Emiten Komoditas Bernapas Lega, Risiko Regulasi Bergeser ke Teknis

Ilustrasi PT Danantara Sumberdaya Indonesia fokus mengawal ekspor batubara, CPO, dan ferroalloy senilai hampir US$70 miliar. (sumber foto: NET)
Penulis: Ibtihal
Kamis, 27 Agustus 2026 | 21:55:07 WIB

JAKARTA – Emiten komoditas mulai mendapat kepastian setelah peran PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) semakin jelas. 

Lembaga ini akan fokus mengawal ekspor tiga komoditas strategis yaitu batubara, CPO, dan ferroalloy, dengan nilai ekspor total mendekati US$70 miliar.

CEO Danantara Indonesia Rosan Perkasa Roeslani menegaskan DSI tidak mengubah fungsi perizinan maupun pengawasan K/L terkait, melainkan memperkuat titik verifikasi berbasis data transaksi ekspor. Selain itu, DSI menyiapkan Exporter Portal yang akan diluncurkan pada 1 September 2026.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menilai kejelasan fungsi DSI mengurangi ketidakpastian, meski risiko regulasi bergeser ke eksekusi teknis. Ia menekankan emiten CPO lebih rentan karena harga acuan yang volatile.

“Risiko regulasi belum hilang, hanya bergeser dari risiko arah kebijakan menjadi risiko eksekusi teknis,” ujarnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Managing Director Research Samuel Sekuritas Harry Su menambahkan, kehadiran DSI bisa meningkatkan transparansi ekspor dan kepastian regulasi, meski dampaknya terhadap kinerja emiten terbatas.

“Investor tetap perlu mencermati implementasi DSI agar tidak berkembang menjadi regulasi tambahan yang membatasi ekspor atau menekan margin,” ungkapnya.

Abida menyebut tiga strategi penting bagi emiten komoditas:

  • Sinkronisasi sistem pelaporan dengan platform DSI sejak awal.
  • Renegosiasi kontrak jangka panjang agar harga jual tetap kompetitif.
  • Diversifikasi pasar ekspor dan hilirisasi untuk mengurangi ketergantungan distribusi.

Harry Su merekomendasikan beberapa saham komoditas dengan fundamental solid:

  • Batubara: PTBA dan AADI, ditopang biaya produksi kompetitif dan dividen atraktif.
  • CPO: BWPT, didorong pertumbuhan operasional yang menopang pendapatan.
  • Ferroalloy/Feronikel: NCKL dan ANTM, dengan biaya produksi rendah dan kinerja operasional kuat.

Reporter: Ibtihal