknya berbeda bagi setiap emiten karena bergantung pada biaya produksi dan volume produksi masing-masing perusahaan.

Dengan mempertimbangkan prospek tersebut, Arinda menyebut tiga saham yang dapat dicermati investor, yaitu ANTM, HRTA, dan BRMS.

Ia memberikan target harga Rp 4.500 per saham untuk ANTM, Rp 2.900 per saham untuk HRTA, dan Rp 830 per saham untuk BRMS.

Sementara itu, Harry merekomendasikan beli saham ANTM dengan target harga Rp 4.600 per saham. Rekomendasi tersebut didukung eksposur ANTM terhadap bisnis emas dari hulu hingga hilir.

Harry juga merekomendasikan beli saham BRMS dengan target harga Rp 900 per saham. Menurutnya, BRMS memiliki leverage lebih tinggi terhadap pertumbuhan produksi dan kenaikan harga emas.

Peluncuran IBMA berpotensi memperkuat ekosistem emas domestik dan membuka peluang pertumbuhan bagi emiten di sepanjang rantai industri. Namun, investor tetap perlu memperhatikan perkembangan harga emas global dan faktor makroekonomi yang dapat memengaruhi kinerja saham sektor tersebut.

Reporter: Ibtihal